Topikseru.com, Medan - Persaingan kendaraan elektrifikasi di Sumatera Utara memasuki babak baru. MG Motor Indonesia membawa MG ZS Hybrid+ ke Medan dengan menawarkan teknologi hybrid sebagai pilihan bagi konsumen yang ingin mengurangi ketergantungan pada mesin bensin tanpa harus langsung beralih ke mobil listrik penuh.
SUV hybrid tersebut diperkenalkan MG bersama Mimosa Group di Centre Point Medan, Sabtu (3/10/2026).
Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi di Medan tidak hanya diarahkan pada mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). MG melihat masih ada kelompok konsumen yang membutuhkan fleksibilitas mesin bensin dalam perjalanan sehari-hari.
Baca Juga:
CEO MG Motor Indonesia Jason Huang mengatakan Medan menjadi salah satu pasar penting karena karakter kebutuhan mobilitas masyarakatnya cukup beragam.
"Medan merupakan salah satu pasar penting bagi MG di Indonesia dengan kebutuhan mobilitas yang sangat beragam," ujar Jason.
MG mencoba menyasar konsumen yang sudah tertarik pada teknologi elektrifikasi, tetapi belum sepenuhnya siap meninggalkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
CEO Mimosa MG Darius Syahputra mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan MG menghadirkan model hybrid di pasar Sumatera Utara.
Menurut dia, sebagian konsumen sudah siap menggunakan EV, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan fleksibilitas mesin bensin.
"Di Indonesia, ada yang berminat langsung ke elektrifikasi penuh, yaitu EV. Ada juga yang ingin masuk ke elektrifikasi tetapi masih ragu untuk berpindah sepenuhnya dari ICE. Karena itu kami menghadirkan opsi hybrid," kata Darius.
Dengan pendekatan tersebut, MG ZS Hybrid+ diposisikan sebagai kendaraan transisi menuju ekosistem elektrifikasi.
Konsumen tidak harus memilih antara mobil bensin konvensional atau mobil listrik penuh. Teknologi hybrid menawarkan kombinasi keduanya dalam satu kendaraan.
Berikut harga OTR Medan:
Dengan banderol mulai Rp 315 juta, MG ZS Hybrid+ masuk ke segmen SUV hybrid yang menyasar konsumen yang menginginkan kombinasi efisiensi, teknologi dan fleksibilitas penggunaan.
Harga tersebut juga menjadi salah satu faktor yang akan menentukan kemampuan MG memperluas pasar hybrid di Medan.
MG ZS Hybrid+ menggunakan mesin bensin 1,5 liter yang dipadukan dengan motor listrik berdaya tinggi serta transmisi 3-Speed Dedicated Hybrid Transmission (3DHT).
Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga gabungan maksimum hingga 214 PS.
Teknologi 3DHT menjadi salah satu bagian yang ditonjolkan MG karena sistem tersebut dirancang untuk mengatur perpindahan tenaga dari mesin bensin dan motor listrik sesuai kebutuhan berkendara.
MG juga membekali kendaraan ini dengan delapan mode propulsi hybrid, sehingga penggunaan tenaga dapat disesuaikan secara otomatis dengan kondisi perjalanan.
Darius mengatakan pendekatan tersebut membuat MG ZS Hybrid+ tidak hanya mengejar efisiensi.
MG juga ingin mempertahankan karakter berkendara yang responsif.
"Biasanya mobil hybrid lebih dikenal karena efisiensinya. Namun ketika dicoba dari sisi performa, kadang masih terasa kurang," ujarnya.
Mobil ini memiliki ruang baris kedua yang dirancang lapang serta kapasitas bagasi hingga 1.457 liter.
Fitur kenyamanan lainnya mencakup panoramic sunroof dan power tailgate.
Kombinasi tersebut membuat MG menyasar kebutuhan yang cukup luas, mulai dari mobilitas perkotaan hingga perjalanan antarkota.
Bagi pasar Medan dan Sumatera Utara, karakter tersebut menjadi penting karena kendaraan tidak hanya digunakan untuk aktivitas dalam kota, tetapi juga perjalanan menuju berbagai daerah di Sumut.
SUV hybrid ini dibekali 15 fungsi Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) dan tujuh airbag.
Fitur tersebut menjadi bagian dari upaya MG untuk menawarkan teknologi keselamatan yang lebih aktif kepada konsumen.
MG juga menyebut model ini telah mendapatkan peringkat keselamatan lima bintang dari ANCAP.
Dengan kombinasi ADAS dan sistem perlindungan pasif, aspek keselamatan menjadi salah satu nilai jual yang ditawarkan bersama teknologi hybrid.
Sebelumnya, MG telah memasarkan MG S5 EV di Indonesia dan mencatat penjualan lebih dari 2.000 unit.
Catatan tersebut menjadi salah satu dasar MG untuk terus memperluas portofolio kendaraan elektrifikasinya.
Namun, strategi ZS Hybrid+ berbeda.
Jika kendaraan listrik penuh membutuhkan konsumen untuk sepenuhnya mengandalkan baterai, teknologi hybrid menawarkan kombinasi mesin bensin dan motor listrik.
Karakter tersebut diharapkan dapat memperluas basis konsumen MG di luar pengguna EV murni.
Menurutnya, pasar elektrifikasi tidak harus dipahami sebagai persaingan antara kendaraan bensin dan EV semata.
Ada segmen konsumen yang sedang berada dalam proses transisi.
Kelompok inilah yang ingin dibidik MG ZS Hybrid+.
Head of Marketing MG Motor Indonesia Harry Kurniawan mengatakan model tersebut sebelumnya telah dipasarkan di sejumlah negara seperti Inggris, Eropa dan Australia.
Menurut data yang dimiliki MG, model tersebut juga masuk dalam tiga besar SUV hybrid terlaris di Inggris dan Eropa.
Kini MG membawa model tersebut ke Medan untuk memperkuat penetrasi di segmen kendaraan elektrifikasi.
Produsen tidak hanya berlomba menghadirkan EV, tetapi juga mencari konsumen yang berada di antara kendaraan konvensional dan mobil listrik penuh.
MG ZS Hybrid+ di Medan mengambil posisi tersebut.
Dengan mesin bensin 1,5 liter, motor listrik, transmisi 3DHT, tenaga hingga 214 PS, 15 fitur ADAS dan tujuh airbag, MG menawarkan kombinasi performa dan teknologi elektrifikasi dalam format SUV.
Sementara dari sisi harga, banderol Rp 315 juta hingga Rp 345 juta OTR Medan membuat produk ini masuk ke pasar yang lebih luas dibandingkan sebagian SUV elektrifikasi dengan harga premium.
Bagi MG, tantangan berikutnya bukan hanya memperkenalkan teknologi tersebut.
Perusahaan perlu membuktikan bahwa konsumen Sumatera Utara melihat hybrid sebagai solusi mobilitas, bukan sekadar kendaraan peralihan sebelum akhirnya berpindah ke EV.
Kehadiran MG ZS Hybrid+ di Medan pun menjadi bagian dari perubahan lanskap otomotif Sumut, ketika pilihan kendaraan elektrifikasi semakin beragam dan konsumen memiliki lebih banyak opsi untuk menentukan seberapa jauh mereka ingin beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil.