Kamis, 24 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Menguat ke level 17.638 per Dolar AS Pagi Ini

Mhd Rabbani - Selasa, 08 September 2026 11:54 WIB
Nilai Tukar Rupiah Menguat ke level 17.638 per Dolar AS Pagi Ini
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada pembukaan perdagangan pagi ini nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (8/9/2026) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat ke level 17.638 per dolar AS. Di mana nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,01% dibandingkan pada level penutupan perdagangan kemarin, Senin (7/9/2026) yang berada di level Rp 17.640 per dolar AS. Sebelumnya, analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi bahwa rupiah menguat tipis setelah data menunjukkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026. Menanggapi hal tersebut, namun Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik masih menjadi tekanan bagi rupiah. Pasar juga menantikan data AS, yakni indeks harga konsumen dan indeks harga produsen, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Untuk perdagangan Selasa (8/9), Ibrahim memproyeksi rupiah cenderungan melemah di kisaran Rp 17.640–Rp 17.680. Lukman memperkirakan rupiah di Rp 17.600–Rp 17.700 per dolar AS.

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Bergerak Fluktuatif di Rentang Rp17.640-Rp17.680 per Dolar AS

Pada perdagangan Senin (7/9/2026) nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 17.640 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Di mana nilai tukar rupiah menguat tipis 0,01% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 17.653 per dolar AS. Posisi tersebut melemah Rp17 atau sekitar 0,10% dibandingkan JISDOR Jumat (4/9) yang berada di level Rp 17.636 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar rupiah menghadapi tantangan dari meningkatnya risiko ekonomi domestik. Sejumlah bencana yang mengganggu aktivitas transportasi dan masyarakat dinilai dapat menambah kompleksitas risiko ekonomi serta menguji ruang kebijakan moneter Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyoroti sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan Indonesia sepanjang pekan ini. Selain perkembangan eksternal, perhatian juga tertuju pada kondisi domestik yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar. “Pekan ini sepertinya menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing,” ujar Ibrahim. Menurut Ibrahim, kekhawatiran pasar masih membayangi perekonomian domestik seiring terjadinya sejumlah bencana alam. Salah satunya adalah erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga akhir pekan. “Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan ini memang menimbulkan dampak yang sangat masif di sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat,” kata Ibrahim. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di setidaknya delapan bandara. Sekitar 170.000 penumpang juga tertahan di berbagai lokasi. Tak hanya erupsi Anak Krakatau, Ibrahim menyoroti bencana yang terjadi secara bersamaan, termasuk pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito. “Bencana alam yang terjadi secara serempak, termasuk pembakaran lahan gambut yang terjadi di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito membuat transportasi batubara terhenti dan ini turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok,” ujar Ibrahim. Menurut Ibrahim, pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sembari menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi. Perhatian terutama tertuju pada risiko apabila gangguan transportasi dan pembatasan aktivitas di luar rumah berlangsung lebih lama. Selain itu, pasar juga akan berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pekan ini. Data tersebut meliputi cadangan devisa Agustus, sentimen konsumen, serta penjualan ritel Juli. Perkembangan data tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menilai kondisi ekonomi domestik sekaligus ruang kebijakan moneter BI. Di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi, BI juga perlu mempertimbangkan risiko terhadap stabilitas rupiah dan arus modal asing. Untuk perdagangan Selasa (8/9/2026), Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp 17.640-Rp 17.680 per dolar AS.
Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau