Sabtu, 26 September 2026

Iran Diduga Raup Hingga Rp 107 Triliun dari Ekspor Minyak Saat Gencatan Senjata dengan AS, Cadangan Devisa Menguat

Muchlis - Minggu, 19 Juli 2026 19:24 WIB
Iran Diduga Raup Hingga Rp 107 Triliun dari Ekspor Minyak Saat Gencatan Senjata dengan AS, Cadangan Devisa Menguat
Iran
Topikseru.com - Iran diduga berhasil meningkatkan pendapatan ekspor minyak secara signifikan selama periode gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS). Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, Teheran diperkirakan menjual sekitar 70 juta barel minyak dengan nilai mencapai US$5 miliar hingga US$6 miliar, atau setara sekitar Rp 89,7 triliun hingga Rp 107,7 triliun (kurs sekitar Rp 17.950 per dolar AS). Informasi tersebut diungkap The Wall Street Journal, yang mengutip analisis sejumlah pengamat energi serta data organisasi nirlaba United Against Nuclear Iran (UANI). Penjualan minyak dalam jumlah besar itu dinilai memberikan ruang bagi Iran untuk memperkuat cadangan devisa sebelum kebijakan pembatasan dari Washington kembali diberlakukan.

Penjualan Minyak Meningkat Setelah Blokade Laut Dicabut

Laporan tersebut menyebut peningkatan ekspor terjadi setelah Amerika Serikat mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan itu diumumkan pada Juni 2026 oleh Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/USCENTCOM), yang menyatakan pencabutan dilakukan atas instruksi Presiden Donald Trump. Dengan dibukanya kembali akses pelabuhan, aktivitas ekspor minyak Iran disebut kembali bergerak normal. Kondisi tersebut memungkinkan Teheran meningkatkan pengiriman minyak mentah ke pasar internasional dalam waktu relatif singkat. Sejumlah analis energi menilai momentum tersebut dimanfaatkan Iran untuk menggenjot ekspor sebelum muncul kemungkinan pengetatan sanksi baru dari Amerika Serikat.

Iran Klaim Pembatasan Ekspor Minyak Telah Dicabut

Tak lama setelah pengumuman dari pihak Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Washington telah melonggarkan sejumlah pembatasan ekonomi terhadap negaranya. Menurut Araghchi, selain membuka kembali jalur ekspor minyak, pemerintah AS juga mencairkan sebagian aset Iran yang sebelumnya dibekukan serta mulai menjalankan skema pemulihan ekonomi sebagai bagian dari proses diplomatik kedua negara. Pernyataan tersebut sempat memunculkan harapan akan membaiknya hubungan antara Teheran dan Washington setelah bertahun-tahun berada dalam ketegangan akibat isu nuklir, sanksi ekonomi, dan konflik kawasan.

Trump Sebut AS Memberi Kesempatan Iran

Pada Juli 2026, Presiden Donald Trump menyatakan tidak menyesali keputusan pemerintahannya mencabut blokade laut terhadap Iran. Menurut Trump, kebijakan tersebut merupakan bentuk kesempatan yang diberikan kepada Teheran untuk menunjukkan komitmen dalam mencapai penyelesaian diplomatik. Pernyataan itu muncul setelah kedua negara menandatangani memorandum penghentian konflik pada 18 Juni 2026. Dokumen tersebut menyerukan penghentian perang yang dipicu eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Gencatan Senjata Berakhir, Ketegangan Kembali Meningkat

Harapan terhadap stabilitas kawasan tidak berlangsung lama. Laporan menyebut militer Amerika Serikat kembali melancarkan sejumlah serangan ke wilayah Iran sejak 8 Juli 2026. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan balasan terhadap beberapa pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Iran menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati kedua pihak. Situasi semakin memanas setelah pada 9 Juli 2026 Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut menandai kembali meningkatnya tensi geopolitik di kawasan, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global.

Dampak terhadap Pasar Energi Dunia

Lonjakan ekspor minyak Iran selama masa pelonggaran pembatasan menjadi perhatian pelaku pasar energi internasional. Tambahan pasokan minyak dalam jumlah besar sempat membantu meningkatkan suplai global di tengah dinamika permintaan dunia. Namun, berakhirnya gencatan senjata kembali memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik di wilayah tersebut dinilai berpotensi memengaruhi harga minyak mentah internasional dan sentimen investor dalam beberapa waktu ke depan.

Sumber
:
Berita Terkait
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Pemprov Sumut - AS Perkuat Kemitraan Strategis
Imperialisme Modern dan 'New Western Century': Dunia Sedang Berubah
Rupiah Anjlok ke Rp 17.753/US$, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Trump-Warsh