Senin, 28 September 2026
Sejarah

Stasiun Binjai: Dari Jalur Tembakau hingga Jadi Nadi Komuter ke Medan

Muchlis - Minggu, 27 September 2026 22:50 WIB
Stasiun Binjai: Dari Jalur Tembakau hingga Jadi Nadi Komuter ke Medan
Foto: Dok.Humas KAI Sumut
Stasiun Binjai punya sejarah panjang sejak 1887. Dari jalur perkebunan era kolonial, kini menjadi simpul komuter Binjai-Medan

Dari Angkutan Komoditas Menjadi Infrastruktur Ekonomi

Stasiun Binjai punya sejarah panjang sejak 1887. Foto: Dok.Humas KAI Sumut

Perubahan fungsi Stasiun Binjai menjadi gambaran bagaimana infrastruktur transportasi dapat berubah mengikuti struktur ekonomi suatu daerah.

Pada masa kolonial, jaringan rel memiliki kaitan kuat dengan perkebunan. Komoditas seperti tembakau, lada, CPO, dan lateks menjadi bagian dari arus barang yang ditopang jaringan kereta api.

Baca Juga:

Kini, aktivitas utama yang terlihat justru adalah pergerakan manusia.

Pekerja, mahasiswa, pelaku usaha, dan masyarakat umum menggunakan Stasiun Binjai untuk melakukan perjalanan menuju Medan dan wilayah sekitarnya.

Dengan posisi tersebut, stasiun tidak hanya berfungsi sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai bagian dari sistem transportasi yang menopang kegiatan ekonomi sehari-hari.

Stasiun Binjai Berstatus Cagar Budaya

Di tengah perubahan fungsi tersebut, nilai sejarah Stasiun Binjai tetap dipertahankan.

Stasiun ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Menurut Anwar, keberadaan stasiun tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan Kota Binjai memiliki hubungan erat dengan sejarah perkeretaapian.

KAI Divre I Sumatera Utara menyatakan akan mempertahankan nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai sembari meningkatkan keandalan layanan kereta api.

"KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai," ujar Anwar.

139 Tahun Rel Binjai dan Perubahan Wajah Kota

Jika ditarik dari pembukaan jalur Medan–Timbang Langkat pada 1887 hingga perkembangan layanan komuter saat ini, kereta api telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Kota Binjai.

Rel yang awalnya dibangun untuk mendukung aktivitas perkebunan kemudian menjadi bagian dari perkembangan kawasan perkotaan.

Kini, fungsi tersebut kembali berkembang. Stasiun Binjai bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi infrastruktur yang mendukung mobilitas masyarakat dan konektivitas ekonomi antara Binjai dengan Medan.

Perjalanan Stasiun Binjai menunjukkan satu hal: infrastruktur transportasi dapat berganti fungsi mengikuti perubahan zaman, tetapi perannya dalam membentuk pertumbuhan sebuah wilayah dapat bertahan selama lebih dari satu abad.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
BB302, Lokomotif Ikonik Sumut yang Kini Tinggal Satu Unit dan Masih Aktif