Kamis, 24 September 2026

Pengamat Pasar Modal: IHSG dalam Jangka Pendek Diperkirakan Bergerak Sideways dengan Kecenderungan Volatil

Mhd Rabbani - Senin, 13 Juli 2026 07:56 WIB
Pengamat Pasar Modal: IHSG dalam Jangka Pendek Diperkirakan Bergerak Sideways dengan Kecenderungan Volatil
IHSG
Topikseru.com, Jakarta -  Pada Perdagangan Jumat (10/7/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,53% ke level 5.924,36. Pergerakan IHSG pada pekan depan diperkirakan masih cenderung terbatas dengan volatilitas yang tinggi, di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif. Menurut Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, IHSG dalam jangka pendek masih bergerak sideways dengan kecenderungan fluktuatif. “IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih bergerak sideways dengan kecenderungan volatil di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik,” ujar Hendra. Dari eksternal, pelaku pasar mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meningkatkan premi risiko, terutama jika mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz. Namun demikian, respons pasar global sejauh ini masih relatif terukur karena konflik dinilai belum berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi. Di saat yang sama, investor juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed. Dari dalam negeri, likuiditas perdagangan yang masih relatif tipis mencerminkan investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko. “Penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki katalis fundamental,” tambah Hendra. Ia menilai, selama tidak ada eskalasi geopolitik yang lebih besar maupun kejutan dari kebijakan moneter global, IHSG masih berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi sambil menunggu sentimen baru. Prediksi dan Rekomendasi Saham Senada, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways-bearish. “Penguatan IHSG masih lebih tepat dipandang sebagai technical rebound daripada awal bullish reversal,” ujar Tim Riset Kiwoom. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak pada area resistance 5.950-5.987. Sementara itu, jika menembus ke bawah level 5.900, IHSG berpotensi menguji support di kisaran 5.839-5.805. Kiwoom mencatat, tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari faktor geopolitik, tetapi juga dari kondisi domestik seperti arus keluar dana asing yang masih besar. Sepanjang tahun berjalan, foreign net sell tercatat mencapai sekitar Rp90 triliun, seiring pelemahan rupiah dan rendahnya volume transaksi harian. Selain itu, sentimen negatif juga datang dari isu aksesibilitas pasar Indonesia setelah evaluasi dari S&P Dow Jones Indices dan keputusan MSCI yang masih mempertahankan pembatasan terhadap saham Indonesia. Di sisi lain, eskalasi geopolitik dan arah kebijakan The Fed menjadi faktor utama yang memengaruhi aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi suku bunga global yang berpotensi bertahan tinggi serta kenaikan yield obligasi Amerika Serikat turut meningkatkan tekanan terhadap pasar saham domestik. Meski demikian, sejumlah faktor masih menjadi penopang IHSG, seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif terjaga di atas 5%, valuasi saham yang mulai menarik, serta kinerja emiten berkapitalisasi besar yang masih solid. Dalam kondisi ini, Hendra menilai sektor defensif seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi masih layak dicermati. Sementara itu, sektor energi berpotensi outperform seiring kenaikan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik. “Saham seperti ADRO, PGEO, dan PGAS berpotensi memperoleh sentimen positif, sementara TINS dapat diuntungkan jika harga logam kembali menguat,” jelas Hendra. Dari sisi strategi, investor disarankan untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat, sambil tetap disiplin dalam manajemen risiko. “Strategi terbaik saat ini adalah selective accumulation, bukan aggressive bottom fishing,” tulis Kiwoom. Untuk jangka pendek, Hendra merekomendasikan saham PT Alamtri Resource Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga Rp2.500 per saham. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di Rp1.100 per saham, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di Rp1.575 per saham, serta PT Timah (Persero) Tbk (TINS) di Rp3.750 per saham. Namun, investor tetap diimbau tidak terlalu agresif menambah porsi investasi hingga arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik menjadi lebih jelas.  
Sumber
:
Berita Terkait
IHSG Langsung Ngebut Naik 22,7 Poin ke Level 6.407,428 Pagi Ini
IHSG Terkoreksi ke 6.349, Pasar Awas RDG BI & Aturan Baru Saham Rp 1
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
IHSG Melemah 17,64 Poin Masih Bersandar di Level 6.423,51 Siang Ini
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau