Topikseru.com -Sumatera Utara bukan hanya tentang Danau Toba, kuliner khas, atau hiruk-pikuk Kota Medan.
Di balik perkembangan kota dan kawasan wisata yang semakin ramai, masih ada desa dan kampung yang menyimpan tradisi serta cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagian tradisi bahkan masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang. Ada anak muda yang melompati batu, kampung yang mempertahankan tarian dan upacara adat, hingga kawasan di Kota Medan yang masih menyimpan jejak kuat budaya Melayu Deli.Berikut beberapa di antaranya.
Baca Juga:
Labuhan Deli dahulu merupakan salah satu pusat perdagangan dan pelabuhan penting Kesultanan Deli.
Letaknya di kawasan hilir Sungai Deli membuat wilayah ini menjadi jalur perdagangan berbagai komoditas sekaligus tempat bertemunya masyarakat dari latar belakang berbeda.
Jejak Melayu, Tionghoa, dan kolonial masih dapat ditemukan dalam lanskap kawasan tersebut. (detikcom)Tradisi Melayu Deli pun belum sepenuhnya hilang dari kehidupan masyarakat.
Pada 2026, misalnya, prosesi Julang Adat kembali ditampilkan di Kota Medan dalam kegiatan sunatan massal. Anak-anak diarak dengan cara dipanggul di atas pundak ayah atau kerabat laki-laki, diiringi rebana, balai adat, dulang juadah, serta atraksi silat Melayu.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya lama tidak selalu hanya tersimpan di museum. Di tengah kota yang semakin modern, sebagian warisan adat masih dapat muncul dalam kegiatan masyarakat.
Desa ini menarik bukan hanya karena suasana alamnya, tetapi juga karena sejarah dan budaya Karo yang masih dipertahankan.
Buluh Awar dikenal memiliki hubungan erat dengan sejarah penginjilan pertama bagi masyarakat Karo.
Selain itu, masyarakatnya masih menjaga tradisi kerja tahun, sebuah kegiatan tahunan yang menjadi ruang berkumpul dan mempererat hubungan warga.
Dalam kegiatan tersebut, makanan tradisional Karo disajikan dan masyarakat dapat menampilkan tarian bersama.Nama Buluh Awar sendiri berkaitan dengan bambu yang banyak tumbuh di wilayah tersebut.
Bambu kemudian tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan desa, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan dan bangunan.
Dari sini terlihat bagaimana sebuah desa dapat mempertahankan identitas melalui kombinasi alam, sejarah, tradisi, dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Nama Bawomataluo berarti "Bukit Matahari". Desa adat ini memiliki deretan rumah tradisional Nias, batu-batu megalitik, serta Omo Sebua atau rumah adat besar yang menjadi salah satu bagian penting dari lanskap budaya desa.
Namun, perhatian paling besar biasanya tertuju pada tradisi Fahombo atau Lompat Batu.Dalam tradisi ini, seseorang melompati susunan batu sebagai bagian dari budaya Nias.
Tradisi tersebut masih menjadi salah satu identitas Bawomataluo hingga sekarang. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bahkan mendorong Bawomataluo untuk memperoleh pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Desa ini telah masuk tentative list UNESCO sejak 2009.
Yang menarik, Bawomataluo bukan sekadar tempat untuk melihat atraksi lompat batu.
Tata permukiman, rumah adat, batu megalitik, serta berbagai kesenian tradisional membuat desa tersebut menjadi gambaran bagaimana masyarakat Nias mempertahankan warisan budaya dalam ruang kehidupan mereka.
Rumah-rumah tradisional, batu megalitik, kesenian tradisional, dan struktur sosial adat masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.
Salah satu hal menarik adalah keberadaan sistem kepemimpinan adat. Tokoh-tokoh adat masih memiliki peran dalam menjaga nilai dan marwah desa atau Lakhömi mbanua.
Sistem tersebut berjalan berdampingan dengan pemerintahan modern.Hilisimaetano juga memiliki tradisi seperti tari perang, Hoho atau lantunan syair kuno, Manari Moyo, serta Lompat Batu.
Bagi pengunjung, desa ini menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan hanya pertunjukan budaya, tetapi kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah komunitas mempertahankan struktur sosial dan identitasnya.
Boneka kayu tersebut digerakkan mengikuti iringan musik tradisional dan menjadi salah satu atraksi budaya yang dikenal dari masyarakat Batak Toba.
Sigale-gale menarik karena bentuknya berbeda dari pertunjukan budaya pada umumnya. Sebuah boneka kayu menjadi media untuk memperkenalkan cerita, seni pertunjukan, dan kebudayaan masyarakat setempat.
Di Tomok, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan Danau Toba. Mereka juga dapat menemukan jejak sejarah dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Samosir.
Di Buluh Awar, budaya Karo berjalan bersama sejarah desa dan pemanfaatan bambu. Bawomataluo mempertahankan arsitektur tradisional dan Fahombo.
Hilisimaetano menjaga sistem adat sekaligus peninggalan megalitik. Sementara Tomok memperkenalkan budaya Batak melalui seni pertunjukan.Perbedaan itu justru menjadi kekayaan tersendiri.
Tradisi tidak selalu harus ditemukan di tempat yang jauh atau terpencil. Kadang, jejaknya masih berada di sekitar kita, hanya saja tertutup oleh perubahan zaman dan kehidupan modern.
Karena itu, mengenal desa dan kampung budaya bukan hanya soal mencari destinasi wisata baru. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi cara untuk melihat bagaimana masyarakat Sumatera Utara menjaga ingatan, nilai, dan identitas mereka.
Di balik sebuah tarian, rumah adat, batu, atau prosesi sederhana, selalu ada cerita tentang masyarakat yang memilih untuk tidak membiarkan warisan leluhurnya hilang begitu saja.