Kamis, 24 September 2026

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Sepanjang Sepekan Masih Relatif Terbatas

Mhd Rabbani - Sabtu, 29 Agustus 2026 09:26 WIB
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Sepanjang Sepekan Masih Relatif Terbatas
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (28/8/2026) nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan pekan ini di zona hijau di pasar spot. Namun, penguatan nilai tukar rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan dari pasar global, terutama akibat posisi dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg pada nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,29% atau 51 poin ke level Rp 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara, berdasarkan data Trading Economics, mata uang Garuda menguat ke posisi Rp 17.689,4 per dolar AS. Sedangkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan penguatan 0,33% dari Rp 17.762 menjadi Rp 17.703 per dolar AS. Meski menguat pada perdagangan terakhir pekan ini, ruang apresiasi nilai tukar rupiah sepanjang sepekan masih relatif terbatas. Kondisi tersebut tidak terlepas dari dolar AS yang tetap kuat serta imbal hasil (yield) US Treasury yang bertahan pada level tinggi. Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik masih memberikan bantalan bagi rupiah. BI-Rate yang berada di level 5,75%, cadangan devisa sebesar US$ 145,3 miliar. Serta berlanjutnya aliran modal masuk menjadi sejumlah faktor yang membantu meredam volatilitas nilai tukar. Dengan dukungan tersebut, pergerakan rupiah masih bertahan di kisaran Rp 17.700-an per dolar AS meskipun tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman menilai bahwa dinamika pasar keuangan global dalam jangka pendek masih memegang peranan dominan terhadap arah pergerakan rupiah. Memasuki pekan depan, perhatian pelaku pasar akan mengarah pada sejumlah indikator global, mulai dari rilis data tenaga kerja AS. Ekspektasi kebijakan suku bunga acuan The Fed, pergerakan yield Treasury, hingga perkembangan geopolitik dan harga minyak dunia. “Dalam jangka pendek rupiah masih sangat sensitif terhadap risk appetite global, sementara fundamental domestik lebih berfungsi sebagai penahan agar depresiasi tidak berlangsung terlalu dalam,” ungkap Rizal. Selain faktor eksternal, kondisi arus modal asing juga menjadi salah satu indikator yang akan dicermati investor. Rizal menyebut pasar keuangan domestik akan tetap memperhatikan stabilitas aliran dana asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Efektivitas kebijakan stabilisasi Bank Indonesia juga akan menjadi perhatian pasar. Di samping itu, dinamika politik dalam negeri turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Untuk perdagangan selama sepekan mendatang, Rizal memperkirakan rupiah masih akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah secara terbatas. Ia memproyeksikan rupiah berada dalam rentang Rp 17.650 hingga Rp 17.950 per dolar AS. Ruang penguatan tetap terbuka apabila dolar AS mengalami koreksi dan aliran modal asing ke pasar domestik semakin meningkat. Namun, level Rp 18.000 per dolar AS diperkirakan masih menjadi batas psikologis penting yang akan menjadi perhatian otoritas moneter. Bank Indonesia diperkirakan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen dan intervensi di pasar valuta asing apabila diperlukan. “Artinya, volatilitas masih tinggi, tetapi belum menunjukkan tekanan fundamental yang mengarah pada pelemahan tajam,” ujar Rizal.
Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
IHSG Terkoreksi ke 6.349, Pasar Awas RDG BI & Aturan Baru Saham Rp 1
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini