Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (9/9/2026), IHSG ditutup melemah 8,24 poin atau 0,12% ke level 6.678,20 di pasar spot.
Meski demikian, secara year to date (YTD), IHSG masih terkoreksi cukup dalam sebesar 22,77% sejak awal tahun.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan hingga penghujung 2026.
Pelaku pasar menilai sejumlah sentimen yang sebelumnya menekan pasar saham mulai mereda.
Dalam jangka pendek, kinerja IHSG menunjukkan tren yang lebih positif. Dalam lima hari perdagangan terakhir, IHSG tercatat menguat 1,25%.
Sementara itu, dalam sebulan terakhir, indeks telah naik 4,91%. Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto menilai, tren penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026.
Menanggapi hal tersebut, William, sejumlah sentimen negatif yang sebelumnya menekan pasar saham pada awal tahun, termasuk persoalan rating pasar saham yang menjadi salah satu penyebab utama pelemahan IHSG, mulai berakhir.
“IHSG juga secara teknikal memang sudah masuk ke fase strong bullish. Jadi kemungkinan berlanjutnya kenaikan besar,” ujarnya.
Untuk akhir September 2026, William memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 6.665-6.752. Adapun hingga akhir tahun, dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mencapai level 7.200.
Dari sisi sentimen, pergerakan IHSG hingga akhir 2026 masih akan dipengaruhi perkembangan kebijakan politik dan faktor demografi.
Salah satu momentum yang menjadi perhatian pasar adalah Desember 2026, ketika kepastian mengenai hasil demonstrasi terkait RUU perampasan aset diharapkan mulai terlihat.
“Hal itu bisa menjadi arah dari aksi masyarakat di jalan,” ungkapnya.
Di tengah potensi penguatan IHSG tersebut, investor disarankan tetap mencermati perkembangan tren dan berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
William menilai, kondisi pasar saat ini membuat sebagian besar saham sudah dapat dianalisis menggunakan pendekatan teknikal.
Dengan demikian, pelaku pasar dapat menyesuaikan hasil analisis tersebut dengan strategi trading yang diterapkan.
“Mungkin di saat seperti ini sudah sulit untuk menerapkan buy on weakness, namun perlu mengincar support terdekat seperti pada indikator MA5 itu masih memungkinkan untuk dilakukan,” katanya.
Berita Terkait