Bagi banyak penggemar sepak bola, duel ini bukan sekadar laga pembuka. Inggris dan Kroasia memiliki sejarah pertemuan yang sarat cerita, termasuk semifinal Piala Dunia 2018 yang masih membekas dalam ingatan publik sepak bola.
Saat itu Kroasia menghancurkan mimpi Inggris menuju final setelah menang 2-1 lewat perpanjangan waktu. Delapan tahun berselang, kedua negara kembali bertemu di panggung terbesar dunia dengan generasi dan ambisi yang berbeda.
Tidak banyak tim yang memasuki Piala Dunia 2026 dengan ekspektasi sebesar Inggris.
Baca Juga:
Skuad Three Lions dipenuhi pemain yang sedang berada di puncak karier mereka.
Harry Kane masih menjadi andalan di lini depan, sementara Jude Bellingham berkembang menjadi salah satu gelandang paling komplet di dunia.
Di sisi sayap, Bukayo Saka dan Marcus Rashford menawarkan kecepatan serta kreativitas yang mampu merepotkan pertahanan mana pun.
Namun perhatian terbesar justru tertuju kepada sosok Thomas Tuchel.
Pelatih asal Jerman itu mendapat tugas besar untuk mengakhiri penantian panjang Inggris yang belum lagi mengangkat trofi Piala Dunia sejak 1966.
Kehadirannya membawa pendekatan baru yang lebih fleksibel secara taktik dan lebih agresif saat menguasai bola.
Kemenangan dalam laga pertama akan menjadi modal penting untuk menjaga momentum sekaligus meredam tekanan besar dari publik Inggris.
Jika Inggris datang dengan status unggulan, Kroasia kembali hadir sebagai tim yang berbahaya meski tidak selalu masuk dalam daftar favorit juara.
Dalam dua edisi Piala Dunia terakhir, Vatreni membuktikan bahwa mereka memiliki mentalitas turnamen yang sulit ditandingi.
Finalis Piala Dunia 2018 dan peraih peringkat ketiga pada 2022 itu selalu mampu tampil lebih baik ketika tekanan semakin besar.
Pelatih Zlatko Dalic kembali membawa fondasi permainan yang sama: disiplin, sabar, dan efisien.
Meski sejumlah pemain senior mulai memasuki penghujung karier internasional, Kroasia tetap memiliki kombinasi pengalaman dan talenta muda yang menjanjikan.
Luka Modric masih menjadi pusat permainan, didukung Mateo Kovacic di lini tengah serta Josko Gvardiol yang kini menjadi pemimpin baru di sektor pertahanan.
Pengalaman menghadapi pertandingan besar membuat Kroasia tidak akan gentar menghadapi Inggris.
Di atas kertas, Inggris memiliki kedalaman skuad yang lebih baik. Namun pertandingan ini kemungkinan besar akan ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai lini tengah.
Jude Bellingham diperkirakan menjadi motor permainan Inggris dengan kebebasan bergerak antara lini tengah dan lini serang. Kemampuannya membawa bola, menciptakan peluang, dan mencetak gol membuatnya menjadi ancaman dari berbagai situasi.
Di sisi lain, Kroasia memiliki maestro yang sudah teruji dalam berbagai turnamen besar.
Luka Modric mungkin tidak lagi berada pada usia emas, tetapi visi bermain dan kemampuannya mengatur tempo pertandingan masih menjadi senjata utama Vatreni. Bersama Mateo Kovacic, Kroasia tetap memiliki salah satu lini tengah paling cerdas di turnamen.
Duel di area ini berpotensi menjadi kunci yang menentukan arah pertandingan.
Selain lini tengah, perhatian juga tertuju pada pertarungan antara Harry Kane dan Josko Gvardiol.
Kane dikenal sebagai penyerang yang tidak hanya tajam di depan gawang, tetapi juga piawai membuka ruang dan membangun serangan. Kemampuannya turun ke area tengah sering kali membuat pertahanan lawan kehilangan koordinasi.
Tugas berat pun menanti Gvardiol.
Bek Manchester City tersebut diperkirakan menjadi pemain yang akan memimpin lini belakang Kroasia dalam mengawal pergerakan kapten Inggris itu. Jika Gvardiol mampu meredam pengaruh Kane, peluang Kroasia untuk mencuri poin akan semakin besar.
Sejarah menunjukkan bahwa pertandingan antara Inggris dan Kroasia jarang berlangsung biasa.
Dalam lima pertemuan terakhir, Inggris mencatat tiga kemenangan, Kroasia meraih satu kemenangan, sementara satu laga berakhir imbang.
Meski demikian, kemenangan Kroasia pada semifinal Piala Dunia 2018 tetap menjadi hasil yang paling dikenang. Kala itu, gol Mario Mandzukic membawa Vatreni melaju ke final dan memupus harapan Inggris untuk mengakhiri penantian panjang mereka.
Fakta tersebut menambah bumbu emosional menjelang pertemuan di Texas.
Keberadaan Ghana dan Panama membuat Grup L tidak bisa dianggap mudah. Namun banyak pengamat menilai Inggris dan Kroasia tetap menjadi kandidat terkuat untuk lolos ke fase gugur.
Karena itu, pertandingan pembuka ini memiliki nilai yang sangat besar.
Tim yang mampu meraih kemenangan akan mendapatkan keuntungan penting dalam perburuan posisi puncak grup. Sebaliknya, hasil buruk bisa membuat perjalanan menjadi lebih rumit pada dua pertandingan berikutnya.
Di tengah tekanan tinggi dan ekspektasi besar, duel Inggris melawan Kroasia bukan hanya tentang tiga poin.
Pertandingan ini menjadi ujian pertama untuk mengetahui apakah Inggris benar-benar siap mengakhiri puasa gelar dunia, atau justru Kroasia kembali membuktikan bahwa pengalaman dan mentalitas turnamen masih menjadi senjata yang sulit dikalahkan.
Ketika peluit pertama dibunyikan di AT&T Stadium, dunia akan kembali menyaksikan salah satu rivalitas paling menarik yang lahir di panggung Piala Dunia.