Topikseru.com – Keputusan Bupati Aceh Selatan Mirwan MS untuk tetap berangkat umrah bersama istrinya di tengah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayahnya memicu gelombang kritik publik yang tak terhindarkan.
Kejadian ini menjadi salah satu isu paling panas di Aceh, mengingat Aceh Selatan termasuk wilayah dengan dampak paling parah dalam bencana hidrometeorologi yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
Banyak warga menilai langkah tersebut tidak mencerminkan empati terhadap kondisi rakyat.
Sementara itu, pihak pemerintah daerah memberikan pembelaan bahwa keberangkatan tersebut dilakukan setelah melalui penilaian situasi yang dianggap sudah cukup stabil.
Dalam upaya meredakan kritik publik, Plt Sekda Aceh Selatan Diva Samudra Putra memberikan penjelasan panjang lebar mengenai dasar keputusan tersebut. Pemerintah daerah menilai bahwa situasi sudah tidak berada dalam tahap darurat kritis.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah pemerintah daerah menilai situasi di lapangan telah berada dalam kondisi yang cukup stabil.
Menurutnya, banjir yang sebelumnya melanda beberapa wilayah mulai surut dan tanda-tanda pemulihan sudah terlihat dari hari ke hari.
Infrastruktur perlahan kembali berfungsi, aktivitas warga mulai pulih, dan wilayah terdampak sudah tidak berada dalam status darurat kritis.
Diva juga menambahkan bahwa seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggung jawab atas penanganan bencana telah bergerak sesuai jalur komando.
Instruksi dan koordinasi tetap berjalan normal meski Bupati tidak berada di tempat. Tim penanggulangan bencana di lapangan, termasuk BPBD, relawan, hingga perangkat desa, disebut terus bekerja tanpa hambatan dan tetap menjalankan operasi penyelamatan, evakuasi, serta pendistribusian bantuan.
Menurut Diva, struktur komando dan sistem kerja yang sudah solid membuat absennya Mirwan tidak mengganggu penanganan bencana secara teknis.
Pemerintah daerah berpegang pada penilaian tersebut sebagai dasar bahwa Mirwan MS tidak meninggalkan Aceh Selatan dalam keadaan kacau atau tanpa kendali.
Empat hari setelah pengajuan, Gubernur Aceh mengeluarkan surat balasan berisi penolakan izin perjalanan tersebut. Alasan penolakan ini sangat jelas dan tegas:
Aceh sedang menghadapi bencana hidrometeorologi dengan dampak besar.
Status darurat telah ditetapkan di tingkat provinsi.
Aceh Selatan termasuk daerah yang mengalami kerusakan paling parah.
Dalam kondisi ini, kehadiran kepala daerah sangat dibutuhkan untuk memastikan koordinasi, pengambilan keputusan cepat, dan kepemimpinan lapangan dalam mengatasi bencana.
Di tengah kritik yang terus bergulir dan sorotan publik yang semakin luas, Mirwan MS akhirnya memberikan klarifikasi resmi melalui sebuah pernyataan tertulis pada Jumat, 5 Desember 2025.
Dalam penjelasannya seperti yang dilansir dari Antara, Mirwan menekankan bahwa keberangkatan dirinya ke Tanah Suci bukanlah tindakan mengabaikan rakyat atau meninggalkan daerah dalam kondisi genting, melainkan upaya memenuhi nazar pribadi yang telah lama direncanakan.
Mirwan menjelaskan bahwa sebelum berangkat, ia sudah turun langsung ke berbagai lokasi yang terdampak banjir.
Ia meninjau kondisi warga, memantau situasi di lapangan, dan memastikan jalur bantuan darurat berjalan sebagaimana mestinya.
Menurutnya, ia menyaksikan sendiri bagaimana tim penanganan bencana bekerja cepat untuk membantu warga yang terdampak, mulai dari evakuasi hingga distribusi kebutuhan pokok.
Selain melakukan tinjauan lapangan, Mirwan juga menggelar rapat koordinasi lintas OPD untuk memastikan penanganan bencana berjalan dalam struktur komando yang jelas dan terarah.
Ia menekankan bahwa semua unit pemerintahan yang terlibat telah memahami peran masing-masing sehingga operasi penanganan bencana dapat tetap berjalan meskipun ia tidak berada di lokasi.
Dalam klarifikasinya, Mirwan menegaskan bahwa keputusannya untuk tetap berangkat umrah diambil setelah menerima laporan dari posko bencana dan berkoordinasi dengan berbagai OPD yang memastikan situasi sudah terkendali.
"Sebelum saya berangkat, saya sudah turun langsung mengecek kondisi masyarakat terdampak banjir dan memastikan seluruh OPD bekerja sesuai alur komando," kata Mirwan dalam keterangan tertulis pada Jumaat 5 Desember 2025.Intensitas banjir dilaporkan mulai menurun, wilayah terdampak menunjukkan perbaikan, dan jalur penanganan dinilai berjalan stabil. Berdasarkan faktor-faktor inilah Mirwan merasa yakin bahwa keberangkatannya tidak akan menghambat proses penanganan bencana.
Mirwan MS, lahir pada 9 Maret 1975, merupakan politisi Partai Gerindra yang menjabat sebagai Bupati Aceh Selatan periode 2025–2030.
Ia dilantik pada 17 Februari 2025 oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf di kantor DPRK Aceh Selatan.
Bupati Aceh Selatan (2025–2030)
Ketua DPC Partai Gerindra Aceh Selatan
Pada Pilbup Aceh Selatan 2024, Mirwan berpasangan dengan Baital Mukadis (Partai Demokrat). Mereka meraih:
51.609 suara
36,32% suara sah
Mirwan dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia usaha sejak tahun 2000 dan memiliki sejumlah jabatan penting di berbagai perusahaan.
Pelaksana Husni Utama Grub (1995–1997)
Pelaksana PT Alfindo Jaya Abadi Jakarta (1998–1999)
Pegawas PT Lampiri Jakarta Utara (1999–2021)
Direktur PT Ariesta APM (2002–2011)
Direktur PT Desindo Putra Mandiri (2011–2014)
Direktur PT Ariesta Motor Showroom (2010–sekarang)
Komisaris PT Ariesta Aldundo Venturer (2011–sekarang)
SDN 1 Peulumat (1983–1989)
SMP Labuhanhaji Timur (1989–1992)
STMN 1 Banda Aceh (1992–1995)
STIE ISM – Sarjana Ekonomi (2010–2014)
UNNAS – Magister Ilmu Politik (2020–2021)
Total harta kekayaan:
Tanah & bangunan Jakarta Timur (95 m²/172 m²): Rp 1.450.000.000
Tanah 579 m² Aceh Barat Daya: Rp 868.500.000
Tanah & bangunan Jakarta Timur (517 m²/312 m²): Rp 13.000.000.000
Tanah 4.283 m² Aceh Barat Daya: Rp 564.055.000
Tanah & bangunan 769 m² Aceh Barat Daya: Rp 6.000.000.000
Termasuk:
Toyota Fortuner 2017 – Rp 435.000.000
Daihatsu Pick Up 2014 – Rp 72.000.000
Excavator Komatsu PC 200-6 – Rp 450.000.000
Dump Truck FE 74 2008 – Rp 185.000.000
Dump Truck FE SHD 2009 – Rp 195.000.000
Excavator Komatsu 200/5 2004 – Rp 260.000.000
Toyota Fortuner VRZ 2021 – Rp 450.000.000
Toyota Rush 2020 (3 unit) – total Rp 600.000.000
Camry 2019 – Rp 400.000.000
Harta bergerak: Rp 321.400.000
Kas & setara kas: Rp 223.015.622
Harta lainnya: Rp 710.000.000
Total utang: Rp 225.000.000