Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Senin (10/8/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan pekan ini. Di mana Indeks melanjutkan kenaikan akhir pekan lalu.
Berdasarkan yang dilansir dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG menguat 0,56% ke level 6.445,24. Seluruh indeks sektoral kompak menguat jadi penopang laju IHSG pagi ini.
Sektor yang naik paling tinggi antara lain sektor barang baku, keuangan, energi, barang konsumer non primer, infrastruktur dan perindustrian.
Ada sebanyak 345 saham yang menguat jadi penopang laju IHSG, sebanyak 119 saham melemah dan 233 saham stagnan.
Total volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 1,81 miliar dengan nilai transaksi Rp 746 miliar.
Top gainers di LQ45 adalah:
1. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) 3,26% ke Rp 2.220 per saham
2. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) 2,94% ke Rp 210 per saham
3. PT Solusi Sinergi Digital (WIFI) 1,98% ke Rp 2.060 per saham HRTA
Saham Net Buy dan Net Sell Terbesar Asing Sepekan Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Astra International Tbk (ASII) 0,98% ke Rp 5.050 per saham
2. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) 0.94% ke Rp 525 per saham
3. PT Alamtri Resources Tbk (ADRO) 0,39% ke Rp 2.530 per saham
Analis Pasar: IHSG Bergerak Mixed dengan Kecenderungan Menguat Terbatas
Pada perdagangan Senin (10/8/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan setelah mencatat kinerja positif sepanjang pekan lalu.
Pelaku pasar akan mencermati sentimen domestik dan eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan bursa. Pada perdagangan Jumat (7/8), IHSG menguat 1,04% ke level 6.409,65.
Dalam sepekan, indeks saham Indonesia tersebut naik 2,78%. Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, penguatan IHSG pekan lalu ditopang sejumlah sentimen positif.
Menanggapi hal tersebut, Analis Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% secara tahunan (yoy).
Kinerja emiten pada semester I-2026 yang relatif solid turut menopang pasar saham. Selain itu, inflasi Juli 2026 sebesar 2,88% dan penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.800 per dolar AS memberikan tambahan sentimen positif bagi pasar.
Dari eksternal, pelemahan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) setelah data nonfarm payroll (NFP) Juli terkontraksi turut meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengambil kebijakan moneter yang lebih dovish.
"Hal ini membuka peluang aliran dana ke emerging market," ujar Reza.
Berdasarkan kondisi tersebut, Reza memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk menguat pada perdagangan Senin.
Ia menempatkan level support di 6.400-6.350 dan resistance di 6.425-6.450.
Sementara itu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan menguat terbatas.
Ia menempatkan support di level 6.320 dan resistance 6.480. Salah satu sentimen domestik yang menjadi perhatian pasar adalah indeks keyakinan konsumen Juli 2026.
Indeks tersebut diperkirakan berada di level 116, turun dari 117,8 pada bulan sebelumnya.
Menurut Audi, penurunan keyakinan konsumen melanjutkan tren pelemahan dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi.
Persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja juga cenderung menurun. Di tengah peluang penguatan IHSG, investor tetap perlu mencermati pergerakan saham secara selektif.
Reza menyarankan investor memperhatikan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BRPT), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).
Audi merekomendasikan strategi trading buy untuk PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dengan support Rp 2.090 dan resistance Rp 2.400 per saham.
Untuk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Audi memberikan rekomendasi speculative buy dengan support Rp 2.830 dan resistance Rp 3.130.
Sementara itu, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) direkomendasikan buy on break pada level Rp 645 per saham. Adapun level support ESSA berada di Rp 605 dan resistance Rp 685 per saham.
Berita Terkait