Sabtu, 17 Oktober 2026

Rumah Ikut Dipenuhi Asap? Ini Cara Mengurangi Polusi Udara di Dalam Ruangan

Rizky Aisyah - Sabtu, 17 Oktober 2026 11:03 WIB
Rumah Ikut Dipenuhi Asap? Ini Cara Mengurangi Polusi Udara di Dalam Ruangan
Kabut asap yang masuk ke permukiman dapat menurunkan kualitas udara di dalam rumah. Menjaga kebersihan udara dan membatasi paparan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan keluarga.

Topikseru.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengganggu aktivitas di luar rumah, tetapi juga dapat masuk ke dalam bangunan dan menurunkan kualitas udara di dalam ruangan.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena asap kebakaran mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi udara dapat memicu iritasi mata, batuk, dan gangguan pernapasan, bahkan memperburuk penyakit asma maupun penyakit jantung dan paru-paru.

Menutup pintu dan jendela memang dapat membantu mengurangi masuknya asap dari luar. Namun, langkah tersebut perlu disertai upaya menjaga udara di dalam rumah tetap bersih.

Baca Juga:

Lantas, bagaimana cara mengurangi polusi udara di dalam ruangan saat kabut asap melanda? Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.

1. Tutup Pintu dan Jendela saat Udara Luar Tercemar

Langkah pertama adalah membatasi masuknya asap dari luar rumah.

Ketika kualitas udara memburuk, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya partikel polusi. Periksa juga celah di sekitar kusen, ventilasi, atau bagian bangunan lain yang memungkinkan asap masuk.

Jika menggunakan pendingin ruangan atau AC, pilih mode sirkulasi ulang apabila tersedia. Mode ini membantu mengurangi masuknya udara luar, meskipun kemampuan penyaringan partikel bergantung pada jenis filter dan sistem AC yang digunakan.

Namun, jangan menutup rumah tanpa memperhatikan suhu di dalam ruangan. Pastikan penghuni tetap nyaman dan tidak mengalami kepanasan, terutama bayi, balita, dan lansia.

2. Gunakan Air Purifier dengan Filter HEPA

Jika tersedia, air purifier dengan filter HEPA dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.

Filter HEPA dirancang untuk menangkap partikel udara berukuran sangat kecil. Meski demikian, efektivitas alat bergantung pada kapasitasnya, ukuran ruangan, kondisi filter, dan seberapa banyak udara yang berhasil disaring.

Pilih perangkat yang kapasitasnya sesuai dengan luas ruangan. Letakkan alat di ruangan yang sering digunakan keluarga, misalnya kamar tidur atau ruang berkumpul.

Pastikan filter dibersihkan atau diganti sesuai petunjuk produsen. Hindari perangkat yang menghasilkan ozon karena ozon dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Jika belum memiliki air purifier, jangan panik. Ada beberapa langkah lain yang dapat membantu mengurangi paparan asap tanpa harus membeli perangkat mahal.

3. Hindari Merokok dan Membakar Sampah di Dalam atau Dekat Rumah

Asap yang berasal dari dalam rumah dapat memperburuk kualitas udara yang sudah tercemar akibat kabut asap dari luar.

Hindari merokok di dalam rumah, membakar sampah di halaman, menyalakan dupa atau lilin, serta melakukan aktivitas lain yang menghasilkan asap.

Jika memungkinkan, kurangi kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap. Gunakan alat pengisap asap atau ventilasi yang aman jika tersedia.

Ketika udara luar sedang sangat tercemar, membuka jendela untuk membuang asap masakan justru dapat memasukkan lebih banyak polusi. Karena itu, utamakan mengurangi sumber asap sejak awal.

4. Bersihkan Debu dengan Kain Lembap

Partikel polusi dapat menempel pada permukaan benda dan bercampur dengan debu di dalam rumah.

Untuk membersihkannya, gunakan kain lembap pada meja, rak, kusen, dan permukaan lain yang sering disentuh. Cara ini membantu mengangkat debu tanpa membuatnya mudah beterbangan kembali ke udara.

Jika menggunakan penyedot debu, pilih perangkat dengan penyaringan yang baik, seperti HEPA, jika tersedia.

Hindari menyapu kering secara berlebihan ketika banyak debu menumpuk karena tindakan tersebut dapat membuat partikel kembali melayang di udara.

Seprai, sarung bantal, dan kain yang berdebu juga dapat dibersihkan secara berkala sesuai kebutuhan.

5. Pilih Satu Ruangan sebagai Area Udara Lebih Bersih

Jika seluruh rumah sulit terlindungi dari asap, tentukan satu ruangan yang paling mudah dijaga kualitas udaranya.

Pilih ruangan yang pintu dan jendelanya dapat ditutup dengan baik. Jika tersedia, tempatkan air purifier di area tersebut dan pastikan ruangan tidak memiliki banyak sumber polusi dari dalam.

Ruangan ini dapat digunakan sebagai tempat beristirahat, tidur, atau berkumpul bersama anggota keluarga selama kualitas udara di luar memburuk.

Prioritaskan bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta anggota keluarga dengan asma atau penyakit jantung dan paru-paru.

Perlu diingat, ruangan yang tertutup belum tentu bebas polusi. Kualitas udara tetap perlu dijaga dan kondisi suhu ruangan harus diperhatikan.

6. Gunakan AC dan Filter Udara dengan Benar

AC dapat membantu menjaga kenyamanan suhu ruangan, tetapi tidak semua AC mampu menyaring partikel halus secara efektif.

Periksa jenis filter yang digunakan dan bersihkan sesuai petunjuk produsen. Jika sistem memungkinkan penggunaan filter dengan kemampuan penyaringan partikel lebih baik, pastikan filter tersebut kompatibel dengan perangkat.

Filter yang terlalu rapat untuk sistem tertentu dapat menghambat aliran udara apabila perangkat tidak dirancang untuk menggunakannya.

Jika menggunakan AC dengan mode sirkulasi ulang, hindari menganggapnya sebagai pengganti air purifier. Kemampuan membersihkan udara bergantung pada desain dan sistem filtrasi perangkat.

Perawatan yang tepat membantu menjaga kinerja alat, tetapi sumber polusi dari dalam rumah tetap perlu dikendalikan.

7. Jangan Mengandalkan Tanaman Hias untuk Menyaring Asap

Tanaman hias dapat memperindah ruangan, tetapi menempatkan beberapa pot tanaman tidak cukup untuk menghilangkan polusi partikel akibat kabut asap.

Penelitian mengenai kemampuan tanaman menyerap polutan dalam kondisi laboratorium tidak berarti tanaman dalam jumlah biasa di rumah mampu membersihkan udara secara signifikan.

Karena itu, jangan menjadikan tanaman hias sebagai pengganti filter udara atau langkah mengurangi masuknya asap.

Jika ingin meningkatkan kualitas udara, prioritaskan pengendalian sumber polusi, pembatasan masuknya asap, dan penggunaan penyaring udara yang sesuai.

8. Perhatikan Kelembapan Udara

Kelembapan ruangan perlu dijaga agar penghuni tetap nyaman. Namun, menggunakan humidifier atau alat pelembap udara tidak otomatis menghilangkan partikel halus dari asap.

Kelembapan yang terlalu tinggi justru dapat mendorong pertumbuhan jamur dan tungau debu. Jika menggunakan humidifier, ikuti petunjuk penggunaan dan bersihkan alat secara teratur.

Hindari menggunakan alat yang menghasilkan uap atau kabut dengan anggapan bahwa partikel asap akan ikut menghilang. Cara tersebut tidak dapat diandalkan sebagai metode pembersihan udara.

Fokus utama tetap pada pengurangan sumber polusi dan penyaringan udara yang tepat.

9. Pantau Kualitas Udara dan Gejala Penghuni Rumah

Kualitas udara di luar rumah dapat berubah sepanjang hari. Karena itu, pantau informasi kualitas udara dari sumber tepercaya sebelum memutuskan membuka jendela atau melakukan aktivitas di luar.

Jika memiliki alat pemantau PM2.5 di dalam ruangan, gunakan hasilnya sebagai salah satu pertimbangan untuk mengevaluasi kondisi udara. Namun, alat tersebut tidak menggantikan informasi resmi atau penilaian medis.

Perhatikan juga kondisi anggota keluarga. Gejala seperti mata perih, batuk, tenggorokan gatal, atau sesak napas dapat menandakan iritasi atau gangguan kesehatan yang perlu ditangani.

Jika mengalami gejala, kurangi paparan dan cari tempat dengan udara yang lebih bersih.

Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, bibir kebiruan, atau gangguan kesadaran.

Apakah Aman Membuka Jendela saat Kabut Asap?

Membuka jendela tidak selalu menjadi pilihan yang tepat ketika kabut asap menyelimuti permukiman.

Jika udara luar sedang tercemar, membuka jendela dapat membuat partikel asap masuk dan meningkatkan paparan di dalam rumah. Sebaliknya, ketika kualitas udara luar membaik, membuka jendela dapat membantu memasukkan udara yang lebih bersih, selama kondisi lingkungan dan keamanan memungkinkan.

Karena itu, keputusan membuka jendela sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kualitas udara, bukan hanya berdasarkan waktu pagi atau malam.

Jika suhu ruangan meningkat berlebihan, utamakan keselamatan penghuni dan cari tempat yang lebih sejuk dengan kualitas udara yang lebih baik apabila memungkinkan.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Medan Terapkan PJJ hingga 21 Oktober, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
Medan dan Sekitarnya Diguyur ‘Hujan Buatan’ Pemprov Sumut untuk Turunkan Kabut Asap
Susu Bisa Menetralkan Racun Kabut Asap? Ini Penjelasan Medisnya
9 Cara Menjaga Kesehatan saat Kabut Asap Menyelimuti Permukiman
Waspada! Ini 8 Gejala Tubuh Terpapar Kabut Asap yang Tak Boleh Diabaikan
8 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla yang Perlu Diwaspadai, dari ISPA hingga Gangguan Jantung