Jumat, 25 September 2026

Arti Londo Ireng yang Diucapkan Prabowo: Sejarah, Asal-usul, dan Maknanya dalam Politik Indonesia

Muchlis - Minggu, 26 Juli 2026 00:36 WIB
Arti Londo Ireng yang Diucapkan Prabowo: Sejarah, Asal-usul, dan Maknanya dalam Politik Indonesia
arti londo ireng
Topikseru.com - Istilah londo ireng kembali menjadi perhatian publik setelah diucapkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Kamis (23/7/2026). Dalam pidato tersebut, Prabowo menegaskan pemerintah tidak antikritik. Menurut dia, kritik merupakan bagian dari sistem demokrasi. Namun, ia menilai terdapat pihak-pihak yang tidak sekadar menyampaikan kritik, melainkan berupaya membangun opini bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang buruk. Prabowo kemudian menggunakan istilah londo ireng untuk menggambarkan kelompok yang, menurut pandangannya, lebih mengabdi kepada kepentingan pihak lain dibandingkan kepentingan bangsa sendiri. "Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM," ujar Prabowo dalam pidatonya. Pernyataan tersebut memicu kembali pembahasan mengenai asal-usul istilah londo ireng, yang sesungguhnya memiliki akar sejarah panjang pada masa kolonial Hindia Belanda.

Apa Arti Londo Ireng?

Secara etimologis, londo ireng berasal dari bahasa Jawa. Kata londo berarti orang Belanda, sedangkan ireng berarti hitam. Jika diterjemahkan secara harfiah, istilah itu berarti "Belanda Hitam." Dalam konteks sejarah, sebutan tersebut bukan ditujukan kepada orang Belanda asli, melainkan kepada prajurit asal Afrika Barat yang bertugas di dalam Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19. Di kalangan pemerintah kolonial, mereka dikenal dengan nama Zwarte Hollanders atau Black Dutchmen. Sebagian besar berasal dari wilayah Dutch Gold Coast—kini menjadi bagian dari Ghana—serta sejumlah kawasan Afrika Barat lainnya seperti Burkina Faso, Mali, Niger, Pantai Gading, dan Benin. Meski berasal dari Afrika, para prajurit itu mengenakan seragam KNIL, menggunakan identitas administrasi Belanda, serta memperoleh status hukum yang setara dengan tentara Eropa dalam struktur militer kolonial. Kondisi inilah yang melahirkan penyebutan londo ireng di tengah masyarakat Jawa.

Berawal dari Krisis Militer Belanda

Kemunculan pasukan Afrika dalam tubuh KNIL tidak terlepas dari kebutuhan militer Belanda setelah berakhirnya Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Perang tersebut menguras kekuatan militer Belanda dengan korban yang besar. Pada saat hampir bersamaan, Belgia memisahkan diri dari Kerajaan Belanda sehingga sumber pasukan dari Eropa semakin terbatas. Untuk mengatasi kekurangan personel, pemerintah kolonial kemudian merekrut prajurit dari Afrika Barat sepanjang periode 1831 hingga 1872. Diperkirakan lebih dari 3.000 orang Afrika Barat bergabung ke dalam KNIL. Sebagian mendaftar secara sukarela, sementara sebagian lainnya berasal dari kalangan budak atau tawanan perang yang diperoleh dari wilayah Kekaisaran Ashanti. Belanda menilai prajurit Afrika memiliki daya tahan lebih baik terhadap iklim tropis dibandingkan tentara Eropa. Selain itu, mereka dianggap tidak memiliki hubungan sosial maupun emosional dengan masyarakat Nusantara sehingga dinilai lebih kecil kemungkinannya berpihak kepada gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Terlibat dalam Berbagai Operasi Militer

Selama bertugas di Hindia Belanda, pasukan Afrika tersebut diterjunkan dalam berbagai operasi militer kolonial. Mereka ikut terlibat dalam sejumlah ekspedisi di berbagai wilayah Nusantara, termasuk operasi militer di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Timor, hingga Perang Aceh, yang menjadi salah satu konflik kolonial terpanjang pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Keberadaan mereka kemudian menjadi bagian dari sejarah militer kolonial sekaligus meninggalkan istilah londo ireng yang masih dikenal hingga sekarang.

Makna Londo Ireng dalam Penggunaan Modern

Seiring perkembangan waktu, makna londo ireng mengalami pergeseran. Dalam penggunaan kontemporer, istilah tersebut lebih sering dipakai sebagai metafora politik atau kritik sosial, yakni untuk menyebut seseorang yang dianggap lebih berpihak kepada kepentingan asing daripada kepentingan nasional. Karena digunakan sebagai ungkapan kiasan, maknanya saat ini tidak lagi berkaitan dengan identitas etnis maupun asal-usul seseorang, melainkan merujuk pada persepsi mengenai sikap atau keberpihakan dalam konteks politik dan sosial. Penggunaan istilah ini kerap memunculkan perdebatan di ruang publik karena dipandang memiliki muatan historis sekaligus politis, tergantung pada konteks penyampaiannya.

Sumber
:
Berita Terkait