Topikseru.com - Pelabuhan Belawan memiliki peran penting dalam aktivitas perdagangan dan distribusi barang di Sumatera Utara. Setiap harinya, berbagai komoditas diperjualbelikan melalui jalur laut, mulai dari hasil perkebunan, bahan pangan, pupuk, hingga material industri.
Selama ini, Pelabuhan Belawan identik dengan pengiriman minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Padahal, aktivitas bongkar muat di pelabuhan yang berada di Kota Medan tersebut mencakup berbagai jenis barang untuk memenuhi kebutuhan industri, pertanian, perdagangan, dan konsumsi masyarakat.
Keberadaan pelabuhan ini juga menjadi penghubung antara produsen di Sumatera Utara dengan pasar domestik maupun internasional.
Baca Juga:
CPO dan Produk Turunan Sawit Jadi Komoditas Penting
Salah satu komoditas yang memiliki peran besar dalam aktivitas perdagangan Pelabuhan Belawan adalah kelapa sawit.
Sumatera Utara merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit di Indonesia. Hasil perkebunan tersebut tidak hanya dipasarkan dalam bentuk minyak sawit mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk turunan.
Beberapa di antaranya adalah CPO, minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO), olein, dan stearin.
Produk-produk tersebut digunakan sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, hingga berbagai produk kebutuhan rumah tangga.
Pelindo Multi Terminal menyediakan layanan terminal curah cair di Belawan untuk menangani CPO dan produk turunannya dengan kapasitas pelayanan hingga 6 juta ton.
Besarnya aktivitas ini memperlihatkan bagaimana sektor perkebunan memiliki keterkaitan langsung dengan perdagangan dan kegiatan logistik di pelabuhan.
Pupuk dan Semen Ikut Meramaikan Aktivitas Bongkar Muat
Selain produk perkebunan, pupuk dan semen juga menjadi komoditas yang ditangani di Pelabuhan Belawan.
Kedua barang tersebut umumnya didistribusikan untuk mendukung kegiatan pertanian, perkebunan, serta pembangunan.
Berdasarkan catatan PT Pelindo Multi Terminal, hingga Agustus 2026, arus general cargo dan bag cargo di Branch Belawan mencapai 475.346 ton/m³.
Jumlah tersebut meningkat 22 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar 390.907 ton/m³.
Peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh aktivitas bongkar pupuk dalam kemasan dan semen dalam kemasan.
Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas pelabuhan tidak hanya bergantung pada komoditas ekspor, tetapi juga pada kebutuhan barang untuk mendukung kegiatan ekonomi di dalam negeri.
Bungkil, Cangkang, hingga Bahan Pangan
Komoditas lainnya yang ditangani Pelabuhan Belawan adalah bungkil dan cangkang.
Bungkil, termasuk bungkil inti sawit, merupakan hasil samping pengolahan kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak.
Sementara itu, cangkang sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar biomassa untuk kebutuhan industri.
Selain itu, terdapat pula komoditas food and feed, seperti bahan pangan dan bahan baku pakan, serta bungkil kedelai atau soybean meal.
Komoditas-komoditas tersebut masuk dalam kelompok curah kering yang menjadi bagian penting dari aktivitas terminal nonpetikemas.
Pelindo Multi Terminal mencatat arus curah kering di Belawan mencapai 4,12 juta ton hingga Agustus 2026.
Jumlah tersebut tumbuh 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,6 juta ton.
Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas bongkar muat bungkil dan cangkang.
Karet dan Hasil Perkebunan Lainnya Juga Menjadi Bagian Perdagangan
Selain kelapa sawit, Sumatera Utara juga dikenal sebagai daerah penghasil karet.
Karet alam menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki pasar industri, baik di dalam maupun luar negeri. Bahan ini digunakan untuk pembuatan ban, komponen kendaraan, perlengkapan industri, dan berbagai produk lainnya.
Selain karet, produk perkebunan lain seperti kopi dan hasil pertanian juga menjadi bagian dari perdagangan Sumatera Utara.
Namun, tidak semua komoditas tersebut selalu melewati Pelabuhan Belawan. Jalur pengiriman dapat berbeda bergantung pada lokasi produksi, fasilitas pengolahan, eksportir, dan tujuan perdagangan.
Volume Impor Belawan Capai 6,31 Juta Ton
Besarnya aktivitas Pelabuhan Belawan tidak hanya terlihat dari pengiriman barang ke luar negeri, tetapi juga dari kegiatan impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor melalui Pelabuhan Belawan pada 2025 mencapai 6,312 juta ton.
Jumlah tersebut memang menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 6,679 juta ton.
Meski demikian, angka tersebut memperlihatkan besarnya arus barang yang masuk melalui pelabuhan ini.
Barang impor diperlukan untuk mendukung berbagai kegiatan produksi dan perdagangan, termasuk penyediaan bahan baku industri serta kebutuhan lainnya.
Data BPS juga mencatat bahwa volume impor melalui Belawan pada 2021 mencapai 5,757 juta ton. Angka tersebut meningkat dalam beberapa tahun berikutnya sebelum mengalami penurunan pada 2025.
Pelabuhan Belawan Punya Peran Strategis bagi Ekonomi Sumut
Beragam komoditas yang keluar dan masuk melalui Pelabuhan Belawan menunjukkan bahwa aktivitas pelabuhan memiliki hubungan erat dengan berbagai sektor ekonomi.
Sektor perkebunan membutuhkan jalur pengiriman untuk memasarkan hasil produksinya. Industri membutuhkan bahan baku dan material pendukung, sedangkan sektor pertanian memerlukan pasokan pupuk dan bahan lainnya.
Aktivitas tersebut juga melibatkan perusahaan pelayaran, jasa angkutan, pergudangan, perusahaan logistik, hingga tenaga kerja bongkar muat.
Karena itu, kelancaran operasional Pelabuhan Belawan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung distribusi barang dan perdagangan di Sumatera Utara.
Dengan beragam komoditas yang ditangani, Pelabuhan Belawan bukan hanya menjadi pintu keluar masuk barang, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi yang menghubungkan Sumatera Utara dengan berbagai wilayah dan pasar internasional.