Rabu, 23 September 2026

Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu

Muchlis - Selasa, 22 September 2026 23:58 WIB
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
Trump Bahas Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran di PBB
Topikseru.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka isu kesepakatan dengan Iran dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (22/9/2026). Dari podium PBB di New York, Trump mengatakan Iran telah beberapa kali menolak usulan kesepakatan yang disampaikan Washington. Namun, di tengah konflik yang masih berlangsung, Trump justru menyatakan keyakinannya bahwa peluang tercapainya kesepakatan Amerika Serikat-Iran terbuka setelah pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections AS pada November mendatang. Pernyataan tersebut menempatkan pemilu AS 2026 sebagai salah satu penanda waktu yang disebut Trump dalam pembicaraan mengenai kemungkinan berakhirnya konflik dengan Iran.

Trump: Iran Berulang Kali Menolak Kesepakatan

Trump mengatakan Washington telah berulang kali mendorong Iran untuk mencapai kesepakatan. "Sekali lagi, saya mendesak Iran untuk membuat kesepakatan. Dan sekali lagi, mereka menolak," kata Trump dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia. Meski demikian, Trump tidak menutup pintu diplomasi. Ia menyatakan percaya bahwa Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya akan mencapai kesepakatan setelah pemilu paruh waktu. "Saya yakin kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilu karena tidak masuk akal bagi mereka (Iran) untuk tidak melakukannya," ujarnya. Pemilu paruh waktu Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026. Pernyataan Trump tersebut sejalan dengan pernyataannya sebelumnya pada September yang menyebut perang dengan Iran dapat berakhir setelah pemilu. Saat itu, Trump juga mengatakan harga minyak berpotensi turun setelah konflik berakhir.

Isu Nuklir Tetap Menjadi Titik Utama

Selain peluang kesepakatan, Trump kembali menegaskan posisi pemerintahannya mengenai program nuklir Iran. Dia mengatakan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. "Sejak hari pertama saya memasuki arena politik, saya tidak pernah goyah. Saya tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," kata Trump. Isu nuklir memang menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan Washington dan Teheran. Dalam pidatonya di PBB, Trump mengaitkan tuntutan tersebut dengan arah kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran dan kemungkinan tercapainya penyelesaian melalui kesepakatan. Pemerintah Iran sendiri berada dalam situasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung berbulan-bulan. Sementara itu, pertemuan diplomatik di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB menjadi salah satu ruang yang berpotensi digunakan untuk membahas langkah berikutnya.

Harga Minyak Jadi Perhatian di Tengah Konflik

Trump juga membawa isu energi ke dalam pernyataannya. Dia mengklaim harga minyak dunia akan segera turun, bahkan menurutnya dapat berada di bawah level sebelum konflik dengan Iran dimulai. "Kita akan segera melihat dunia yang terbebas dari ancaman selama 51 tahun terakhir, teror Iran, dan harga minyak akan anjlok bahkan lebih rendah daripada saat konflik dimulai," kata Trump. Pernyataan tersebut merupakan klaim dan prediksi Trump, bukan kepastian mengenai arah harga minyak. Pergerakan pasar justru menunjukkan sensitivitas yang masih tinggi terhadap perkembangan konflik dan peluang negosiasi. Pada Selasa, harga minyak Brent naik sekitar 1,7 persen menjadi lebih dari US$102 per barel dalam perdagangan yang dilaporkan Reuters, sementara WTI juga menguat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi terkait konflik AS-Iran dan situasi di kawasan.

Selat Hormuz Menjadi Faktor Penting

Selain persoalan program nuklir, perkembangan konflik Iran juga berkaitan erat dengan jalur perdagangan energi global. Selat Hormuz menjadi salah satu titik strategis karena merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pasokan energi dan kemudian memengaruhi harga minyak dunia. Karena itu, setiap perkembangan mengenai konflik Amerika Serikat-Iran tidak hanya diperhatikan dari sisi keamanan, tetapi juga oleh pasar energi global. Laporan Reuters menyebut perkembangan terkait pembicaraan AS-Iran di PBB menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor minyak pada pekan ini.

Diplomasi AS-Iran Masih Menghadapi Jalan Panjang

Meskipun Trump menyatakan optimistis mengenai peluang kesepakatan, belum ada kepastian bahwa Washington dan Teheran akan segera mencapai perjanjian. Amerika Serikat sebelumnya tetap membuka kemungkinan pembicaraan dengan pejabat Iran. Pemerintahan Trump bahkan memberikan izin kepada delegasi Iran untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sekretaris Negara AS Marco Rubio juga mengatakan Washington terbuka terhadap pembicaraan dengan pejabat Iran selama rangkaian pertemuan PBB, meski belum ada pertemuan resmi Trump-Pezeshkian yang dijadwalkan. Dengan demikian, ruang diplomasi masih tersedia meski konflik dan perbedaan posisi kedua negara belum berakhir.

Pemilu 3 November Jadi Tenggat yang Disebut Trump

Pernyataan terbaru Trump membuat pemilu paruh waktu AS 2026 menjadi salah satu tanggal penting dalam narasi penyelesaian konflik Iran. Trump menyebut kesepakatan dapat tercapai setelah pemilu 3 November. Namun, ia tidak memberikan kepastian mengenai bentuk kesepakatan ataupun mekanisme diplomasi yang akan ditempuh untuk mencapai titik tersebut. Di sisi lain, pemerintahannya tetap menempatkan pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu alasan utama kebijakan terhadap Teheran. Bagi pasar global, perkembangan konflik juga akan terus dipantau karena berkaitan dengan keamanan kawasan, jalur perdagangan energi dan harga minyak. Untuk sementara, pernyataan Trump di PBB menunjukkan dua jalur yang masih berjalan bersamaan: tekanan terhadap Iran dan tawaran untuk mencapai kesepakatan. Hasil akhirnya masih bergantung pada perkembangan diplomasi, kondisi konflik, serta respons pemerintah Iran dalam periode menuju dan setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Pemprov Sumut - AS Perkuat Kemitraan Strategis
Imperialisme Modern dan 'New Western Century': Dunia Sedang Berubah
Rupiah Anjlok ke Rp 17.753/US$, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Trump-Warsh
Diplomasi Beijing: China Desak AS-Iran Kembali ke Memorandum Islamabad demi Selat Hormuz