Topikseru.com, Jakarta - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) membuat ancaman siber dengan membuat aksi penipuan dan kejahatan digital jadi lebih cepat dan berskala besar. Interpol menilai AI tidak mengubah teknik kejahatan, tetapi membuat metode yang sudah ada makin efektif. Indonesia pun bisa jadi incaran seluruh dunia
Bjorn R. Watne, Global Chief Information Security Officer Interpol, mengatakan pelaku penipuan kini dapat memanfaatkan AI untuk menargetkan banyak korban sekaligus. Kemampuan AI dalam menerjemahkan bahasa dan membuat identitas digital juga membuat interaksi palsu makin sulit dibedakan dari komunikasi yang sebenarnya.
Artinya, penipu dan penjahat dari seluruh dunia kini bisa melakukan aksi kejahatan ke sasaran di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Baca Juga:
"Ini adalah evolusi dan bukan revolusi," kata Watne dikutip CNBC Indonesia, Senin (5/10/2026). Menurutnya, AI terutama meningkatkan kecepatan dan skala teknik kejahatan yang sudah digunakan.
Watne mengingatkan perusahaan agar tidak mencoba melindungi seluruh aset dari semua jenis ancaman sekaligus. Perusahaan harus terlebih dahulu menentukan aset paling penting bagi operasionalnya atau crown jewels, lalu mengidentifikasi pihak yang berpotensi mencuri atau mengganggu aset tersebut.
Perusahaan kemudian dapat menggunakan informasi ancaman siber untuk memahami metode dan teknologi yang digunakan pelaku, sehingga sistem pertahanan dapat disesuaikan dengan ancaman yang dihadapi.
"Tidak perlu semua orang mencoba melindungi diri dari segala hal sekaligus ketika mereka tidak menjadi target dari ancaman tersebut," ujarnya.
Namun, Watne menilai masih banyak perusahaan yang menghadapi masalah karena strategi keamanan siber belum sepenuhnya terhubung dengan manajemen senior. Menurut dia, banyak industri juga belum menyadari bahwa hampir semua perusahaan saat ini pada dasarnya merupakan perusahaan teknologi.
Ancaman lain yang menjadi perhatian Watne adalah agentic AI, yakni AI yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mampu mengambil tindakan atas nama pengguna.
Ia memperingatkan kesalahan AI dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih serius ketika sistem tersebut diberi kemampuan untuk bertindak di dunia nyata.
"Satu hal jika AI memberikan informasi yang salah kepada Anda. Namun ketika AI benar-benar melakukan suatu tindakan dan mulai melakukan tindakan yang salah, terutama di ranah fisik, hal itu dapat menimbulkan konsekuensi berupa cedera fisik pada manusia," kata Watne.
Menurutnya, penggunaan AI pada perangkat seperti mobil dan kendaraan otonom menjadi salah satu area yang perlu diwaspadai. Risiko tersebut semakin besar karena masyarakat cenderung memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap teknologi.
Watne membandingkannya dengan layanan keuangan. Dalam sektor tersebut, pengguna biasanya lebih berhati-hati dengan menggunakan PIN dan mewaspadai risiko seperti pencurian data kartu. Sebaliknya, pengguna teknologi cenderung lebih cepat menerima perangkat dan aplikasi baru tanpa kewaspadaan yang sama.
"Ketika menyangkut teknologi, tingkat kepercayaannya sangat tinggi," ujarnya.
Semakin AI mampu bertindak atas nama manusia, Watne menilai tingkat kepercayaan tersebut perlu kembali diperiksa. Pasalnya, kesalahan AI tidak lagi sekadar menghasilkan informasi yang keliru, tetapi berpotensi memicu tindakan yang membawa konsekuensi nyata.