Topikseru.com, Jakarta - Setelah hampir enam bulan berada dalam penyanderaan di Somalia, empat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) dari MT Honour 25 akhirnya kembali ke tanah air.
Di balik kepulangan mereka, pemerintah Indonesia ternyata tidak memenuhi tuntutan yang diajukan kelompok pembajak.
Duta Besar Indonesia untuk Kenya merangkap Somalia, Witjaksono Adji, mengatakan pemerintah memilih mengedepankan jalur diplomasi dengan berkomunikasi bersama pemerintah Somalia dan otoritas Puntland.
Baca Juga:
Namun, Indonesia tidak melakukan negosiasi resmi secara langsung dengan para pembajak maupun memberikan tuntutan yang mereka minta.
"Apabila dalam negosiasi kemudian kami memberikan apa yang diminta pembajak, hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan internasional," kata Witjaksono seusai serah terima empat ABK WNI kepada keluarga mereka di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (6/10/2026).
Pemberian imbalan kepada pembajak, kata dia, dikhawatirkan justru menciptakan insentif bagi terjadinya pembajakan berikutnya.
"Hal tersebut juga dapat mendorong pembajakan-pembajakan serupa dengan harapan aksi tersebut akan mendapat 'reward'," ujarnya.
Karena itu, pendekatan yang ditempuh Indonesia diarahkan melalui jalur diplomatik dan komunikasi dengan pihak-pihak yang memiliki pengaruh di wilayah tempat MT Honour 25 dibajak.
Indonesia menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat Somalia dan pemerintah negara bagian Puntland.
Puntland merupakan wilayah di timur laut Somalia yang menjadi lokasi perairan tempat kapal tersebut dibajak.
Witjaksono mengatakan Indonesia juga menjajaki peluang kerja sama di bidang kemaritiman dengan otoritas Puntland.
Penjajakan itu mencakup sektor ekonomi biru, perikanan, hingga penegakan hukum di wilayah maritim. Menurut Witjaksono, kerja sama tersebut sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan otoritas setempat.
Selain pemerintah Somalia dan Puntland, perwakilan Indonesia juga berkomunikasi dengan jejaring masyarakat serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) di wilayah setempat.
Jaringan tersebut menjadi salah satu sumber informasi mengenai perkembangan kondisi para sandera.
Witjaksono mengatakan empat ABK WNI akhirnya dibebaskan melalui operasi bersenjata yang dilakukan otoritas Puntland.
Informasi awal mengenai operasi tersebut diperoleh dari jejaring lokal yang sebelumnya mengetahui adanya operasi pembebasan sandera di kapal lain yang juga dibajak perompak.
Dari informasi tersebut, pihak Indonesia kemudian mengetahui bahwa operasi pembebasan turut menyelamatkan para ABK MT Honour 25.
Witjaksono menegaskan operasi bersenjata bukan merupakan pilihan utama yang ditempuh Indonesia.
Pemerintah sejak awal lebih mengutamakan upaya diplomasi dan koordinasi dengan pihak-pihak yang berada di Somalia.
Mereka terlebih dahulu menjalani proses pemulihan di Puntland sebelum akhirnya dipulangkan ke tanah air.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan pemerintah Indonesia selama proses tersebut terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak.
Koordinasi tidak hanya dilakukan dengan pemerintah Somalia dan pemilik kapal, tetapi juga dengan negara-negara lain yang warganya menjadi bagian dari kru MT Honour 25.
Kapal tersebut diketahui membawa 10 ABK asal Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar, selain empat WNI.
Mereka adalah:
Salah satu ABK, Fiki Mutakin, diketahui mengalami luka tembak pada kaki kanan. Saat tiba di Jakarta, ia masih menjalani proses pemulihan dan menggunakan kursi roda.
Kapal tersebut dibajak di perairan sekitar Hafun, Somalia, di bagian timur laut negara tersebut.
Saat kejadian, kapal membawa 16 awak yang terdiri atas empat WNI, 10 warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.
Sejak laporan pembajakan diterima, pemerintah Indonesia melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan keselamatan para ABK.
Pada tahap awal, Kemlu menyebut seluruh ABK WNI berada dalam kondisi baik. Pemerintah juga berupaya memastikan kebutuhan logistik para WNI terpenuhi dan gaji mereka tetap dibayarkan oleh pemberi kerja.
Proses penanganan kemudian berlangsung selama berbulan-bulan hingga akhirnya operasi pembebasan dilakukan pada akhir September.
Namun, perjalanan mereka belum langsung berakhir karena masih harus menjalani pemulihan sebelum dipulangkan ke Indonesia.
Pada 6 Oktober, penantian keluarga akhirnya berakhir ketika keempatnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Menlu Arrmanatha Nasir menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembebasan dan pemulangan tersebut, termasuk Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Komisi I DPR RI, KBRI, pemerintah Somalia, serta pihak lain yang membantu proses tersebut.
Indonesia memilih mempertahankan jalur diplomasi dan koordinasi dengan pemerintah Somalia serta otoritas Puntland tanpa memenuhi tuntutan kelompok pembajak.
Pada akhirnya, pembebasan para sandera berlangsung melalui operasi yang dilakukan otoritas Puntland.
Kini, keempat ABK WNI telah kembali ke tanah air dan berkumpul dengan keluarga masing-masing.
Setelah hampir enam bulan berada dalam situasi penyanderaan, kepulangan mereka menjadi penutup dari rangkaian panjang upaya pembebasan WNI ABK MT Honour 25 yang dimulai sejak kapal tersebut dibajak di perairan Hafun pada April 2026.