Sabtu, 26 September 2026

Harga Minyak Mentah Naik Lebih dari US$ 2 per Barel Dipicu Gangguan Deplomasi Iran-AS

Mhd Rabbani - Selasa, 18 Agustus 2026 08:03 WIB
Harga Minyak Mentah Naik Lebih dari US$ 2 per Barel Dipicu Gangguan Deplomasi Iran-AS
Harga Minyak Mentah
Topikseru.com, Houston - Pada perdagangan Senin (17/8/2026) harga minyak mentah dunia naik lebih dari US$ 2 per barel seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat kebuntuan diplomasi dalam perang Iran. Berdasarkan yang dilansir Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka ditutup naik US$ 2,35 atau 2,65% menjadi US$ 90,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,10 atau 2,55% menjadi US$ 84,50 per barel. Kenaikan harga terjadi ketika ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Presiden AS Donald Trump mendesak Iran menyerah dan mengatakan Washington tidak mencari perpanjangan nota kesepahaman dengan Teheran. Iran, di sisi lain, mengancam akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz jika kesepakatan damai sementara dengan AS tidak dijalankan. Ketidakpastian tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak, terutama karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz melambat. "Seiring retorika memanas, harga pun ikut naik," kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, seraya menambahkan bahwa ketidakpastian kapal yang melintasi Selat Hormuz mulai meningkatkan kekhawatiran pasar. Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, sementara tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Angka tersebut turun tajam dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Meski demikian, kenaikan harga minyak dinilai masih terbatas selama arus minyak melalui Selat Hormuz belum benar-benar terhenti dan tidak terjadi penutupan Selat Bab el-Mandeb. "Harga minyak kemungkinan tidak akan naik signifikan kecuali terjadi penghentian arus minyak melalui Selat Hormuz atau penutupan Selat Bab el-Mandeb," kata Bjarne Schieldrop dari SEB Research. Pasar saat ini berada di antara dua kemungkinan. Di satu sisi, gangguan yang lebih dalam dapat memicu kelangkaan dan mendorong harga lebih tinggi. Di sisi lain, jika kesepakatan tercapai dan Selat Hormuz kembali terbuka, harga minyak berpotensi turun tajam. Ketegangan geopolitik tersebut juga mulai memengaruhi perdagangan minyak fisik. Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dilaporkan menjual sedikitnya 14 juta barel minyak mentah melalui tender kepada sejumlah penyuling Asia dengan harga premium. Saudi Aramco juga menawarkan minyak mentah dari sumber di luar Selat Hormuz kepada sejumlah penyuling di Asia, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut. Di Amerika Serikat, cadangan minyak mentah Strategic Petroleum Reserve (SPR) kembali turun sekitar 5,3 juta barel menjadi 293,4 juta barel pada pekan lalu. Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 1982. Penurunan cadangan merupakan bagian dari kesepakatan AS untuk melepas 172 juta barel dari SPR. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintah juga akan berdiskusi dengan penyuling AS mengenai cara meningkatkan produksi bahan bakar guna menekan harga bensin yang masih tinggi akibat perang AS-Israel dengan Iran. Namun, kilang AS saat ini sudah beroperasi pada tingkat yang tinggi karena harga bahan bakar yang kuat telah meningkatkan margin pengolahan.

Sumber
:
Berita Terkait
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Harga Minyak Mentah Brent Turun 1,97% di Level US$ 101,82 per Barel
Harga Minyak Mentah Turun: Brent Turun US$ 1,01 dan West Texas Intermediate (WTI) 52 Sen
Diplomasi Beijing: China Desak AS-Iran Kembali ke Memorandum Islamabad demi Selat Hormuz