Topikseru.com – Penyakit kelamin pada pria masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia maupun dunia. Banyak penderita tidak menyadari telah terinfeksi karena beberapa penyakit menular seksual (PMS) sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Jika tidak segera ditangani, penyakit kelamin bukan hanya memengaruhi organ reproduksi, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan kesuburan, meningkatkan risiko kanker tertentu, hingga menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Karena itu, mengenali gejala sejak dini dan segera memeriksakan diri ke tenaga medis menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Apa Itu Penyakit Kelamin?
Penyakit kelamin atau infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral tanpa pengaman. Beberapa jenis infeksi juga dapat menyebar melalui kontak kulit, penggunaan jarum suntik bersama, atau dari ibu ke bayi saat kehamilan maupun persalinan.
Berikut enam penyakit kelamin yang paling sering menyerang pria.
1. Gonore (Kencing Nanah)
Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi saluran kemih, rektum, maupun tenggorokan.
- Gejala gonore pada pria:
- Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil.
- Keluar cairan putih, kuning, atau kehijauan dari penis.
- Pembengkakan dan nyeri pada salah satu buah zakar.
- Nyeri saat buang air besar jika menyerang rektum.
Apabila tidak diobati, gonore dapat menyebabkan epididimitis yang berpotensi mengganggu kesuburan pria.
2. Klamidia
Klamidia merupakan infeksi akibat bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini sering disebut sebagai "silent infection" karena banyak penderitanya tidak mengalami gejala.
- Gejala yang dapat muncul:
- Nyeri saat buang air kecil.
- Cairan bening atau keruh dari penis.
- Nyeri pada testis.
- Nyeri di bagian bawah perut.
Jika dibiarkan, klamidia dapat menyebabkan infertilitas dan meningkatkan risiko tertular HIV.
3. Sifilis (Raja Singa)
Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini berkembang dalam beberapa tahap dan gejalanya berbeda-beda.
Gejala awal:
- Luka kecil yang tidak terasa nyeri pada penis, anus, atau mulut.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Pada tahap lanjut dapat muncul:
- Ruam kulit.
- Demam.
- Rambut rontok.
- Gangguan saraf, otak, mata, hingga jantung apabila tidak mendapat pengobatan.
4. Herpes Genital
Herpes genital disebabkan oleh virus Herpes Simplex (HSV), terutama tipe HSV-2, meski HSV-1 juga dapat menjadi penyebab.
- Gejala herpes genital:
- Lepuhan kecil berisi cairan di sekitar alat kelamin.
- Rasa gatal atau terbakar.
- Luka yang terasa nyeri setelah lepuhan pecah.
- Nyeri saat buang air kecil.
Virus herpes akan tetap berada di dalam tubuh sehingga gejala dapat kambuh sewaktu-waktu.
5. Kutil Kelamin (HPV)
Infeksi Human Papillomavirus (HPV) menjadi salah satu penyakit kelamin yang paling umum terjadi.
Ciri-ciri:
- Benjolan kecil di penis, skrotum, atau sekitar anus.
- Bentuk menyerupai kembang kol.
- Biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.
Beberapa tipe HPV berisiko menyebabkan kanker penis, kanker anus, maupun kanker tenggorokan. Vaksin HPV dapat membantu mencegah infeksi dari tipe virus tertentu.
6. HIV/AIDS
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh lebih rentan mengalami infeksi serius.
Gejala awal HIV:
- Demam.
- Sakit tenggorokan.
- Ruam kulit.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Pada tahap lanjut, HIV yang tidak diobati dapat berkembang menjadi AIDS dan meningkatkan risiko infeksi oportunistik maupun beberapa jenis kanker.
Faktor Risiko Penyakit Kelamin pada Pria
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual meliputi:
- Berganti-ganti pasangan seksual.
- Berhubungan seksual tanpa kondom.
- Memiliki riwayat penyakit menular seksual sebelumnya.
- Berbagi penggunaan jarum suntik.
- Tidak menjalani pemeriksaan kesehatan seksual secara rutin.
- Risiko Jika Tidak Segera Diobati
Penyakit kelamin yang tidak ditangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti:
- Infertilitas atau gangguan kesuburan.
- Infeksi kronis pada saluran reproduksi.
- Penularan kepada pasangan seksual.
- Meningkatkan risiko infeksi HIV.
- Kerusakan otak, jantung, dan organ vital pada kasus sifilis stadium lanjut.
- Risiko kanker akibat infeksi HPV tertentu.
- Penurunan kualitas hidup hingga mengancam jiwa pada penderita HIV yang tidak mendapatkan terapi.
Cara Mencegah Penyakit Kelamin
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk mengurangi risiko infeksi menular seksual.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
- Menggunakan kondom secara benar dan konsisten saat berhubungan seksual.
- Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
- Menjalani tes IMS secara berkala, terutama bagi individu yang aktif secara seksual.
- Mendapatkan vaksin HPV dan hepatitis B sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
- Menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian.
- Segera memeriksakan diri ke dokter apabila muncul gejala mencurigakan pada organ reproduksi.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera lakukan pemeriksaan ke dokter apabila mengalami keluhan seperti keluar cairan dari penis, nyeri saat buang air kecil, muncul luka atau benjolan di area kelamin, ruam yang tidak diketahui penyebabnya, maupun setelah melakukan hubungan seksual berisiko.
Deteksi dan pengobatan sejak dini tidak hanya meningkatkan peluang kesembuhan, tetapi juga membantu mencegah penularan kepada pasangan serta mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.
Berita Terkait