Senin, 28 September 2026

Invasi Ikan Nila Hitam di Thailand Gagal Diberantas, Ancam Ekosistem Asia Tenggara

Muchlis - Senin, 28 September 2026 18:16 WIB
Invasi Ikan Nila Hitam di Thailand Gagal Diberantas, Ancam Ekosistem Asia Tenggara
Ilustrasi - Invasi ikan nila hitam di Thailand meluas ke 19 provinsi dan melumpuhkan tambak.

Topikseru.com - Invasi ikan nila hitam (blackchin tilapia) di perairan Thailand telah mencapai taraf darurat ekologi yang kian sulit dikendalikan. Spesies asing asal Afrika Barat tersebut dilaporkan melahap organisme lokal mulai dari benih udang, kepiting, hingga ikan endemik, memicu kebangkrutan massal petambak dan kerusakan keanekaragaman hayati secara permanen.

Sejak pertama kali terdeteksi di Provinsi Samut Songkhram pada 2011, jangkauan invasi ikan nila hitam di Thailand kini telah merebak sedikitnya ke 19 provinsi. Jalur akuatik yang tercemar mencakup saluran air ibu kota Bangkok hingga wilayah pesisir pariwisata Pattaya.

Ekosistem Rusak dan Petambak Gulung Tikar

Dampak ekonomi paling destruktif dirasakan oleh sektor budidaya perikanan. Petambak udang lokal, Wallop Khunjaen, mengaku terpaksa menutup usahanya setelah hampir 1 juta benih udang di tambaknya ludes dimangsa predator rakus ini hanya dalam rentang waktu dua bulan.

Baca Juga:

"Mereka memakan semuanya. Mereka memakan udang, bahkan mereka juga memakan kepiting," kata Wallop sebagaimana dilaporkan The Guardian, Minggu (27/9/2026).

Selain merugikan mata pencaharian warga, keberadaan spesies invasif Thailand ini menggerus populasi fauna lokal. Spesies unik seperti kepiting biola dan berbagai jenis ikan sungai asli kini semakin langka ditemui di habitat aslinya.

Langkah Pembasmian Dinilai Sudah Terlambat

Upaya masif yang dikerahkan Pemerintah Thailand - mulai dari program insentif penangkapan hingga rekayasa genetika - dinilai para ahli sudah tidak memadai untuk memulihkan ekosistem perairan Thailand.

Dosen ilmu lingkungan Khon Kaen University, Thotsapol Chaianunporn, menegaskan bahwa karakteristik adaptatif ikan nila hitam yang tahan di perairan tawar maupun payau menjadikan tingkat kelangsungan hidup anakannya sangat tinggi.

"Kita sudah jauh melewati titik di mana kita bisa kembali," ujar Thotsapol.

Di luar dampak pemangsaan langsung, kerugian ekologis jangka panjang turut membayangi. Ikan ini merusak rantai makanan dasar dengan memakan zooplankton serta merusak struktur dasar perairan, membuat kualitas air menjadi keruh dan minim oksigen.

Sengketa Hukum dan Potensi Krisis Regional

Bencana ekologi ini memicu perselisihan hukum di tingkat domestik. Kelompok nelayan mengajukan gugatan hukum terhadap raksasa agribisnis Charoen Pokphand Foods Plc (Charoen Pokphand Foods CPF).

CPF dituduh menjadi dalang masuknya spesies tersebut setelah mengimpor 2.000 ekor ikan nila hitam untuk keperluan riset pada 2010.

Meski membenarkan adanya kegiatan riset tersebut, pihak CPF membantah tuduhan sebagai sumber kebocoran dan mengklaim seluruh sampel ikan telah dimusnahkan sesuai standar prosedur.

Di tengah polemik hukum yang masih bergulir, kekhawatiran terbesar kini mengarah pada risiko penyebaran lintas batas.

Sifat invasif yang agresif dikhawatirkan memicu krisis ekologi Asia Tenggara jika ikan ini mulai bermigrasi ke jaringan sungai internasional di negara-negara tetangga.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Diplomasi Lintas Lembaga Berhasil Pulangkan 13 Nelayan Aceh dari Thailand
Pemprov Sumut Genjot Kawasan Unggulan Perikanan Tangkap & Budi Daya Integrasi Hulu-Hilir
13 Nelayan Aceh Dipulangkan dari Thailand, 5 Orang Masih Ditahan
Program Konservasi YEL di Harangan Tapanuli Raih Dukungan Satellites for Biodiversity Award
Galeri Dekranasda Diharapkan Jadi Ekosistem Baru UMKM Unggulan Medan
DANA dan KKP Perkuat Komitmen Blue Economy melalui Aksi Bersihkan Pantai