Selasa, 03 November 2026

Banyak Orang Bertanya soal Penyakit kepada AI, Kenali Risikonya

Rizky Aisyah - Selasa, 03 November 2026 18:43 WIB
Banyak Orang Bertanya soal Penyakit kepada AI, Kenali Risikonya
Bertanya soal penyakit kepada AI memang praktis. Namun, jangan langsung percaya pada hasilnya. AI bisa salah memahami gejala dan memberikan saran yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh.

Topikseru.com -Ketika tubuh terasa tidak sehat, sebagian orang kini tidak langsung membuka mesin pencari atau pergi ke fasilitas kesehatan. Mereka mulai mengetik keluhan ke chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mencari tahu kemungkinan penyakit yang dialami.

Cukup menuliskan gejala seperti demam, batuk, sakit kepala, atau nyeri perut, AI dapat memberikan sejumlah kemungkinan penyebab beserta penjelasannya. Jawaban yang cepat dan mudah dipahami membuat teknologi ini terasa praktis, terutama bagi orang yang ingin mendapatkan informasi awal.

Namun, ada risiko yang perlu diperhatikan. Jawaban AI tidak selalu benar, meskipun disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan. Jika informasi tersebut langsung dipercaya dan dijadikan dasar pengobatan, dampaknya bisa membahayakan kesehatan.

Baca Juga:

1. AI Bisa Memberikan Informasi yang Keliru

Salah satu risiko penggunaan AI untuk mencari informasi kesehatan adalah munculnya jawaban yang tidak akurat.

AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola informasi yang dipelajarinya. Dalam kondisi tertentu, teknologi ini dapat menghasilkan informasi yang terlihat masuk akal, tetapi ternyata keliru. Fenomena tersebut dikenal sebagai halusinasi AI.

Risiko ini menjadi perhatian dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal npj Digital Medicine pada Februari 2026.

Penelitian tersebut menguji empat chatbot AI menggunakan 222 pertanyaan medis yang diajukan pasien. Dari 888 jawaban yang dianalisis, peneliti menemukan tingkat respons bermasalah berbeda-beda, mulai dari 21,6 persen hingga 43,2 persen. Sebagian jawaban juga dinilai tidak aman dan berpotensi membahayakan pasien.

Temuan ini menunjukkan bahwa jawaban chatbot tidak bisa langsung dianggap sebagai informasi medis yang benar.

2. Gejala yang Sama Bisa Menunjukkan Penyakit Berbeda

Risiko berikutnya adalah kesalahan memahami gejala.

Seseorang yang mengalami demam dan batuk mungkin mengira dirinya hanya terkena flu. Namun, keluhan serupa juga dapat ditemukan pada penyakit lain dengan tingkat keparahan berbeda.

AI bisa menyebutkan beberapa kemungkinan berdasarkan informasi yang dituliskan pengguna. Akan tetapi, chatbot tidak dapat melakukan pemeriksaan fisik, mengambil sampel darah, atau menjalankan pemeriksaan medis lainnya.

Kementerian Kesehatan RI melalui imbauannya pada 31 Desember 2024 juga mengingatkan bahwa AI hanya dapat memberikan informasi awal. Gejala yang sama belum tentu menunjukkan penyakit yang sama pada setiap orang.

Karena itu, jawaban AI tidak dapat menggantikan diagnosis dari dokter.

3. Pengguna Bisa Salah Mengambil Keputusan Pengobatan

Informasi kesehatan yang kurang tepat dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam menangani penyakit.

Misalnya, seseorang mengalami nyeri perut kemudian bertanya kepada AI. Chatbot memberikan beberapa kemungkinan penyebab dan menyarankan langkah penanganan umum.

Jika pengguna langsung mengikuti saran tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi sebenarnya, ia berisiko melakukan penanganan yang tidak sesuai.

Risiko lain adalah seseorang merasa penyakitnya tidak serius karena AI memberikan jawaban yang menenangkan. Padahal, gejala yang dialami mungkin membutuhkan pemeriksaan segera.

Sebaliknya, jawaban yang menyebutkan kemungkinan penyakit berat juga dapat membuat pengguna panik meskipun belum ada pemeriksaan yang memastikan kondisi tersebut.

Oleh sebab itu, keputusan mengenai obat, dosis, dan tindakan pengobatan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada jawaban chatbot.

4. Data Pribadi dan Riwayat Kesehatan Bisa Terpapar

Ketika bertanya kepada AI, pengguna terkadang memasukkan informasi pribadi secara lengkap.

Informasi tersebut bisa berupa nama, usia, alamat, riwayat penyakit, hasil pemeriksaan laboratorium, foto kondisi tubuh, hingga daftar obat yang sedang dikonsumsi.

Padahal, tidak semua informasi tersebut perlu dibagikan untuk mendapatkan penjelasan umum.

Pengguna perlu memahami kebijakan privasi setiap layanan sebelum memasukkan informasi kesehatan. Hindari membagikan identitas pribadi, nomor rekam medis, alamat rumah, atau dokumen medis yang memuat data sensitif jika tidak benar-benar diperlukan.

Riwayat kesehatan merupakan informasi pribadi yang perlu dijaga. Kemudahan bertanya kepada AI jangan sampai membuat pengguna mengabaikan keamanan datanya.

5. AI Tidak Selalu Memahami Kondisi Setiap Pasien

Jawaban AI sangat bergantung pada informasi yang diberikan pengguna.

Jika seseorang hanya menuliskan satu atau dua gejala tanpa menjelaskan usia, lama keluhan, riwayat penyakit, dan kondisi lainnya, jawaban yang muncul bisa kurang sesuai.

Bahkan, cara seseorang menjelaskan gejala dapat memengaruhi respons yang diberikan.

Penelitian dari University of Oxford yang dipublikasikan pada Februari 2026 menemukan bahwa penggunaan chatbot AI untuk membantu masyarakat mengambil keputusan medis masih memiliki keterbatasan.

Dalam penelitian tersebut, peserta yang menggunakan AI tidak menunjukkan keputusan yang lebih baik dibandingkan peserta yang mengandalkan metode pencarian informasi biasa atau penilaian sendiri.

Peneliti juga menemukan bahwa pengguna sering tidak mengetahui informasi apa saja yang perlu disampaikan agar chatbot dapat memberikan jawaban yang tepat.

Bagaimana Cara Aman Menggunakan AI untuk Mencari Informasi Kesehatan?

Meski memiliki risiko, AI tetap bisa dimanfaatkan untuk membantu masyarakat memahami informasi kesehatan. Kuncinya adalah tidak menjadikan jawaban chatbot sebagai satu-satunya pegangan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, gunakan AI untuk mencari penjelasan umum mengenai gejala atau istilah medis yang belum dipahami. Jangan langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri atau anggota keluarga menderita penyakit tertentu.

Kedua, periksa kembali informasi yang diberikan melalui sumber kesehatan tepercaya, seperti Kementerian Kesehatan, rumah sakit, atau organisasi kesehatan resmi.

Ketiga, jangan menggunakan jawaban AI sebagai dasar untuk membeli, menghentikan, atau mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Keempat, segera cari pertolongan medis apabila mengalami gejala berat atau kondisi yang memburuk. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena chatbot memberikan jawaban yang dianggap menenangkan.

Kementerian Kesehatan RI juga menegaskan bahwa informasi dari AI sebaiknya diperlakukan sebagai titik awal pencarian, bukan sebagai diagnosis atau dasar pengobatan.

Pada akhirnya, AI dapat membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan dengan lebih mudah. Namun, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan dalam memahami kondisi tubuh setiap individu.

Menggunakan AI secara bijak berarti mengetahui kapan teknologi tersebut bisa membantu dan kapan seseorang harus mendapatkan pemeriksaan langsung dari tenaga kesehatan.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut: Tiga Tradisi Melayu Sumut yang Terancam Dilupakan
Nama Ahmad Dhani Disebut di Sidang Korupsi Bea Cukai, KPK Buka Peluang Panggil
KPK Bongkar Dugaan Permainan Cukai Djarum Sejak 2010, Potensi Kerugian Negara Tembus Triliunan Rupiah
Pria Tenggelam di Pantai Siporoporo Simalungun Ditemukan di Kedalaman 17 Meter
RANS Carnival Tasikmalaya Batal Sementara, Imbas Boikot Raffi Ahmad?
Kepastian Ketersediaan Kamar Rawat Inap Bakal Dijawab Ranperda Sistem Kesehatan Medan