Topikseru.com – Saat kabut asap menyelimuti permukiman, berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Salah satu kepercayaan yang masih sering terdengar adalah minum susu untuk menetralkan racun yang masuk ke tubuh akibat menghirup asap kebakaran hutan dan lahan.
Susu dikenal sebagai sumber protein, kalsium, dan sejumlah zat gizi penting. Namun, apakah minuman ini benar-benar bisa membersihkan paru-paru atau menangkal zat berbahaya dari kabut asap?
Secara medis, belum ada bukti ilmiah kuat bahwa minum susu dapat menetralkan racun kabut asap atau mengeluarkan partikel polusi yang telah terhirup ke dalam paru-paru.
Baca Juga:
Untuk memahami alasannya, masyarakat perlu mengetahui bagaimana asap kebakaran memengaruhi tubuh dan langkah apa yang lebih efektif untuk mengurangi risikonya.
Benarkah Susu Bisa Menetralkan Racun Kabut Asap?
Anggapan bahwa susu dapat menetralkan racun sering muncul ketika masyarakat menghadapi paparan polusi atau zat berbahaya.
Padahal, susu bukanlah penawar umum untuk racun yang masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan. Minum susu setelah terpapar kabut asap tidak dapat diandalkan untuk menghilangkan partikel halus atau gas berbahaya yang terhirup.
Asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel, termasuk PM2.5, yang ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Sebagian polutan juga dapat memicu peradangan dan iritasi pada saluran pernapasan.
Sementara itu, susu dicerna melalui saluran pencernaan. Proses pencernaan tersebut tidak membuat susu mampu menangkap atau menetralkan partikel asap yang berada di paru-paru.
Meski demikian, susu tetap dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang selama seseorang tidak memiliki alergi atau kondisi yang membuatnya perlu menghindari susu.
Apa Manfaat Susu bagi Tubuh saat Kabut Asap?
Walaupun bukan penawar racun kabut asap, susu memiliki sejumlah manfaat gizi.
1. Membantu memenuhi kebutuhan protein
Susu mengandung protein yang diperlukan untuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan tubuh. Protein juga berperan dalam berbagai fungsi biologis, termasuk fungsi sistem kekebalan tubuh.
Namun, memenuhi kebutuhan protein tidak berarti seseorang menjadi kebal terhadap dampak polusi udara.
2. Menyediakan kalsium dan zat gizi lainnya
Susu merupakan sumber kalsium dan dapat menyediakan vitamin B12 serta zat gizi lain, bergantung pada jenis dan fortifikasinya.
Zat gizi tersebut mendukung fungsi tubuh secara umum, tetapi tidak secara khusus membersihkan paru-paru dari partikel asap.
3. Menjadi bagian dari pola makan seimbang
Selama kabut asap berlangsung, masyarakat tetap perlu mengonsumsi makanan bergizi, termasuk sumber protein, sayur, buah, dan cairan yang cukup.
Susu dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi kebutuhan gizi. Akan tetapi, manfaat tersebut berbeda dengan klaim bahwa susu mampu menetralkan racun atau mencegah gangguan pernapasan akibat asap.
Bagaimana Cara Melindungi Tubuh dari Kabut Asap?
Alih-alih mengandalkan susu sebagai penawar, langkah yang lebih penting adalah mengurangi paparan polusi udara.
Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan.
1. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Ketika kualitas udara memburuk, batasi kegiatan di luar rumah, terutama olahraga dan aktivitas fisik berat.
Pantau informasi kualitas udara dari sumber tepercaya untuk membantu menentukan aktivitas yang aman.
2. Gunakan respirator yang sesuai
Respirator partikulat seperti N95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus dari asap. Efektivitasnya bergantung pada kecocokan dengan wajah dan cara pemakaian.
Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus. Respirator partikulat juga tidak melindungi dari semua gas berbahaya dalam asap.
3. Kurangi masuknya asap ke dalam rumah
Tutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar. Jika tersedia, gunakan air purifier dengan filter HEPA dan pilih ruangan yang paling mudah dijaga kualitas udaranya.
Hindari merokok, membakar sampah, atau melakukan kegiatan lain yang menambah polusi di dalam rumah.
4. Penuhi kebutuhan cairan dan gizi
Minum air sesuai kebutuhan tubuh dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
Air putih, susu, buah, dan makanan bergizi dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi tidak menggantikan upaya mengurangi paparan asap.
5. Waspadai gejala gangguan kesehatan
Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, batuk, tenggorokan gatal, sakit kepala, mengi, atau sesak napas.
Jika mengalami gejala, segera menjauh dari sumber asap dan cari udara yang lebih bersih. Jika keluhan menetap atau memburuk, periksakan diri ke tenaga kesehatan.
Sesak napas berat, nyeri dada, bibir kebiruan, atau gangguan kesadaran merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera.
Apakah Susu Perlu Dihindari saat Kabut Asap?
Pada umumnya, tidak ada alasan untuk menghindari susu hanya karena sedang terjadi kabut asap, selama seseorang dapat mengonsumsinya dengan aman.
Susu dapat tetap menjadi bagian dari menu sehari-hari. Namun, orang yang memiliki alergi susu harus menghindarinya sesuai anjuran tenaga kesehatan. Alergi susu berbeda dari intoleransi laktosa, yang berkaitan dengan kesulitan mencerna gula susu.
Masyarakat juga tidak perlu memaksakan diri minum susu dalam jumlah berlebihan dengan harapan dapat membersihkan paru-paru. Tidak ada bukti bahwa semakin banyak susu yang diminum, semakin besar perlindungan terhadap polusi udara.
Jika seseorang mengalami gejala setelah terpapar asap, penanganan perlu disesuaikan dengan gejala dan tingkat keparahannya, bukan diganti dengan konsumsi susu atau ramuan tertentu.