Kamis, 24 September 2026

Harga Minyak Mentah Turun: Brent Turun US$ 1,01 dan West Texas Intermediate (WTI) 52 Sen

Mhd Rabbani - Jumat, 18 September 2026 08:23 WIB
Harga Minyak Mentah Turun: Brent Turun US$ 1,01 dan West Texas Intermediate (WTI) 52 Sen
Harga Minyak Mentah
Topikseru.com, Houston - Pada perdagangan Kamis (17/9/2026) harga minyak mentah ditutup turun sekitar 1% namun tetap bertahan di atas US$ 100 per barel. Saat investor menimbang dampak gangguan akibat serangan yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Dibandingkan dengan laporan bahwa tambahan pasokan minyak mentah Saudi dapat masuk ke pasar global dan meredakan kekhawatiran pasokan. Berdasarkan data Reuters, Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran saling melancarkan serangan baru di perbatasan mereka pada hari Kamis; meluasnya konflik Timur Tengah hingga ke Yaman dan Arab Saudi mengancam akan memperparah kekurangan pasokan energi global yang telah terjadi sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada bulan Februari. Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup turun US$ 1,01, atau 0,95%, menjadi US$ 104,82 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 52 sen, atau 0,5%, menjadi US$ 101,91 per barel. Kedua harga acuan tersebut sempat turun sekitar 3% pada hari Rabu. Brent sempat turun lebih dari US$ 3 di awal sesi perdagangan ke level terendah sejak 10 September, sementara WTI juga turun lebih dari US$3 ke level terendah sejak 11 September menyusul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan lebih banyak kargo minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui transfer antar-kapal di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman. Langkah ini akan mengimbangi sebagian gangguan yang disebabkan oleh serangan terhadap pipa Timur-Barat yang mengarah ke Laut Merah. Arab Saudi juga berupaya memulihkan sekitar separuh kapasitas pipa minyak Timur-Barat dalam beberapa hari setelah jalur tersebut dihentikan operasinya pekan lalu akibat serangan pesawat nirawak, demikian dilaporkan Bloomberg. Harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam sekitar empat bulan pada pekan ini setelah sumber-sumber di industri pelayaran menyatakan bahwa pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Laut Merah Arab Saudi, Yanbu, telah ditangguhkan dan Riyadh membatalkan beberapa pengiriman kargo ke pelanggan di Eropa. Pipa saluran Timur-Barat memasok kebutuhan Yanbu. Para pedagang mengatakan bahwa penutupan pipa yang berkepanjangan dapat memangkas hingga 4% pasokan minyak global. Arab Saudi belum menyatakan kapan operasi akan kembali berjalan, namun Wright mengatakan bahwa minyak mentah diperkirakan akan kembali mengalir melalui pipa tersebut dalam beberapa hari ke depan. Tiga stasiun pompa yang melayani pipa Timur-Barat mengalami kerusakan akibat serangan pekan lalu, dan jadwal perbaikannya masih belum jelas, menurut penilaian dari tiga sumber di sektor minyak dan keamanan. "Harga minyak melanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya pada hari Kamis seiring meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan di Timur Tengah," ujar Christopher Tahir, ahli strategi pasar senior di platform perdagangan Exness. Ia menyoroti peningkatan aliran minyak mentah melalui pemuatan lepas pantai tambahan via Oman serta upaya pemulihan pipa Timur-Barat. "Kendati demikian, kondisi pasar fisik tetap ketat, sehingga membatasi ruang untuk penurunan lebih lanjut," "Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus menurun, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi membuat pelayaran di Laut Merah serta infrastruktur energi regional rentan terhadap gangguan baru," tambah Tahir. Bank DBS Singapura menyatakan bahwa skenario dasar mereka untuk kuartal keempat mengasumsikan ketegangan antara AS dan Iran akan mereda, sehingga memungkinkan harga minyak Brent stabil di kisaran US$85 hingga US$95 per barel. Pasar Solar Tertekan Meskipun gangguan pasokan minyak mentah tetap menjadi perhatian utama pasar, pengetatan pasokan solar (diesel) muncul sebagai sumber tekanan lain karena gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah dan Rusia membatasi ketersediaan bahan bakar. Kontrak berjangka gasoil Eropa, yang menjadi acuan harga solar, ditutup pada rekor tertinggi pada hari Selasa. Kontrak berjangka solar dengan kandungan sulfur sangat rendah (ultra-low sulfur diesel) di AS juga ditutup pada rekor tertinggi. Serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina merusak sebuah kilang minyak di kota Yaroslavl, Rusia, dan menyebabkan kebakaran yang kemudian berhasil dipadamkan, demikian disampaikan Gubernur wilayah tersebut, Mikhail Yevrayev, pada hari Kamis. Pasokan Saudi via Oman Redakan Kekhawatiran Pasar Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (17/9/2026), tertekan oleh meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah Arab Saudi menyiapkan jalur alternatif pengiriman minyak mentah melalui Oman. Meski terkoreksi sekitar 3% dan berada di level terendah dalam sepekan, harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel. Pasar tetap mencermati risiko meluasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Harga minyak Brent berjangka turun US$3,11 atau 2,94% menjadi US$102,72 per barel pada pukul 13.24 GMT. Harga tersebut sekaligus menjadi level terendah Brent sejak 10 September 2026. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$1,96 atau 1,91% menjadi US$100,47 per barel, level terendah sejak 11 September 2026. Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya telah merosot sekitar US$3 per barel pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Penurunan harga minyak terjadi setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengindikasikan bahwa jaringan pipa East-West milik Arab Saudi dapat kembali beroperasi lebih cepat dari perkiraan. Selain itu, langkah Arab Saudi untuk mempertahankan pengiriman minyak melalui tambahan pemuatan di sekitar Oman turut meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi kekurangan pasokan. Analis pasar utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan, perkembangan tersebut membuat pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan kargo minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui mekanisme transfer antarkapal atau ship-to-ship di sekitar pelabuhan Sohar, Oman. Langkah tersebut diambil untuk mengimbangi sebagian gangguan pasokan yang terjadi setelah serangan terhadap jaringan pipa East-West yang menghubungkan fasilitas minyak Arab Saudi dengan kawasan Laut Merah. Jalur alternatif Saudi Harga minyak sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi sekitar empat bulan pada awal pekan ini. Kenaikan terjadi setelah sumber di industri pelayaran melaporkan penghentian pemuatan minyak mentah di terminal ekspor Yanbu, Arab Saudi. Riyadh juga disebut membatalkan sejumlah pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa. Gangguan tersebut terjadi setelah jaringan pipa East-West yang memasok terminal Yanbu mengalami serangan. Para pelaku pasar memperkirakan penghentian operasi pipa dalam waktu lama berpotensi menghilangkan pasokan hingga sekitar 4% dari pasokan minyak global. Arab Saudi belum memberikan kepastian kapan jaringan pipa tersebut akan kembali beroperasi secara penuh. Namun, Chris Wright sebelumnya mengatakan bahwa aliran minyak melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali dalam hitungan hari. Dua stasiun pompa yang melayani jaringan pipa East-West mengalami kerusakan akibat serangan pada pekan lalu. Berdasarkan penilaian sejumlah sumber di sektor minyak dan keamanan, waktu yang diperlukan untuk memperbaiki infrastruktur tersebut masih belum jelas.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Harga Minyak Mentah Brent Turun 1,97% di Level US$ 101,82 per Barel
Harga Minyak Mentah Brent Naik US$2,50 Bertengger di Level US$108,18 per Barel
Harga Minyak Mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) Kompak Menembus US$100 per Barel
Harga Minyak Mentah Brent Kembali Menembus Level US$ 100 per Barel
Harga Minyak West Texas Intermediate Naik US$1,60 Bersandar di Level US$94,63 per Barel