Sabtu, 26 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Bakal Bergerak Volatil dengan Kecenderungan Menguat Terbatas

Mhd Rabbani - Jumat, 11 September 2026 09:21 WIB
Nilai Tukar Rupiah Bakal Bergerak Volatil dengan Kecenderungan Menguat Terbatas
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (11/9/2026) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan menguat terbatas. Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (10/9/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,2% ke level Rp 17.547 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.536 per dolar AS atau menguat 0,09%. Menanggapi hal tersebut, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (10/9/2026) dipengaruhi oleh dinamika tiga kelompok sentimen, yakni pelemahan indeks dolar AS (DXY) di sekitar 98,8, Tekanan kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$100 per barel dan tingginya yield US Treasury 10 tahun di 4,84%. Serta daya tahan modal asing di pasar obligasi domestik yang masuk mencapai US$90,5 juta. Untuk perdagangan Jumat (11/9/2026), Nanang mengatakan bahwa perhatian utama pasar global akan tertuju pada rilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat. Data ini menjadi penentu penting mengingat pelaku pasar tengah melakukan repricing terhadap arah kebijakan moneter The Fed menjelang pertemuan 15–16 September, di mana ekspektasi kenaikan suku bunga telah berada di sekitar 60%. Jika inflasi AS ternyata lebih tinggi dari perkiraan, yield US Treasury dan dolar AS berpotensi menguat sehingga menekan nilai tukar rupiah. Sebaliknya, apabila data CPI AS lebih rendah dari ekspektasi, dolar AS berpotensi melemah dan membuka ruang penguatan bagi mata uang Garuda. Selain inflasi AS, faktor risiko eksternal lain berasal dari lonjakan harga minyak mentah Brent di atas US$ 100 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi global memperbesar kebutuhan dolar AS untuk impor serta meningkatkan risiko inflasi global. Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah Indonesia masih menjadi penopang rupiah lewat masuknya arus modal asing. Kebijakan stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan NDF, serta cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar dipandang sebagai bantalan kuat dalam menahan tekanan eksternal. "Dengan demikian, ruang pelemahan rupiah akibat sentimen eksternal berpotensi lebih terbatas selama arus modal asing masih masuk dan Bank Indonesia tetap aktif melakukan stabilisasi," kata Nanang. Nanang memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada rentang Rp 17.450 – Rp 17.650 per dolar AS per dolar AS untuk Jumat (11/9/2026).  

Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
IHSG Terkoreksi ke 6.349, Pasar Awas RDG BI & Aturan Baru Saham Rp 1
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini