Stasiun Binjai punya sejarah panjang sejak 1887. Foto: Dok.Humas KAI Sumut
Pada masa kolonial, jaringan rel memiliki kaitan kuat dengan perkebunan. Komoditas seperti tembakau, lada, CPO, dan lateks menjadi bagian dari arus barang yang ditopang jaringan kereta api.
Baca Juga:
Kini, aktivitas utama yang terlihat justru adalah pergerakan manusia.
Pekerja, mahasiswa, pelaku usaha, dan masyarakat umum menggunakan Stasiun Binjai untuk melakukan perjalanan menuju Medan dan wilayah sekitarnya.
Dengan posisi tersebut, stasiun tidak hanya berfungsi sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai bagian dari sistem transportasi yang menopang kegiatan ekonomi sehari-hari.
Stasiun ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Menurut Anwar, keberadaan stasiun tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan Kota Binjai memiliki hubungan erat dengan sejarah perkeretaapian.
KAI Divre I Sumatera Utara menyatakan akan mempertahankan nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai sembari meningkatkan keandalan layanan kereta api.
"KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai," ujar Anwar.
Rel yang awalnya dibangun untuk mendukung aktivitas perkebunan kemudian menjadi bagian dari perkembangan kawasan perkotaan.
Kini, fungsi tersebut kembali berkembang. Stasiun Binjai bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi infrastruktur yang mendukung mobilitas masyarakat dan konektivitas ekonomi antara Binjai dengan Medan.
Perjalanan Stasiun Binjai menunjukkan satu hal: infrastruktur transportasi dapat berganti fungsi mengikuti perubahan zaman, tetapi perannya dalam membentuk pertumbuhan sebuah wilayah dapat bertahan selama lebih dari satu abad.