Minggu, 27 September 2026

PELNI Perkuat Budaya Safety di 84 Kapal lewat Fleet Safety Excellence Award 2026

Muchlis - Minggu, 20 September 2026 21:50 WIB
PELNI Perkuat Budaya Safety di 84 Kapal lewat Fleet Safety Excellence Award 2026
PELNI memperkuat budaya keselamatan armada melalui Fleet Safety Excellence Award 2026
Topikseru.com, Jakarta - Keselamatan pelayaran tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan alat keselamatan di atas kapal. Kesiapan awak menghadapi keadaan darurat, kemampuan mengenali potensi bahaya, hingga kepemimpinan nakhoda menjadi bagian penting yang ikut menentukan keamanan operasional. Hal itu menjadi perhatian PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI (Persero) melalui program Fleet Safety Excellence Award 2026. Program tersebut dirancang sebagai bentuk apresiasi sekaligus mendorong peningkatan budaya keselamatan di seluruh armada PELNI. Penilaiannya tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga praktik keselamatan yang dijalankan kapal dan awak kapal dalam kegiatan operasional sehari-hari. Sekretaris Perusahaan PELNI Ditto Pappilanda mengatakan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional perusahaan pelayaran nasional tersebut. "Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional PELNI. Melalui Fleet Safety Excellence Award, kami ingin membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh awak kapal untuk memastikan pelayaran berjalan aman dan andal," ujar Ditto.

Bukan Sekadar Penghargaan untuk Kapal

Fleet Safety Excellence Award 2026 mencakup sejumlah aspek yang berkaitan langsung dengan pengendalian risiko di kapal. Beberapa di antaranya adalah emergency response, pelaksanaan safety drill, kepemimpinan keselamatan, serta pelaporan hazard dan near miss. Pendekatan tersebut membuat keselamatan tidak berhenti pada pemenuhan prosedur administratif. Awak kapal didorong untuk mengenali potensi masalah sebelum berkembang menjadi insiden. Dalam situasi darurat, misalnya, setiap personel harus memahami peran masing-masing. Nakhoda menjadi pimpinan tertinggi di atas kapal, sementara perwira dan awak kapal menjalankan fungsi sesuai tugas, termasuk pengendalian keadaan darurat, pemadaman kebakaran, pertolongan, evakuasi, komunikasi, dan dukungan operasional. Pembagian tugas itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan yang terus dilatih melalui emergency response dan safety drill.

84 Kapal Jadi Ruang Penerapan Budaya Keselamatan

[caption id="attachment_56302" align="alignnone" width="1280"]PELNI memperkuat budaya keselamatan armada melalui Fleet Safety Excellence Award 2026 PELNI memperkuat budaya keselamatan pelayaran melalui Fleet Safety Excellence Award 2026 yang menilai drill, kepemimpinan dan pelaporan bahaya.[/caption] Program keselamatan PELNI menyasar armada yang dioperasikan perusahaan dalam berbagai jenis layanan. Informasi resmi PELNI pada 2026 menyebut perusahaan mengoperasikan 84 kapal, terdiri dari 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, 18 kapal rede, sembilan kapal tol laut, dan satu kapal ternak. Dengan cakupan armada tersebut, penerapan budaya keselamatan memiliki tantangan yang berbeda sesuai karakteristik operasional masing-masing kapal. Kapal penumpang, misalnya, harus mempertimbangkan keselamatan penumpang selain awak kapal. Sementara kapal perintis, kapal logistik, kapal ternak, dan kapal rede memiliki pola operasi serta kebutuhan keselamatan yang berbeda. Karena itu, penerapan International Safety Management (ISM) Code menjadi bagian penting dalam pengelolaan keselamatan kapal. Nakhoda memiliki tanggung jawab utama terhadap penerapan keselamatan di atas kapal. Pada saat yang sama, seluruh awak memiliki peran sesuai fungsi masing-masing untuk memastikan prosedur keselamatan berjalan.

Peralatan Keselamatan Jadi Lapisan Perlindungan

Selain kesiapan manusia, PELNI juga menyediakan berbagai perangkat keselamatan untuk mendukung operasional armadanya. Pada kapal penumpang, perusahaan mencatat ketersediaan 216 lifeboat dengan kapasitas 24.491 orang, 1.468 life-raft berkapasitas 36.700 orang, 70.671 life-jacket, 376 life-buoy, serta 25 Marine Evacuation System atau MES. Jika kapasitas lifeboat dan life-raft digabungkan, perangkat tersebut memiliki kapasitas mencapai 61.191 orang. Sementara pada kapal perintis terdapat 84 lifeboat dengan kapasitas 4.438 orang serta 600 life-raft dengan kapasitas 15.000 orang. Armada tersebut juga dilengkapi 16.253 life-jacket dan 310 life-buoy. Ketersediaan peralatan keselamatan tersebut tidak berdiri sendiri. Pengecekan dilakukan secara berkala oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. PELNI juga menyebut pemenuhan peralatan keselamatan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, termasuk kapasitas perlengkapan keselamatan sebesar 125 persen dari kapasitas maksimal kapal.

Empat Kategori Jadi Fokus Penilaian

Dalam Fleet Safety Excellence Award 2026, terdapat empat kategori utama yang menjadi bagian dari penilaian dan apresiasi. Kategori tersebut meliputi:
  • Emergency Response & Safety Drill Excellence
  • Safety Leadership Recognition
  • Best Hazard Reporting Excellence
  • The Best Fleet Safety Award
Keempat kategori tersebut menggambarkan pendekatan keselamatan yang mencakup kesiapan menghadapi keadaan darurat, peran kepemimpinan, keberanian melaporkan potensi bahaya, hingga penerapan keselamatan secara menyeluruh di lingkungan armada. Bagi PELNI, pelaporan hazard dan near miss juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Informasi mengenai potensi bahaya dapat menjadi bahan evaluasi sebelum berkembang menjadi kecelakaan atau gangguan operasional.

Safety Culture Didorong Jadi Kebiasaan

Ditto mengatakan penghargaan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kapal dengan catatan keselamatan yang baik. Target yang ingin dibangun adalah kebiasaan keselamatan yang konsisten di seluruh armada. "Yang kami harapkan bukan hanya munculnya kapal-kapal dengan kinerja keselamatan yang baik, tetapi terbentuknya kebiasaan dan budaya keselamatan yang diterapkan secara konsisten di seluruh armada. Dengan begitu, upaya pencegahan risiko dapat menjadi bagian dari setiap proses kerja di atas kapal," kata Ditto. Dengan pendekatan tersebut, Fleet Safety Excellence Award 2026 ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk mendorong evaluasi berkelanjutan terhadap praktik keselamatan di kapal. Keselamatan pelayaran pada akhirnya tidak hanya bergantung pada satu prosedur atau satu orang. Kesiapan alat, kemampuan awak, kepemimpinan di kapal, latihan keadaan darurat, hingga pelaporan potensi bahaya menjadi rangkaian yang saling berkaitan. Bagi PELNI, penguatan seluruh unsur tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan kapal, awak kapal, penumpang, muatan, dan lingkungan maritim dalam setiap perjalanan.

Sumber
:
Berita Terkait
Erupsi Anak Krakatau, PELNI Pastikan Kapal Tetap Berlayar: Ini Jadwal dari Jakarta
Sinergi BUMN Dorong Ekonomi & Sosial Banda Neira Lewat TJSL Berkelanjutan
PELNI dan Pelindo Buka Posko Bantuan Gempa NTT di Tanjung Priok, Angkutan Gratis 100%
481 Koli Bantuan Gempa NTT Diangkut KM Tidar, Tarif Muatan Digratiskan 100 Persen
PELNI Kirim 200 Koli Bantuan Gempa NTT, KM Tidar Berangkat dari Surabaya
PELNI Gratiskan Kirim Bantuan Gempa NTT, KM Tidar Berangkat 16 Agustus