Jumat, 25 September 2026

Update Korban Banjir Nepal-Tibet Minggu (30/8/2026): 750 Orang Tewas dan 3.044 Masih Hilang

Mhd Rabbani - Minggu, 30 Agustus 2026 14:59 WIB
Update Korban Banjir Nepal-Tibet Minggu (30/8/2026): 750 Orang Tewas dan 3.044 Masih Hilang
Update Korban Banjir Nepal-Tibet
Topikseru.com, Nepal - Update korban pasca bencana banjir dahsyat yang melanda wilayah Nepal dan Tibet, China, sejak pekan lalu terus menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan data hingga Minggu (30/8/2026), jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 750 orang, sementara 3.044 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Informasi yang dilansir dari Reuters melaporkan, tim penyelamat menghadapi kondisi cuaca buruk dan kenaikan permukaan air sungai yang memaksa operasi pencarian beberapa kali dihentikan sejak Jumat. Hujan deras juga meningkatkan risiko terjadinya banjir susulan di sejumlah wilayah. Salah satu ancaman terbesar berasal dari danau yang terbentuk di kawasan perbatasan Nepal-China akibat longsoran lumpur setelah runtuhnya gletser pada Rabu. Danau tersebut mulai meluap ke sungai-sungai di Nepal sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga maupun tim penyelamat. Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak bencana tersebut. China mengaitkan bencana ini dengan dampak perubahan iklim. Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Nepal pada Sabtu menyebut longsoran tersebut sebagai "bencana lintas batas paling parah yang kami alami dalam beberapa tahun terakhir". Menurut laporan televisi pemerintah China CCTV, Wang juga mengatakan operasi penyelamatan menghadapi "kesulitan dan kompleksitas yang belum pernah terjadi sebelumnya". Terowongan Jadi Fokus Operasi Penyelamatan Operasi penyelamatan di Nepal kini difokuskan pada ratusan orang yang diyakini terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air. Mereka diduga terperangkap setelah aliran deras yang membawa bongkahan es, batu, lumpur, dan material longsoran menerjang sungai-sungai di kawasan Himalaya. Otoritas penanggulangan bencana Nepal melaporkan jumlah korban meninggal dunia di negara tersebut telah mencapai 734 orang. Sebanyak 2.498 orang masih hilang, sedangkan 7.514 orang telah berhasil diselamatkan. Sementara itu, di China, sebanyak 16 orang meninggal dunia di Gyirong County hingga Sabtu malam dan 546 orang masih dinyatakan hilang. Informasi tersebut disampaikan pejabat Tibet dalam konferensi pers. Dari 261 warga negara asing asal 23 negara yang masih hilang di wilayah Tibet, sebanyak 104 orang berasal dari Nepal, 49 dari India, 33 dari Latvia, 18 dari Amerika Serikat, dan 15 dari Inggris. Beijing dan Kathmandu terus bekerja sama untuk mengidentifikasi warga negara masing-masing maupun warga negara asing yang masih hilang. Kedua negara juga memperkuat kerja sama dalam pencegahan dan mitigasi bencana serta penanganan dampak perubahan iklim. Permukaan Sungai Trishuli Kembali Naik Hujan kembali mengguyur wilayah Nepal pada Minggu dan menyebabkan permukaan Sungai Trishuli meningkat. Kondisi tersebut mendorong warga dan tim penyelamat untuk bergerak ke tempat yang lebih tinggi, menurut keterangan kepolisian Nepal kepada Reuters. Pemerintah Nepal menyatakan tidak membutuhkan bantuan asing untuk operasi penyelamatan secara umum. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Chhetri mengatakan negaranya membutuhkan bantuan khusus untuk sejumlah kebutuhan, termasuk operasi penyelamatan di terowongan, pengujian DNA. Fasilitas penyimpanan jenazah berpendingin, serta identifikasi forensik terhadap jenazah yang telah mengalami pembusukan. Chhetri mengatakan para ahli dari India dan China telah berada di lokasi untuk membantu upaya membuka terowongan dan mencari korban yang masih terperangkap. Danau yang sebelumnya terbentuk di bagian hulu dan mengancam operasi penyelamatan sebagian besar telah surut pada Sabtu malam, menurut CCTV. Namun, drone mendeteksi longsor baru pada Sabtu malam sekitar 2,8 kilometer di hilir danau tersebut. Longsoran itu membentuk bendungan baru sekaligus genangan air baru yang kembali berpotensi mengganggu operasi penyelamatan. Otoritas kemudian memindahkan personel penyelamat yang berada di sekitar perlintasan perbatasan Gyirong ke lokasi yang lebih aman. Bencana Dikaitkan dengan Perubahan Iklim CCTV melaporkan banjir tersebut "disebabkan oleh ketidakstabilan gletser akibat dampak jangka panjang pemanasan global". Fenomena tersebut disebut sebagai "karakteristik baru dan menonjol dari bencana kriosfer di Dataran Tinggi Tibet". Kriosfer merujuk pada bagian bumi yang mengandung air dalam bentuk beku, termasuk gletser, lapisan es, salju, dan permafrost. Perubahan suhu global dapat meningkatkan ketidakstabilan kawasan tersebut dan memperbesar risiko pencairan maupun longsoran. Menurut temuan ilmuwan China yang dikutip CCTV, longsoran lumpur dari sisi Nepal hanya membutuhkan waktu sekitar enam hingga tujuh menit untuk mencapai perlintasan perbatasan Gyirong. China Kerahkan Ribuan Personel Penyelamat China telah mengerahkan lebih dari 2.100 personel penyelamat dan mengalokasikan sedikitnya 220 juta yuan atau sekitar US$32,7 juta untuk mendukung upaya penanganan bencana. CCTV melaporkan China juga memberikan bantuan dana darurat, perlengkapan penanggulangan bencana, data satelit dan hidrologi, serta mengirimkan ahli penyelamatan terowongan ke Nepal. China turut mengerahkan drone berkapasitas angkut berat. Sementara itu, helikopter mulai menjatuhkan peralatan dan pasokan ke lokasi para penyelamat di garis depan dekat perlintasan perbatasan. Personel militer juga menggunakan perangkat pendeteksi kehidupan, drone, dan sistem navigasi untuk melanjutkan pencarian terhadap korban yang masih hilang. Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan ribuan orang masih belum ditemukan, operasi penyelamatan di Nepal dan Tibet menghadapi tantangan besar. Hujan yang masih berlangsung, kenaikan permukaan sungai, serta potensi longsor dan terbentuknya bendungan alami baru menjadi faktor utama yang dapat memperumit proses pencarian dan evakuasi.  
Sumber
:
Berita Terkait
Diplomasi Beijing: China Desak AS-Iran Kembali ke Memorandum Islamabad demi Selat Hormuz
Taruhan KTT Xi-Trump: China Ancam Batal Temui AS akibat Senjata Taiwan
Ekspor Sumut Makin Kuat, China Jadi Pasar Terbesar dengan Nilai US$1,32 Miliar
65 Miliar Barel Minyak Venezuela Jadi Rebutan, China Ingatkan AS
Daftar 5 Rekomendasi Drama China Paling Populer Tayang di Bulan Agustus 2026
Update Korban Longsor Himalaya Minggu (30/8/2026): 261 Warga Asing dari 23 Negara Hilang