Topikaeru.com -Dinas Kesehatan Sumatera Utara mencatat 2.334 temuan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) menjadi kelompok dengan temuan terbanyak, yakni 865 kasus.
Data tersebut disampaikan Dinas Kesehatan Sumatera Utara pada September 2026. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sumut, dr. Nora Nasution, menjelaskan bahwa temuan kasus perlu dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah menemukan orang yang terinfeksi HIV agar dapat segera memperoleh pengobatan.
Nora juga mengingatkan bahwa banyaknya temuan kasus tidak otomatis berarti penularan HIV sedang meningkat. Pemerintah memiliki target penemuan kasus berdasarkan estimasi jumlah orang yang hidup dengan HIV.
Baca Juga:
Kelompok LSL Catat 865 Temuan HIV
Dari total 2.334 temuan HIV di Sumatera Utara hingga Agustus 2026, kelompok LSL mencatat 865 kasus. Jumlah ini menjadi yang tertinggi di antara kelompok yang dicatat dalam laporan Dinkes Sumut.
Selain itu, terdapat 400 temuan HIV pada pasien tuberkulosis (TB) yang juga terinfeksi HIV. Kelompok populasi umum mencatat 344 kasus, sedangkan pelanggan pekerja seks tercatat 255 kasus.
Dinkes Sumut juga mencatat 121 kasus pada pasangan orang dengan HIV, 73 kasus pada pasangan berisiko tinggi, 58 kasus pada wanita pekerja seksual, dan 51 kasus pada ibu hamil.
Temuan lainnya meliputi 45 kasus pada pasien infeksi menular seksual, 29 kasus pada warga binaan pemasyarakatan, 24 kasus pada calon pengantin, 23 kasus pada waria, 22 kasus pada anak dari orang dengan HIV, 18 kasus pada pasien hepatitis, serta enam kasus pada pengguna narkoba suntik.
Rincian tersebut menunjukkan sebaran temuan berdasarkan kelompok yang dicatat dalam pemeriksaan. Data ini bukan berarti setiap orang dalam kelompok tersebut memiliki HIV atau memiliki tingkat risiko yang sama.
Sumut Catat 3.041 Kasus Baru HIV/AIDS pada 2025
Selain data temuan HIV pada 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 3.041 kasus baru HIV/AIDS di Sumatera Utara sepanjang 2025. Angka tersebut menempatkan Sumut pada posisi kelima di antara provinsi dengan jumlah kasus baru HIV/AIDS terbanyak dalam tabel statistik BPS.
Di tingkat nasional, BPS mencatat jumlah kasus baru HIV/AIDS pada 2025 mencapai 63.297 kasus. Jawa Timur menempati urutan pertama dengan 10.612 kasus, disusul Jawa Barat sebanyak 9.212 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 6.057 kasus.
Pemeriksaan Dini Penting untuk Menekan Penularan
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh. Seseorang dapat terinfeksi tanpa menunjukkan gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan menjadi cara penting untuk mengetahui status HIV.
Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. HIV tidak menular melalui pelukan, berjabat tangan, berbagi makanan, maupun menggunakan toilet yang sama.
Orang yang merasa berisiko terpapar dapat berkonsultasi dan menjalani tes HIV di fasilitas kesehatan. Pemeriksaan membantu seseorang mengetahui statusnya dan memperoleh penanganan lebih cepat jika hasilnya positif.
HIV juga dapat ditangani dengan terapi antiretroviral (ARV). Pengobatan ini menekan jumlah virus dalam tubuh, membantu menjaga sistem kekebalan, dan perlu dijalani secara teratur sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Stigma Masih Menjadi Tantangan
Selain pemeriksaan dan pengobatan, stigma terhadap orang dengan HIV masih menjadi tantangan dalam upaya penanganan penyakit ini. Kekhawatiran akan diskriminasi dapat membuat sebagian orang enggan menjalani tes atau mencari layanan kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Dinkes Sumut menyebut sebagian pasien dari kabupaten atau kota lain memilih berobat ke Medan karena alasan privasi. Kondisi tersebut perlu diperhatikan saat membaca data wilayah, sebab lokasi pasien menjalani pengobatan belum tentu sama dengan domisili asalnya.
Peningkatan akses pemeriksaan, kerahasiaan layanan, pengobatan yang berkelanjutan, dan edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV. Dengan mengetahui status lebih awal, orang yang terinfeksi dapat memperoleh perawatan yang sesuai sekaligus mengambil langkah untuk mencegah penularan.