Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (20/8/2026) nilai tukar rupiah menguat berada di level Rp 17.809 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Di mana nilai tukar rupiah menguat 0,16% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.840 per dolar AS.
Di perdagangan Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar yakni 0,53%.
Disusul peso Filipina yang menguat 0,34%, dolar Taiwan menguat 0,29%, baht Thailand menguat 0,23%, rupiah menguat 0,16%, yuan China menguat 0,13%.
Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,38%.
Disusul yen Jepang yang melemah 0,20%, dolar Singapura melemah 0,03% dan dolar Hong Kong yang melemah 0,01% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,78, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 98,83.
Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Kisaran Rp17.750–Rp17.900 per Dolar AS
Pada perdagangan Kamis (20/8/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat diproyeksi akan melanjutkan penguatan.
Menanggapi hal tersebut Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (20/8/2026).
Salah satu faktor utama yang akan menjadi perhatian pasar adalah arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Menurut Lukman, pelaku pasar akan mencermati risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan menjadi salah satu katalis pergerakan rupiah.
The Fed diharapkan memberikan pernyataan yang less hawkish menyusul serangkaian data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.
“Untuk Kamis (20/8/2026), rupiah masih berpotensi menguat, apabila dalam risalah pertemuan FOMC malam ini the Fed diharapkan memberikan pernyataan yang less hawkish menyusul serentetan data ekonomi AS yang lebih lemah akhir – akhir ini,” ucap Lukman.
Sementara, Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menambahkan sentimen geopolitik juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini.
Para investor disebut tengah menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal.
Presiden AS Donald Trump bilang bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.
“Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit melihat pergerakan rupiah besok (20/8/2026) dipengaruhi oleh dampak keputusan BI yang mempertahankan BI-Rate di 5,75% karena pasar sebelumnya memperhatikan ruang BI untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Pasar menunggu FOMC Minutes untuk melihat arah kebijakan The Fed,” ujar Geraldo.
Lukman memproyeksikan rupiah pada perdagangan Kamis (20/8/2026) bergerak dalam kisaran Rp 17.750 – Rp 17.900 per dolar AS.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada Kamis (20/8/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.840 – Rp 17.900 per dolar AS.
Sementara Geraldo memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 17.689 – Rp 17.856 per dolar AS.
Asal tahu saja, pada Rabu (19/8/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,12% secara harian ke Rp 17.840 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,06% secara harian ke Rp 17.844 per dolar AS.
Berita Terkait