Senin, 26 Oktober 2026

Kunyit Asam hingga Beras Kencur, Mengenal Jamu Tradisional yang Tetap Populer

Rizky Aisyah - Senin, 26 Oktober 2026 14:36 WIB
Kunyit Asam hingga Beras Kencur, Mengenal Jamu Tradisional yang Tetap Populer
RRI
Jamu tradisional telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia selama beberapa generasi. Mulai dari kunyit asam, beras kencur, hingga temulawak, minuman ini tetap dikenal di tengah maraknya minuman modern.

Topikseru.com -Jamu tradisional menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia sejak lama. Minuman yang dibuat dari berbagai bahan seperti kunyit, jahe, kencur, dan temulawak ini masih dikonsumsi hingga sekarang, meskipun pilihan minuman modern semakin beragam.

Jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan budaya dan pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman untuk menjaga kesehatan.

Di tengah perkembangan zaman, jamu terus mengalami perubahan. Jika dahulu jamu identik dengan penjual yang berkeliling membawa botol-botol kaca, kini minuman tersebut juga tersedia dalam bentuk kemasan praktis dan dijual melalui berbagai saluran, termasuk platform digital.

Baca Juga:

Mengenal Berbagai Jenis Jamu Tradisional

Indonesia memiliki beragam jenis jamu dengan bahan dan cara pembuatan yang berbeda. Beberapa di antaranya cukup populer dan mudah ditemukan di masyarakat.

1. Kunyit Asam

Kunyit asam merupakan salah satu jenis jamu yang dikenal luas. Bahan utamanya adalah kunyit dan asam jawa, yang biasanya diolah bersama air dan pemanis sesuai selera.

Minuman ini memiliki rasa asam dan sedikit getir dengan warna kuning khas kunyit. Kunyit mengandung kurkumin, senyawa yang banyak diteliti karena memiliki aktivitas biologis, termasuk aktivitas antiinflamasi dalam penelitian tertentu.

Meski demikian, kandungan tersebut tidak berarti setiap minuman kunyit asam otomatis dapat mengobati penyakit. Manfaatnya juga dipengaruhi oleh komposisi, jumlah bahan, dan cara pengolahan.

2. Beras Kencur

Beras kencur dibuat menggunakan beras dan kencur sebagai bahan utama. Dalam sejumlah resep, minuman ini juga ditambahkan jahe, gula, atau bahan lain untuk menghasilkan rasa yang khas.

Beras kencur dikenal memiliki rasa yang relatif ringan dan sedikit manis. Jamu ini sering dikonsumsi sebagai bagian dari kebiasaan tradisional masyarakat.

Cara pembuatan dan komposisinya dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, sehingga rasa maupun kandungan akhirnya tidak selalu sama.

3. Wedang Jahe

Jahe sering digunakan dalam minuman tradisional, termasuk wedang jahe. Berbeda dari beberapa jenis jamu yang menggunakan campuran banyak bahan, wedang jahe umumnya dibuat dengan merebus atau menyeduh jahe menggunakan air panas.

Minuman ini memiliki rasa hangat dan aroma khas. Wedang jahe kerap dikonsumsi ketika cuaca dingin atau sebagai minuman penghangat tubuh.

Jahe juga telah diteliti untuk sejumlah manfaat kesehatan tertentu. Namun, penggunaannya sebagai minuman sehari-hari tetap perlu dibedakan dari penggunaan sebagai terapi untuk kondisi medis.

4. Temulawak

Temulawak merupakan tanaman rimpang yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Indonesia. Bagian rimpangnya dapat diolah menjadi minuman atau campuran jamu.

Temulawak mengandung senyawa seperti kurkuminoid dan xanthorrhizol. Berbagai penelitian mengkaji potensi senyawa tersebut, tetapi klaim manfaat tertentu tetap harus didasarkan pada bukti yang sesuai.

Karena itu, temulawak sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti pemeriksaan atau pengobatan medis ketika seseorang mengalami keluhan kesehatan.

Mengapa Jamu Tradisional Masih Bertahan?

Salah satu alasan jamu tetap dikenal adalah karena bahan-bahannya relatif akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kunyit, jahe, kencur, dan temulawak juga banyak digunakan sebagai bumbu masakan sehingga mudah dikenali masyarakat.

Selain itu, kebiasaan minum jamu diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi sebagian keluarga, pembuatan jamu di rumah menjadi bagian dari tradisi yang masih dipertahankan.

Faktor lainnya adalah perubahan cara penyajian. Jamu kini tidak selalu dijual dalam bentuk racikan tradisional. Sebagian produsen mengemasnya dalam botol, menyediakan pilihan siap minum, atau memasarkan produknya melalui internet.

Perubahan ini membuat jamu lebih mudah dijangkau konsumen yang menginginkan produk praktis. Namun, kemasan modern tidak otomatis menjamin kualitas atau keamanan produk. Konsumen tetap perlu memperhatikan komposisi, izin edar jika diwajibkan, serta petunjuk penyimpanan.

Jamu Gendong dan Perubahan Cara Berjualan

Jamu gendong merupakan salah satu bentuk penjualan jamu tradisional yang telah lama dikenal di Indonesia. Penjual biasanya membawa sejumlah botol berisi jamu dengan berbagai pilihan rasa dan bahan.

Keberadaan penjual jamu gendong juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang tanaman dan racikan tradisional dipertahankan melalui praktik sehari-hari.

Saat ini, penjualan jamu memiliki berbagai bentuk. Selain penjual keliling, jamu dapat ditemukan di pasar tradisional, toko minuman, usaha rumahan, hingga toko daring.

Perkembangan tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan jamu kepada konsumen yang lebih luas. Meski demikian, produsen tetap perlu memperhatikan kebersihan bahan, proses pengolahan, ketahanan produk, dan ketentuan keamanan pangan atau obat tradisional yang berlaku.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengonsumsi Jamu

Walaupun dibuat dari bahan alami, jamu tidak selalu aman dikonsumsi tanpa memperhatikan kondisi tubuh dan cara pembuatannya.

Pertama, pastikan bahan yang digunakan bersih dan tidak tercemar. Jika membuat jamu sendiri, cuci rimpang dengan air mengalir dan gunakan peralatan yang bersih.

Kedua, perhatikan jumlah gula atau pemanis tambahan, terutama bagi orang yang perlu membatasi asupan gula.

Ketiga, simpan jamu sesuai karakteristik produknya. Jamu segar yang dibuat tanpa proses pengawetan dapat lebih mudah rusak sehingga tidak sebaiknya dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.

Keempat, orang yang sedang mengonsumsi obat, memiliki kondisi kesehatan tertentu, atau sedang hamil sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum rutin mengonsumsi ramuan herbal tertentu. Bahan herbal dapat menimbulkan efek samping atau berinteraksi dengan obat.

Konsumen juga perlu berhati-hati terhadap produk yang menjanjikan kesembuhan berbagai penyakit secara cepat atau mengklaim dapat menggantikan pengobatan medis.

Jamu Tradisional, Warisan yang Terus Berkembang

Jamu tradisional tetap dikenal karena menggabungkan bahan yang akrab bagi masyarakat, kebiasaan turun-temurun, dan ragam cita rasa khas Indonesia. Perkembangan kemasan serta pemasaran juga membuat minuman ini dapat menjangkau konsumen dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Meski demikian, pelestarian jamu bukan hanya soal mempertahankan resep lama. Kebersihan proses pembuatan, mutu bahan, keamanan produk, dan ketepatan informasi mengenai manfaatnya juga perlu diperhatikan.

Dengan demikian, jamu dapat terus menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia sekaligus dikembangkan sebagai produk yang lebih praktis dan bertanggung jawab di era modern.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Temulawak dan Kunyit RI Lebih Hebat dari Ginseng Korsel Kata Kepala BPOM