Rabu, 23 September 2026

Aksi Kamisan Medan Soroti Penculikan, Kriminalisasi, dan September Hitam

Administrator - Kamis, 18 September 2025 21:04 WIB
Aksi Kamisan Medan Soroti Penculikan, Kriminalisasi, dan September Hitam
Aksi Kamisan Medan
Topikseru.com - Titik Nol Kota Medan kembali dipenuhi suara lantang dari massa Aksi Kamisan Medan, Kamis (18/9/2025). Dengan tajuk “Penculikan, Kriminalisasi, Pembungkaman, Kekerasan, dan Utak-atik Konstitusi oleh Rezim”, para peserta aksi menegaskan kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai gagal melindungi demokrasi dan mengabaikan penyelesaian kasus pelanggaran HAM.

Kritik atas Negara dan Demokrasi yang Mundur

Dalam orasinya, Gana, salah satu peserta aksi, menuding negara tidak pernah melakukan evaluasi atas kebijakan yang justru memperlebar jurang ketimpangan sosial. Dia mencontohkan konflik agraria di Sumatera Utara, mulai dari Padang Halaban hingga Natinggir, yang masih menyisakan praktik perampasan tanah petani. "Negara tidak pernah mengevaluasi kesalahannya dalam membuat kebijakan yang tidak mengakomodir kepentingan rakyat," ujar Gana. Sementara itu, Wisnu, peserta aksi lainnya, menyoroti praktik kriminalisasi terhadap warga yang berani bersuara kritis. Menurutnya, demokrasi di Indonesia tengah mundur ketika buku dijadikan barang bukti tindak kejahatan. "Apa gunanya negara ini demokrasi, seseorang yang bersuara ditangkap, orang yang berpikir kritis dan membaca buku dianggap melawan negara," kata Wisnu.

Mengingat September Hitam

Momentum September dijadikan pengingat oleh massa aksi. Wisnu menyebut September Hitam sebagai bulan kelam yang menyimpan tragedi penghilangan paksa hingga Tragedi Semanggi I. "Hingga kini, dalang peristiwa itu tidak pernah diadili. Yang ditangkap hanyalah aktor-aktor terpaksa, demi memberi kesan bahwa negara bekerja," ujarnya.

Tiga Tahun Aksi Kamisan Medan

Aksi Kamisan bukan hal baru di Indonesia. Gerakan ini telah berlangsung sejak 2007 di depan Istana Merdeka, Jakarta, sebagai simbol perlawanan terhadap impunitas kasus pelanggaran HAM. Di Medan, aksi serupa sudah konsisten digelar sejak tiga tahun lalu. Setiap Kamis sore, massa berpakaian serba hitam membawa payung hitam, simbol duka yang belum tuntas. Bagi mereka, kehadiran di jalan bukan sekadar ritual, melainkan upaya menjaga ingatan publik dan menagih janji negara: menyelesaikan pelanggaran HAM, menghapus kriminalisasi, dan mengembalikan demokrasi ke jalurnya.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Aksi Kamisan Medan Galang Dana untuk Korban Banjir Bandang Sumatera, Kritik Pemerintah Dinilai Lamban
KKJ Sumut dan Aksi Kamisan Medan Kritik Mentan Amran Sulaiman yang Menggugat Tempo: Ini Pembungkaman Pers!
Gelombang Protes di Medan Soal Insiden Soanggama: Tuntut Hentikan Militerisme dan Perampasan Wilayah Adat di Papua
Aksi Kamisan Medan Panas! Massa Soroti Tanah Dirampas, Pendidikan Mahal, dan Makan Bergizi Gratis yang Dinilai “Pembohongan Publik”
Aksi Kamisan Medan Soroti Pelanggaran HAM 1965, Tuntut TNI Kembali ke Barak
Hari Tani Nasional 2025: Wagub Sumut Lari Lewat Pintu Belakang Digeruduk Massa APARA