Topikseru.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (5/10/2026) di zona hijau. Penguatan bursa saham Indonesia mengikuti tren positif sejumlah pasar saham Asia di tengah berubahnya ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
IHSG dibuka naik 18,27 poin atau 0,30 persen ke level 6.055,16. Penguatan juga terjadi pada kelompok saham unggulan yang tercermin dari indeks LQ45, yang bertambah 1,90 poin atau 0,32 persen menjadi 597,36.
Pergerakan pasar kali ini banyak dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja. Kondisi tersebut membuat investor kembali memperhitungkan ruang bagi Federal Reserve atau The Fed untuk menahan kebijakan suku bunga ketat.
Baca Juga:
Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau BLS menunjukkan ekonomi Amerika Serikat hanya menambah 29.000 pekerjaan nonpertanian pada September 2026, sementara tingkat pengangguran berada di 4,2 persen. Data Juli dan Agustus juga direvisi turun dengan total 60.000 pekerjaan.
Pertumbuhan payroll sebesar 29.000 pada September jauh di bawah ekspektasi pasar yang berada di kisaran puluhan ribu pekerjaan lebih tinggi.
Perlambatan tersebut memperbesar perhatian pasar terhadap kemungkinan The Fed tidak terburu-buru memperketat kebijakan moneter.
Bagi pasar saham, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah atau tertahan dapat memberikan ruang bagi aset berisiko, termasuk saham.
Hal itu turut menopang pergerakan bursa kawasan Asia pada awal perdagangan pekan ini.
Namun, investor masih perlu memperhatikan bahwa data tenaga kerja bukan satu-satunya pertimbangan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Jadwal resmi Federal Reserve menunjukkan FOMC akan menggelar rapat dua hari tersebut dan menggelar konferensi pers pada hari kedua.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan sentimen pasar membaik setelah data tenaga kerja AS keluar lebih lemah dari perkiraan.
Menurut dia, kondisi tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dan memberikan dukungan bagi saham-saham yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Meski demikian, investor masih harus mencermati perkembangan inflasi dan berbagai risiko eksternal sebelum mengambil kesimpulan mengenai arah kebijakan The Fed.
Liza memperkirakan apabila IHSG kembali menguat, indeks berpeluang menguji level 6.095, kemudian area 6.111-6.121.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali muncul, IHSG berpotensi menguji area support 5.979-5.973.
Jika support tersebut ditembus, ruang pelemahan dapat terbuka menuju level 5.898.
Artinya, investor tidak hanya melihat sentimen global, tetapi juga mencermati kemampuan IHSG mempertahankan level support sekaligus menembus area resistance.
Harga minyak yang lebih rendah berpotensi membantu meredakan tekanan biaya energi dan inflasi. Kondisi ini menjadi faktor tambahan yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral global.
Namun, pasar energi masih menghadapi ketidakpastian akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak sekaligus menciptakan volatilitas harga energi.
Perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian bagi pasar energi dan pasar keuangan global.
Selain itu, rencana pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7 menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan upaya menjaga pasokan dan meredam tekanan harga energi.
Liza menilai ketidakpastian terkait negosiasi Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu risiko utama bagi pasar minyak.
Sementara itu, OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 1 November 2026. Kepatuhan produksi negara-negara anggota pada Juli dan Agustus juga menjadi bagian dari perhatian pasar minyak.
BI tetap menempatkan stabilitas nilai tukar rupiah sebagai salah satu prioritas di tengah kondisi suku bunga global yang masih relatif tinggi.
Pada saat yang sama, BI menjalankan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Salah satunya melalui kebijakan makroprudensial atau Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
BI memperkuat KLM sejak September 2026 untuk mendorong ekspansi kredit ke sektor-sektor prioritas, termasuk sektor yang berkaitan dengan perumahan.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan investor ketika menilai prospek perekonomian Indonesia.
BI memberikan insentif melalui pengurangan biaya hedging untuk membantu menarik arus modal masuk sekaligus mengelola risiko nilai tukar.
Berdasarkan data yang disampaikan BI, fasilitas tersebut sejak diberlakukan pada September 2026 telah dimanfaatkan untuk sekitar US$7 miliar capital inflow.
Arus modal asing menjadi penting bagi pasar saham karena dapat memengaruhi likuiditas sekaligus persepsi investor global terhadap aset Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), indeks utama Wall Street ditutup menguat. S&P 500 naik 0,73 persen menjadi 7.722,72, Nasdaq Composite menguat 1,19 persen ke 27.190,86, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,49 persen ke 51.176,96.
Bursa Eropa juga mencatat penguatan. Euro Stoxx 50 naik 1,02 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,32 persen, DAX Jerman naik 1,17 persen, sementara CAC 40 Prancis bertambah 0,79 persen.
Kondisi tersebut menjadi latar positif bagi perdagangan saham Asia pada awal pekan.
Nikkei Jepang tercatat menguat 2,58 persen ke 70.078,00. Kospi Korea Selatan naik 0,46 persen menjadi 7.003,74.
Indeks Kuala Lumpur juga naik 0,35 persen ke 1.636,61, sedangkan Straits Times Singapura bertambah 0,61 persen menjadi 5.668,58.
Sementara itu, Hang Seng Hong Kong bergerak berlawanan dengan melemah 0,41 persen ke 23.818,50.
Bursa Shanghai tidak melakukan perdagangan karena China tengah memperingati Golden Week atau Hari Nasional China.
Namun, arah IHSG sepanjang sesi perdagangan masih akan bergantung pada kombinasi sejumlah faktor, mulai dari pergerakan rupiah, arus dana asing, bursa Asia, harga minyak, risiko geopolitik hingga ekspektasi terhadap keputusan The Fed.
Dengan pertemuan FOMC Oktober yang semakin dekat, data ekonomi Amerika Serikat akan tetap menjadi perhatian utama investor global.
Bagi pasar Indonesia, kemampuan IHSG mempertahankan level support sekaligus menghadapi tekanan dari faktor eksternal akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah perdagangan berikutnya.