Minggu, 27 September 2026

BGN Minta Makanan MBG Tak Layak Jangan Dimakan, Wajib Dikembalikan ke SPPG

Muchlis - Rabu, 12 Agustus 2026 22:29 WIB
BGN Minta Makanan MBG Tak Layak Jangan Dimakan, Wajib Dikembalikan ke SPPG
Makanan MBG tak layak
Topikseru.com, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta masyarakat, guru, maupun penerima manfaat tidak memaksakan diri mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila ditemukan dalam kondisi tidak layak. Kepala BGN Sudaryono menegaskan, makanan yang terindikasi bermasalah harus segera dihentikan konsumsinya dan dikembalikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk diperiksa lebih lanjut. Peringatan itu disampaikan Sudaryono dalam webinar Literasi Gizi dan Keamanan Pangan bagi Guru dalam Mendukung Program MBG yang diikuti dari Jakarta, Rabu. Menurut dia, pemeriksaan makanan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola dapur MBG. Guru dan pihak sekolah juga memiliki peran penting sebelum makanan dibagikan dan dikonsumsi peserta didik.

Satu Komponen Bermasalah, Makanan Tidak Boleh Dikonsumsi

Sudaryono meminta pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh. Jika salah satu komponen makanan ditemukan memiliki tanda-tanda tidak layak, seluruh paket makanan sebaiknya tidak dikonsumsi. Misalnya, dalam satu paket terdapat nasi, lauk, sayur, dan buah. Jika sayur tercium bau atau menunjukkan perubahan kondisi yang mencurigakan, penerima manfaat tidak dianjurkan hanya membuang sayur tersebut lalu mengonsumsi bagian lainnya. "Kalau ditemukan tidak layak, misalnya ada lauk, ada sayur, ada buah, ada nasi, misalnya yang bau hanya sayurnya, harus tidak dikonsumsi semuanya," ujar Sudaryono. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan. Makanan yang diduga mengalami masalah harus dikembalikan ke SPPG agar dapat ditelusuri penyebabnya. Dengan mekanisme itu, BGN dapat melakukan pemeriksaan sekaligus memastikan apakah persoalan hanya terjadi pada satu komponen atau berkaitan dengan proses penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan.

Guru Diminta Aktif Periksa Makanan MBG

BGN juga mendorong guru ikut melakukan pemeriksaan sederhana sebelum makanan MBG disantap oleh siswa. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan secara organoleptik, yakni dengan mengamati kondisi makanan melalui indera, seperti melihat perubahan warna, mencium aroma yang tidak normal, serta memperhatikan kondisi fisik makanan. Langkah sederhana itu dinilai penting karena makanan telah melalui sejumlah tahapan sebelum sampai ke sekolah. "Kalau ditemukan tidak layak, wajib hukumnya tidak dikonsumsi dan dikembalikan ke SPPG, kemudian nanti kami akan lakukan pemeriksaan," kata Sudaryono. Menurut BGN, prinsip utama dalam pelaksanaan MBG bukan sekadar memastikan makanan tersedia dan dibagikan tepat waktu. Faktor keamanan pangan harus menjadi bagian penting dari seluruh rangkaian program.

Makanan Tidak Layak Harus Dikembalikan

Sudaryono menegaskan makanan yang dicurigai tidak layak tidak boleh tetap dikonsumsi dengan alasan menghindari pemborosan. Penerima manfaat diminta segera melaporkan dan mengembalikan makanan kepada SPPG. Selanjutnya, petugas dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab makanan mengalami perubahan kondisi. Langkah tersebut juga penting sebagai bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada distribusi berikutnya. Dengan demikian, laporan dari sekolah dan penerima manfaat menjadi bagian dari sistem pengawasan keamanan pangan dalam program MBG.

BGN Siapkan Tindakan terhadap SPPG yang Lalai

BGN memastikan pengawasan terhadap keamanan makanan akan terus diperkuat. Apabila ditemukan kelalaian yang berdampak terhadap keamanan pangan, tindakan tegas dapat diberikan kepada SPPG yang bertanggung jawab. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya BGN menjaga agar program MBG tidak hanya memenuhi aspek kecukupan gizi, tetapi juga memenuhi standar keamanan makanan bagi seluruh penerima manfaat. Sudaryono menekankan bahwa makanan harus dipastikan aman sebelum dikonsumsi oleh peserta didik maupun guru. Karena itu, apabila ditemukan indikasi makanan tidak layak, langkah yang harus dilakukan bukan mengambil risiko dengan tetap mengonsumsinya, melainkan menghentikan konsumsi dan mengembalikannya kepada SPPG untuk ditindaklanjuti.

Keamanan Pangan Jadi Bagian Penting Program MBG

Program MBG menyasar penerima manfaat dalam jumlah besar sehingga pengawasan keamanan pangan menjadi tantangan penting dalam pelaksanaannya. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, pengemasan, penyimpanan, pengiriman, hingga makanan diterima di sekolah harus mendapatkan perhatian. BGN mendorong semua pihak yang terlibat, termasuk pengelola SPPG, sekolah, guru, dan penerima manfaat, untuk memiliki kesadaran yang sama mengenai keamanan pangan. Pesan Sudaryono pada akhirnya sederhana: jika makanan MBG terlihat atau tercium tidak layak, jangan dimakan. Kembalikan ke SPPG dan biarkan petugas melakukan pemeriksaan. Langkah tersebut dinilai lebih aman dibandingkan mengambil risiko mengonsumsi makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Sumber
:
Berita Terkait
BGN Tutup Permanen Dapur SPPG Karo usai Keracunan 353 Siswa, Ini Alasannya
Komitmen Pemberantasan Korupsi: Prabowo Tak Lindungi Orang Dekat, Singgung BGN dan Hotel Sultan
Dirujuk ke RSCM Jakarta, Dua Korban Keracunan MBG Karo Diberangkatkan Bobby Nasution
LBH Medan Desak MBG Dihentikan: Puluhan Ribu Anak Keracunan, Korban Alami Hilang Ingatan
BGN Larang Susu Kental Manis di Menu MBG
Korupsi Makan Bergizi Gratis: Kejagung Sita Rp 8,4 M, Dolar Tertimbun di Pikap