Kamis, 24 September 2026

Harga Minyak Mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) Kompak Menembus US$100 per Barel

Mhd Rabbani - Jumat, 11 September 2026 07:33 WIB
Harga Minyak Mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) Kompak Menembus US$100 per Barel
Harga Minyak Mentah
Topikseru.com, New York - Pada perdagangan Jumat (10/9/2026) harga minyak mentah melonjak lebih dari 6% dengan harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama menembus US$100 per barel. Di mana lonjakan harga minyak mentah terjadi setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman berikutnya ditutup naik US$6,42 atau 6,34% menjadi US$107,63 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI naik US$6,43 atau 6,69% ke US$ 102,48 per barel. Kedua harga acuan tersebut mencapai level tertinggi sejak 19 Mei sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan. WTI juga kembali menembus US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 21 Mei. Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran energi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis, meningkatkan ancaman terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah. Di kawasan Teluk, arus pelayaran melalui Selat Hormuz juga masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran ekspor minyak. "Risiko gangguan kini semakin meluas ke jalur ekspor, fasilitas produksi dan infrastruktur energi," kata Simon-Peter Massabni, head of business development XS.com. Ancaman gangguan pasokan kini tidak lagi hanya berpusat pada Selat Hormuz. Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menambah sumber risiko baru bagi pasar minyak. Konflik Iran Jadi Penentu Ketegangan juga meningkat setelah Iran menyatakan teah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Pernyataan tersebut muncul setelah Amerika Serikat menyerang lima kapal tanker Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan akan meningkatkan respons apabila terjadi serangan lanjutan. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap Pickaxe Mountain, yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya mengalami kerusakan parah. Kembali Trump mengatakan perang kemungkinan akan berlangsung hingga melewati pemilu paruh waktu AS pada November. Ketidakpastian mengenai berakhirnya konflik membuat risiko gangguan pasokan minyak dipandang sebagai ancaman yang lebih permanen. Analisis S&P Global Energy menyebut pasar minyak kini menghadapi kondisi baru, dengan risiko gangguan pasokan yang bersifat terus-menerus, bukan lagi sekadar kejadian sementara. China Jadi Faktor Penentu Di tengah gejolak geopolitik, China menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan apakah reli harga minyak berlanjut. China dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan pembelian minyak mentah setelah permintaan sempat lesu selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut mulai memperkuat pasar minyak fisik. Menurut analis ING, apabila pembelian China terus meningkat, dampak gangguan pasokan akan semakin besar dan berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Sebaliknya, penurunan impor China dapat meredam kenaikan harga. "Kasus bearish selama berbulan-bulan bertumpu pada lemahnya permintaan China," kata David Jorbenaze, global oil market lead di ICIS. Dari Amerika Serikat, persediaan minyak mentah juga menunjukkan penurunan. Data Energy Information Administration (EIA) mencatat stok minyak mentah AS turun 391.000 barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut terjadi ketika aktivitas pengolahan minyak di kilang masih kuat. Namun, penurunan stok tersebut lebih kecil dibandingkan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan mencapai 1,55 juta barel. Di sisi lain, OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 380.000 barel per hari. Ini menjadi revisi penurunan kelima secara beruntun. Produksi minyak OPEC juga turun sekitar 640.000 barel per hari pada Agustus, berdasarkan survei Reuters. Penurunan antara lain terjadi karena gangguan ekspor Arab Saudi akibat perang dan blokade AS yang memangkas pengiriman minyak Iran. Kombinasi meningkatnya risiko gangguan pasokan, penurunan stok AS, serta ketidakpastian konflik membuat pasar minyak kembali menghadapi tekanan dari sisi pasokan. Namun, arah harga selanjutnya tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kekuatan permintaan China.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Harga Minyak Mentah Brent Turun 1,97% di Level US$ 101,82 per Barel
Harga Minyak Mentah Turun: Brent Turun US$ 1,01 dan West Texas Intermediate (WTI) 52 Sen
Harga Minyak Mentah Brent Naik US$2,50 Bertengger di Level US$108,18 per Barel
Harga Minyak Mentah Brent Kembali Menembus Level US$ 100 per Barel
Harga Minyak West Texas Intermediate Naik US$1,60 Bersandar di Level US$94,63 per Barel