Jumat, 25 September 2026

Persentase Pengeluaran Makanan dan Bukan Makanan di Sumatera Utara: Kota Medan Paling Sejahtera?

ari tanjung - Minggu, 05 Juli 2026 08:00 WIB
Persentase Pengeluaran Makanan dan Bukan Makanan di Sumatera Utara: Kota Medan Paling Sejahtera?
Diagram Pengeluaran Per Kapita Sumatera Utara 2025

Topikseru.com, Medan - Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan bahwa masyarakat Sumatera Utara masih mengalokasikan sebagian besar pengeluaran bulanannya untuk kebutuhan makanan.

Secara rata-rata, penduduk Sumatera Utara menghabiskan 54,79% pengeluaran per kapita setiap bulan untuk makanan, sedangkan 45,21% digunakan untuk kebutuhan bukan makanan.

Komposisi pengeluaran ini menjadi salah satu indikator penting dalam melihat tingkat kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:

Semakin besar proporsi pengeluaran untuk makanan, umumnya menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih lebih banyak terserap untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Sebaliknya, semakin tinggi pengeluaran untuk kebutuhan bukan makanan, semakin baik tingkat kesejahteraan ekonomi suatu wilayah.

Rata-rata Pengeluaran Penduduk Sumatera Utara Tahun 2025

Kategori Persentase
Makanan 54,79%
Bukan Makanan 45,21%

Artinya, lebih dari separuh pengeluaran masyarakat Sumatera Utara masih digunakan untuk membeli bahan pangan, makanan siap saji, serta kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Kota Medan Menjadi Daerah dengan Pengeluaran Bukan Makanan Tertinggi

Di antara seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara, Kota Medan mencatat komposisi pengeluaran yang paling berbeda.

Penduduk Kota Medan hanya mengalokasikan 45,12% pengeluaran untuk makanan, sementara 54,88% digunakan untuk kebutuhan bukan makanan.

Ini merupakan satu-satunya daerah di Sumatera Utara yang memiliki persentase pengeluaran bukan makanan lebih besar dibanding makanan.

Kondisi tersebut menunjukkan karakteristik kota metropolitan, di mana masyarakat memiliki pendapatan yang relatif lebih tinggi sehingga pengeluaran mulai bergeser ke berbagai kebutuhan lain seperti:

  • Pendidikan
  • Perumahan
  • Transportasi
  • Kesehatan
  • Komunikasi
  • Hiburan
  • Gaya hidup

Semakin tinggi proporsi pengeluaran bukan makanan, biasanya menunjukkan meningkatnya kualitas hidup masyarakat.

Kota dengan Pengeluaran Bukan Makanan Tertinggi

Kabupaten/Kota Makanan Bukan Makanan
Kota Medan 45,12% 54,88%
Kota Binjai 50,28% 49,72%
Kota Pematang Siantar 50,63% 49,37%
Kota Gunungsitoli 51,58% 48,42%
Deli Serdang 53,72% 46,28%
Batu Bara 53,79% 46,21%

Terlihat bahwa sebagian besar wilayah dengan pengeluaran bukan makanan tinggi berada di kawasan perkotaan atau wilayah penyangga Kota Medan.

Kabupaten dengan Pengeluaran Makanan Tertinggi

Sebaliknya, beberapa kabupaten masih memiliki proporsi pengeluaran makanan yang sangat tinggi.

Lima daerah dengan persentase pengeluaran makanan terbesar adalah:

Kabupaten Makanan Bukan Makanan
Tapanuli Selatan 64,13% 35,87%
Tapanuli Utara 63,78% 36,22%
Padang Lawas 63,53% 36,47%
Mandailing Natal 63,08% 36,92%
Humbang Hasundutan 62,20% 37,80%

Besarnya proporsi pengeluaran makanan di wilayah tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar pendapatan masyarakat masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Daerah dengan Komposisi Pengeluaran Paling Seimbang

Beberapa daerah mulai menunjukkan keseimbangan antara pengeluaran makanan dan bukan makanan.

Di antaranya:

Kabupaten/Kota Makanan Bukan Makanan
Kota Binjai 50,28% 49,72%
Kota Pematang Siantar 50,63% 49,37%
Kota Gunungsitoli 51,58% 48,42%

Komposisi yang hampir seimbang ini menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan selain konsumsi pangan.

Dalam ilmu ekonomi, terdapat konsep yang dikenal sebagai Hukum Engel (Engel's Law). Teori ini menjelaskan bahwa ketika pendapatan masyarakat meningkat, persentase pengeluaran untuk makanan cenderung menurun, sementara pengeluaran untuk kebutuhan lain akan meningkat.

Karena itu, daerah dengan proporsi pengeluaran bukan makanan lebih tinggi umumnya memiliki indikator kesejahteraan yang lebih baik dibanding daerah yang sebagian besar pendapatannya masih digunakan untuk membeli makanan.

Namun demikian, angka ini tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesejahteraan. Faktor lain seperti tingkat harga, inflasi, struktur ekonomi daerah, serta biaya hidup juga turut memengaruhi pola pengeluaran masyarakat.

Fakta Menarik Data Sumatera Utara 2025

  • Rata-rata masyarakat Sumatera Utara masih mengalokasikan 54,79% pengeluaran untuk makanan.
  • Kota Medan menjadi satu-satunya daerah dengan pengeluaran bukan makanan lebih besar daripada makanan.
  • Tapanuli Selatan mencatat proporsi pengeluaran makanan tertinggi, mencapai 64,13%.
  • Kota Binjai dan Kota Pematang Siantar memiliki komposisi pengeluaran yang hampir seimbang.
  • Wilayah perkotaan cenderung memiliki proporsi pengeluaran bukan makanan yang lebih tinggi dibanding wilayah kabupaten.

Data Susenas Maret 2025 menunjukkan bahwa struktur pengeluaran masyarakat Sumatera Utara masih didominasi oleh kebutuhan makanan. Meskipun demikian, beberapa kota besar seperti Kota Medan, Kota Binjai, dan Kota Pematang Siantar mulai menunjukkan pola konsumsi yang lebih modern dengan meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan bukan makanan.

Perbedaan pola pengeluaran antar kabupaten dan kota menggambarkan adanya variasi tingkat kesejahteraan, perkembangan ekonomi, serta karakteristik sosial masyarakat di masing-masing wilayah. Informasi ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di Sumatera Utara.

Sumber Data: Badan Pusat Statistik (BPS) – Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Sumber
:
Berita Terkait
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Masih Bergerak Fluktuatif Cenderung Melemah Terbatas
Kiat Cinta Laura Atasi Anxious Generation: Stop Main HP 1 Jam Pertama Pagi Hari
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,23% Tersudut di Level Rp17.735 per Dolar AS
XLSMART Dorong Ekonomi Sirkular Bawa #ByeByeBox untuk Kelola E-Waste ke ITB