Jumat, 25 September 2026

Harga Minyak Mentah Kembali Memanas Usai Negosiasi Perdamaian AS-Iran di Swiss Batal

Mhd Rabbani - Jumat, 19 Juni 2026 17:35 WIB
Harga Minyak Mentah Kembali Memanas Usai Negosiasi Perdamaian AS-Iran di Swiss Batal
Harga Minyak Mentah
Topikseru.com, New Delhi - Pada perdagangan Jumat (19/6/2026) harga minyak mentah dunia naik karena prospek gencatan senjata yang langgeng antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi kabur setelah pembicaraan damai di Swiss dibatalkan. Tambah lagi, setelah Israel meningkatkan serangan terhadap Lebanon. Pada pukul 0645 GMT, Jumat (19/6/2026), harga minyak mentah Brent berjangka naik 51 sen, atau 0,64%, menjadi US$ 80,36 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak bulan Jui 2026 naik US$ 1,28, atau 1,7%, menjadi US$ 77,88 per barel. Meski naik, kedua kontrak harga minyak tersebut menuju penurunan mingguan sekitar 8%. Sementara, kontrak WTI Agustus yang lebih aktif diperdagangkan naik 59 sen menjadi US$ 76,44 per barel. Swiss menyebutkan, pembicaraan AS dengan para negosiator Iran mengenai pakta untuk mengakhiri konflik Timur Tengah tidak akan berlangsung pada hari Jumat, karena Wakil Presiden JD Vance membatalkan rencana perjalanannya. Ini menambah ketidakpastian mengenai prospek gencatan senjata yang langgeng. "Harga mungkin telah mencapai titik terendah dan kita mungkin akan melihat kenaikan kembali disertai dengan banyak volatilitas karena keretakan telah muncul dalam nota kesepahaman," kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights seperti dikutip Reuters. Pada hari Kamis, kedua patokan harga minyak tersebut menyentuh titik terendah sejak awal Maret karena beberapa kapal tanker, termasuk tiga kapal berbendera Saudi yang membawa 6 juta barel minyak mentah, berlayar melalui selat Hormuz. Beberapa jam setelah presiden Iran dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang mereka. Para analis memperkirakan kesepakatan ini akan melepaskan lebih dari 85 juta barel minyak yang terperangkap di Teluk Timur Tengah ke pasar global. Perjanjian ini juga mencakup pencabutan sanksi AS terhadap minyak Iran, yang akan semakin meningkatkan pasokan. "Para pedagang masih menunggu bukti nyata bahwa lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz benar-benar normal sebelum berkomitmen pada tahap penurunan berikutnya," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM. Sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut sebelum perang, dan para analis memperkirakan perdagangan dapat kembali normal dalam beberapa bulan mendatang jika kesepakatan AS-Iran tetap berlaku. Timur Tengah juga bersiap untuk melanjutkan ekspor. Kuwait Petroleum Corp mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka telah mencabut semua pemberitahuan force majeure yang dikeluarkan selama perang dengan segera. Ladang minyak Irak siap untuk melanjutkan produksi dan produksi akan secara bertahap kembali normal, memulihkan tingkat produksi sebelumnya, kata Menteri Perminyakan Basim Mohammed. Namun, Israel terus melanjutkan perangnya melawan Hizbullah di Lebanon, menimbulkan pertanyaan tentang apakah perjanjian perdamaian AS-Iran akan bertahan.

Sumber
:
Berita Terkait
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Harga Minyak Mentah Brent Turun 1,97% di Level US$ 101,82 per Barel
Harga Minyak Mentah Turun: Brent Turun US$ 1,01 dan West Texas Intermediate (WTI) 52 Sen
Diplomasi Beijing: China Desak AS-Iran Kembali ke Memorandum Islamabad demi Selat Hormuz