Jumat, 25 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,21% di Level Rp17.710 per Dolar AS Pagi Ini

Mhd Rabbani - Jumat, 21 Agustus 2026 10:34 WIB
Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,21% di Level Rp17.710 per Dolar AS Pagi Ini
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (21/8/2026) nilai tukar rupiah menguat berada di level Rp 17.710 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Di mana nilai tukar rupiah menguat 0,21% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.748 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Selain itu, Won Korea mencatat penguatan terbesar yakni 0,96%, dolar Taiwan menguat 0,23%, rupiah menguat 0,21%, baht Thailand menguat 0,15%. Kemudian, dolar Singapura menguat 0,12%, yen Jepang menguat 0,02%, yuan China menguat 0,02% dan dolar Hong Kong menguat 0,001% terhadap dolar AS. Sedangkan ringgit Malaysia dan peso Filipina melemah terhadap dolar AS pagi ini dengan pelemahan masing-masing 0,02% dan 0,08%. Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,76, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 98,89. Nilai Tukar Rupiah Bakal Menguat di Kisaran Rp17.700-Rp17.850 per Dolar AS Pada perdagangan Kamis (20/8/2026) Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di pasar spot. Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,52% secara harian ke Rp 17.748 per dolar AS. Sementara, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,36% secara harian ke Rp 17.779 per dolar AS. Menanggapi hal tersebut, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini (21/8) berpotensi melanjutkan tren penguatannya, meski ruang apresiasi kemungkinan akan lebih terbatas dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Momentum utama tetap datang dari eksternal. Pelemahan indeks dolar yang bertahan di kisaran 98,8—level terendah dalam tiga bulan—menyusul langkah agresif Departemen Keuangan AS memperluas program buyback obligasi tenor panjang untuk meredam gejolak yield. “Selama sentimen risk-appetite global tidak berbalik arah secara tiba-tiba, rupiah masih memiliki peluang bergerak menguat tipis ke arah bawah Rp 17.800, didukung pula oleh sikap Bank Indonesia yang menahan suku bunga di 5,75% sembari menegaskan komitmen stabilitas nilai tukar di bawah kepemimpinan Plt. Gubernur Destry Damayanti,” jelas Sutopo. Namun demikian, terdapat sejumlah sentimen yang patut dicermati secara saksama. Pertama, risalah rapat FOMC Juli yang mengindikasikan sebagian pembuat kebijakan The Fed masih condong pada opsi kenaikan suku bunga. Jika narasi ini menguat lebih lanjut, dapat memicu koreksi teknikal pada dolar yang membalikkan tren pelemahannya. Kedua, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya kebuntuan hubungan AS-Iran, berpotensi memicu aliran modal ke aset safe-haven termasuk dolar apabila situasi memburuk. Ketiga, dari sisi domestik, pasar akan menantikan rilis data neraca transaksi berjalan kuartal kedua. Mengingat defisit kuartal pertama tercatat sebagai yang terdalam sejak 2019, hasil yang mengecewakan berisiko membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut meski sentimen eksternal masih kondusif. Sutopo memproyeksikan rupiah pada Jumat (21/8/2026) bergerak direntang Rp 17.650 – Rp 17.875 per dolar AS. Menurut, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, sentimen domestik saat ini cukup mendukung setelah BI mempertahankan BI Rate di 5,75%. Ini menegaskan fokus pada stabilitas rupiah, memperluas insentif hedging untuk menarik inflow, serta tetap mengandalkan intervensi spot, DNDF, dan pasar SBN. “Penurunan yield SRBI dalam dua pekan terakhir tanpa mengurangi arus masuk juga menjadi sinyal positif bahwa daya tarik aset rupiah mulai membaik,” ucap Banjaran. Namun, ruang penguatan rupiah masih dibatasi sentimen eksternal. Minutes FOMC menunjukkan inflasi AS masih berada di atas target, tiga anggota bahkan memilih kenaikan 25 bps. Dan banyak anggota menilai pengetatan lanjutan mungkin diperlukan apabila inflasi tidak turun. Pasar juga sempat memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya di September 2026. Sementara yield UST naik sekitar 25 sampai 30 bps dalam dua pekan terakhir, sebelum US Treasury melakukan intervensi dengan melakukan buyback obligasi untuk stabilisasi pergerakan yield. “Artinya, sentimen yang perlu dicermati hari ini adalah arah dolar AS, yield UST, arus modal asing ke SBN dan saham, serta respons pasar terhadap komunikasi kebijakan BI," "Selama dolar tidak kembali menguat tajam, rupiah masih berpeluang bergerak stabil hingga menguat terbatas,” jelas Banjaran. Banjaran memperkirakan rupiah pada Jumat (21/8) masih memiliki ruang untuk bertahan menguat, dengan kisaran sekitar Rp 17.700 sampai Rp 17.850 per dolar AS.

Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS