Jumat, 25 September 2026

AS Serang Markas Angkatan Laut IRGC di Iran, Ketegangan Washington-Teheran Kembali Memanas

Muchlis - Jumat, 24 Juli 2026 17:16 WIB
AS Serang Markas Angkatan Laut IRGC di Iran, Ketegangan Washington-Teheran Kembali Memanas
AS serang markas IRGC Iran
Topikseru.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah sebuah markas Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Provinsi Gilan, Iran utara, menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat (AS) pada Jumat (24/7/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut menandai memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran, hanya beberapa pekan setelah kedua negara sempat menyepakati memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik bersenjata. Pejabat keamanan Provinsi Gilan, Ali Bagheri, mengatakan serangan menghantam kompleks Angkatan Laut IRGC di kawasan Zibakenar dan mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta peralatan militer. "Pagi ini, markas Angkatan Laut IRGC di Zibakenar diserang oleh musuh AS, sehingga menyebabkan kerusakan pada peralatan di dalam kompleks," ujar Ali Bagheri, seperti dikutip kantor berita Mehr. Meski demikian, otoritas Iran memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Pemerintah setempat juga telah membuka penyelidikan untuk mengungkap dampak serta rincian serangan.

Gencatan Senjata Kembali Runtuh

Serangan terbaru ini terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani memorandum perdamaian pada 18 Juni 2026 untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026. Namun, situasi kembali berubah ketika militer Amerika Serikat melancarkan operasi militer baru ke wilayah Iran mulai 8 Juli 2026. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan aksi Iran yang mengancam kapal-kapal dagang internasional di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, sehingga memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.

Trump Sebut Gencatan Senjata Tak Lagi Berlaku

Di tengah meningkatnya eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran sudah tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa hubungan kedua negara kembali memasuki fase konfrontasi terbuka, setelah upaya diplomasi yang sempat dilakukan beberapa waktu lalu gagal meredam ketegangan. Situasi ini turut menjadi perhatian dunia internasional mengingat potensi gangguan terhadap stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, termasuk risiko terhadap jalur distribusi minyak global yang melewati Selat Hormuz. Para pengamat menilai perkembangan terbaru berpotensi meningkatkan volatilitas pasar energi dunia apabila eskalasi konflik terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Sumber
:
Berita Terkait