Kamis, 24 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,23% Tersudut di Level Rp17.735 per Dolar AS

Mhd Rabbani - Rabu, 16 September 2026 10:02 WIB
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,23% Tersudut di Level Rp17.735 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Pukul 09.11 WIB nilai tukar rupiah dibuka melemah berada di level Rp 17.735 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Di mana nilai tukar rupiah melemah 0,23% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.694 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS pagi ini. Sementara, Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,44%, disusul rupiah yang melemah 0,23%, yen Jepang melemah 0,15%, baht Thailand melemah 0,04%. Di sisi lain, dolar Singapura melemah 0,04%, dolar Taiwan melemah 0,02%, yuan China melemah 0,01%. Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Kemudian, Ringgit Malaysia menguat 0,25%, peso Filipina menguat 0,12% dan dolar Hong Kong menguat 0,03% terhadap dolar AS. Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,72, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 99,61.

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak Fluktuatif dengan Kecenderungan Melemah

Pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan dari sentimen eksternal. Penguatan dolar AS, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed menjadi sejumlah faktor yang membayangi mata uang Garuda. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (15/9/2026), rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan juga tercermin dari kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Rupiah berada di level Rp 17.687 per dolar AS pada Selasa (15/9), melemah 0,29% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.635 per dolar AS. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (15/9/2026) dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS di pasar global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di saat yang sama, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed turut memberikan tekanan bagi mata uang kawasan emerging markets, termasuk rupiah. Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan Rabu (16/9/2026), terutama akibat perkembangan geopolitik global. Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dan memperkuat posisi di sepanjang Laut Merah serta Selat Bab al-Mandab. Eskalasi tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak global setelah fasilitas pipa minyak lintas negara milik Riyadh terdampak. Para analis memperkirakan gangguan ofensif tersebut dapat menambah 4% hingga 5% dari pasokan minyak dunia. Ketidakpastian geopolitik juga semakin meningkat setelah pembicaraan mengenai Selat Hormuz ditunda. Kondisi tersebut terjadi setelah Teheran membantah klaim Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan damai. "Iran menyatakan tidak akan ada dialog dengan AS sampai syarat-syarat mereka dipenuhi," kata Ibrahim Assuaibi. Dari Amerika Serikat, pasar juga mencermati perkembangan inflasi yang menjadi salah satu pertimbangan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Agustus tercatat naik 0,4% secara bulanan (MoM). Sementara itu, CPI inti meningkat 0,3% MoM, yang merupakan laju tercepat dalam empat bulan terakhir. Data tersebut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kini melonjak menjadi 89%, dari posisi pekan sebelumnya sebesar 59,4%. Dari dalam negeri, pasar merespons positif pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Penunjukan teknokrat fiskal yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 tersebut dinilai memberikan kepastian sekaligus menjaga kesinambungan disiplin fiskal, terutama dalam mempertahankan defisit APBN di bawah 3%. Meski demikian, tantangan fiskal Indonesia ke depan dinilai tetap besar. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dalam RAPBN 2027, sementara pembiayaan defisit mencapai Rp 571,2 triliun. "Suahasil harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia," ujar Ibrahim. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (16/9) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp 17.690 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau