Topikseru.com - Pemerintah Republik Rakyat China mengambil inisiatif proaktif dalam meredam eskalasi militer yang kian memanas di kawasan Timur Tengah. Melalui jalur diplomasi di Beijing, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menggelar pertemuan tertutup bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi guna merumuskan jalan keluar atas krisis keamanan di Teluk serta ancaman kelancaran pasokan energi global.
Pertemuan bilateral yang berlangsung pada Rabu, 16 September 2026 tersebut menyoroti urgensi pemulihan jalur pelayaran vital internasional dan pentingnya dialog konstruktif antara Tehran dengan negara-negara tetangga maupun kawasan.
Desakan Buka Selat Hormuz dan Peringatan Jalur Energi
Agenda utama dalam diplomasi Beijing China Iran Selat Hormuz ini menyasar pergerakan armada logistik serta stabilitas rantai pasok global yang terancam terhenti.
Beijing secara tegas meminta seluruh kubu yang bertikai untuk menurunkan tensi militer dan menjamin keamanan navigasi laut.
"China mendesak seluruh pihak mengambil langkah-langkah efektif untuk segera membuka kembali Selat Hormuz, menjaga keamanan dan kelancaran jalur pelayaran internasional, serta memelihara stabilitas transportasi energi internasional," tegas Wang Yi sebagaimana dikutip dari pangkalan data resmi Kementerian Luar Negeri China.
Langkah diplomasi ini mengemuka di tengah melonjaknya ketegangan setelah kelompok Houthi di Yaman dilaporkan memperluas jangkauan gempuran udara.
Untuk pertama kalinya, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengaktifkan peringatan serangan udara di wilayah Makkah pada Selasa, 15 September 2026.
Di saat bersamaan, serangan milisi tersebut menargetkan area Khamis Mushait, Abha, dan Taif yang mengakibatkan sedikitnya 13 warga sipil terluka, berdasarkan konfirmasi Juru Bicara Koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki Al-Maliki.
Berita Terkait