Kamis, 24 September 2026

Harga Minyak Mentah Naik Dipicu Donald Trump Ancam akan Jatuhkan Sanksi Ekonomi Terhadap Mitra Dagang Iran

Mhd Rabbani - Sabtu, 22 Agustus 2026 12:47 WIB
Harga Minyak Mentah Naik Dipicu Donald Trump Ancam akan Jatuhkan Sanksi Ekonomi Terhadap Mitra Dagang Iran
Harga Minyak Mentah
Topikseru.com, Houston - Pada perdagangan Jumat (21/8/2026) harga minyak mentah berjangka internasional dan AS naik setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi. Terhadap mitra dagang Iran, sehingga memicu ekspektasi pasokan yang lebih ketat dalam beberapa minggu mendatang. Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent (patokan internasional) ditutup pada harga US$ 94,39 per barel, naik 61 sen atau 0,65%. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada harga US$ 87,06 per barel, naik 23 sen atau 0,26%. Patokan Brent telah naik 6,39% sementara WTI naik 5,66% minggu ini, dengan keduanya sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada sesi sebelumnya. "Sanksi adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Iran tunduk," kata John Kilduff, mitra di Again Capital. Iran pada hari Jumat menyatakan bahwa responsnya terhadap ancaman baru AS akan bersifat "menghancurkan" setelah Washington berjanji untuk menjatuhkan hukuman finansial terberat dalam sejarah dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran. "Dampak langsung terhadap pasokan mungkin terbatas karena ekspor Iran sudah sangat terhambat oleh blokade angkatan laut AS," kata Crispus Nyaga, analis riset di Empire FX. "Namun, peningkatan insiden pelayaran dan tindakan balasan terhadap sanksi ekonomi dapat memperburuk situasi saat ini, di tengah kondisi lalu lintas melalui Selat Hormuz yang masih jauh di bawah tingkat normal." Namun, solusi alternatif dan sumber pasokan lain sedang ditemukan sementara akses di Selat Hormuz masih terbatas, kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. "Hormuz masih menjadi masalah, tetapi bukan lagi satu-satunya isu utama," ujar Flynn dalam catatan pagi. "Jalur pipa, kapal pengangkut (shuttle), minyak serpih (shale) AS, Venezuela yang mulai pulih (meski terkendala hambatan logistik), serta UEA yang tidak terkendala—semuanya turut menambah volume pasokan." Harga minyak naik akibat kekhawatiran mengenai berlanjutnya pembatasan pasokan dari produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Kesepakatan damai sebelumnya antara AS dan Iran berakhir pekan ini tanpa adanya upaya dari kedua belah pihak untuk memulai kembali perundingan. Penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di Tiongkok telah menurun dan harga melonjak pekan ini karena blokade AS memangkas pengiriman dari Iran, menurut sumber perdagangan, di tengah ancaman sanksi tambahan dari Washington. Gangguan Pasokan Berlanjut Tujuh kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis—jumlah yang hanya separuh dari angka hari sebelumnya—berdasarkan data dari layanan pelacakan kapal Kpler. Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Saat perang mendekati bulan keenam, gangguan terhadap arus energi melalui jalur perairan tersebut masih terus terjadi. Di tempat lain, militer Ukraina menyerang kilang minyak Rusia di kota Perm pada malam hari—lokasi yang berjarak lebih dari 1.600 km (1.000 mil) dari perbatasan Ukraina—kata Presiden Volodymyr Zelenskiy pada hari Jumat.
Sumber
:
Berita Terkait
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Harga Minyak Mentah Brent Turun 1,97% di Level US$ 101,82 per Barel
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau