Selasa, 27 Oktober 2026
Energi Terbarukan

Potensi Energi Laut Indonesia Tembus Ratusan Gigawatt, 4 Teknologi Ini Bisa Jadi Sumber Listrik Masa Depan

Muchlis - Selasa, 27 Oktober 2026 07:25 WIB
Potensi Energi Laut Indonesia Tembus Ratusan Gigawatt, 4 Teknologi Ini Bisa Jadi Sumber Listrik Masa Depan
Ilustrasi - Energi gelombang, arus, pasang surut, dan perbedaan suhu laut berpotensi menjadi sumber listrik terbarukan Indonesia.

Topikseru.com - Luasnya wilayah perairan Indonesia bukan hanya menjadi modal bagi sektor perikanan, pelayaran, dan pariwisata. Laut juga menyimpan potensi energi terbarukan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan listrik nasional.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah perairan sekitar 5,8 juta kilometer persegi, termasuk laut teritorial dan zona ekonomi eksklusif (ZEE). Dengan karakter geografis tersebut, energi dari gelombang, arus, pasang surut, hingga perbedaan suhu air laut berpeluang menjadi sumber listrik alternatif.

Potensi energi laut Indonesia diperkirakan mencapai ratusan gigawatt. Namun, besarnya potensi sumber daya tersebut tidak otomatis berarti seluruhnya dapat langsung dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Pengembangan pembangkit tetap membutuhkan kajian teknis, investasi, infrastruktur, serta penilaian dampak lingkungan.

Baca Juga:

Jika dikembangkan secara tepat, energi laut dapat menjadi bagian dari diversifikasi sumber energi nasional, sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi dan industri kelautan.

Empat Teknologi Energi Laut yang Berpotensi Dikembangkan

Berbeda dari pembangkit listrik tenaga surya yang mengandalkan radiasi matahari atau tenaga angin yang memanfaatkan pergerakan udara, pembangkit energi laut menggunakan karakteristik fisik perairan sebagai sumber tenaga.

Berikut empat teknologi yang berpotensi diterapkan di Indonesia.

1. Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut

Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) memanfaatkan energi dari gerakan naik-turun ombak di permukaan laut.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah Oscillating Water Column (OWC). Sistem ini memanfaatkan perubahan permukaan air di dalam ruang khusus untuk mendorong dan menarik udara.

Aliran udara tersebut kemudian menggerakkan turbin yang terhubung dengan generator listrik.

Keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuannya mengubah gerakan gelombang menjadi energi listrik tanpa harus membakar bahan bakar fosil saat beroperasi.

Meski demikian, efektivitas pembangkit bergantung pada karakteristik gelombang di lokasi pemasangan. Perangkat juga harus dirancang untuk menghadapi korosi air asin, badai, dan kondisi laut yang berubah-ubah.

Karena itu, pemilihan lokasi menjadi salah satu faktor penting sebelum pembangunan PLTGL dilakukan dalam skala besar.

2. Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut

Arus laut juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).

Teknologi ini bekerja dengan menempatkan turbin di lokasi yang memiliki arus air cukup kuat dan relatif terukur. Pergerakan air memutar rotor, kemudian generator mengubah energi mekanis tersebut menjadi energi listrik.

Prinsip kerjanya mirip turbin angin, tetapi menggunakan air sebagai penggerak. Karena air memiliki massa jenis lebih tinggi dibandingkan udara, arus laut yang sesuai secara teknis dapat membawa energi kinetik yang besar.

Bagi Indonesia yang memiliki banyak selat dan jalur perairan antarpulau, pemanfaatan arus laut menjadi salah satu opsi yang layak diteliti lebih lanjut.

Namun, tidak semua perairan cocok untuk pemasangan turbin. Kecepatan arus, kedalaman laut, kondisi dasar perairan, jalur pelayaran, serta potensi gangguan terhadap ekosistem perlu diperhitungkan.

3. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut

Perubahan ketinggian air laut akibat pasang dan surut juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

Pembangkit listrik tenaga pasang surut menggunakan perbedaan tinggi permukaan air atau aliran air ketika pasang dan surut untuk menggerakkan turbin.

Pada sistem tertentu, fasilitas berupa bendungan atau struktur pengarah air digunakan untuk mengendalikan aliran tersebut.

Salah satu daya tarik teknologi ini adalah pola pasang surut yang dapat diperkirakan berdasarkan siklus astronomi. Hal tersebut berpotensi membantu perencanaan produksi listrik.

Namun, pembangunan fasilitas pasang surut membutuhkan kondisi geografis yang sesuai. Biaya konstruksi, perubahan aliran air, sedimentasi, serta dampaknya terhadap habitat pesisir juga menjadi pertimbangan penting.

Artinya, potensi pasang surut tidak cukup dinilai hanya dari perbedaan ketinggian air. Kelayakan teknis dan ekonomi harus diperiksa untuk setiap lokasi.

4. Konversi Energi Termal Laut atau OTEC

Teknologi keempat adalah Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), yaitu sistem yang memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut hangat di permukaan dan air laut yang lebih dingin di kedalaman.

Perbedaan suhu tersebut digunakan untuk menjalankan siklus termodinamika. Dalam sistem tertentu, air hangat membantu menguapkan fluida kerja, sementara air dingin digunakan untuk mengembunkannya kembali. Proses ini menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik.

Wilayah tropis seperti Indonesia berpotensi menarik untuk dikaji karena perairannya menerima sinar matahari sepanjang tahun.

Namun, keberhasilan OTEC bergantung pada besarnya perbedaan suhu, kedalaman perairan, desain sistem, dan biaya pembangunan infrastruktur.

Teknologi ini juga memerlukan sistem pengambilan air laut dari kedalaman yang memadai. Kebutuhan pipa, pompa, pemeliharaan, dan efisiensi konversi energi menjadi tantangan yang harus diperhitungkan.

Dengan demikian, OTEC menawarkan peluang jangka panjang, tetapi kelayakan ekonominya perlu dibuktikan melalui studi dan proyek yang sesuai dengan kondisi perairan Indonesia.

Potensi Besar Belum Tentu Langsung Menjadi Pasokan Listrik

Besarnya potensi energi laut sering menjadi dasar optimisme terhadap pengembangan energi terbarukan. Namun, angka potensi sumber daya perlu dibedakan dari kapasitas pembangkit yang secara teknis dan ekonomis dapat dibangun.

Ada sejumlah tahapan yang perlu dilalui sebelum energi laut dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pasokan listrik nasional.

Pertama, pemetaan lokasi untuk mengetahui kekuatan gelombang, kecepatan arus, karakteristik pasang surut, dan perbedaan suhu air laut.

Kedua, pengujian teknologi untuk memastikan peralatan mampu bertahan dalam lingkungan laut.

Ketiga, penghitungan biaya pembangunan, operasi, dan pemeliharaan agar listrik yang dihasilkan dapat bersaing dengan sumber energi lainnya.

Selain itu, pembangunan pembangkit perlu mempertimbangkan koneksi ke jaringan listrik, terutama apabila lokasi potensial berada jauh dari pusat permintaan energi.

Dampak terhadap ekosistem laut, kegiatan nelayan, jalur pelayaran, dan masyarakat pesisir juga harus masuk dalam perencanaan.

Tanpa tahapan tersebut, besarnya potensi energi laut berisiko berhenti sebagai angka di atas kertas dan belum memberikan manfaat ekonomi secara nyata.

Pembangkit listrik tenaga arus laut

Energi Laut Bisa Mendukung Diversifikasi Energi Nasional

Pengembangan energi laut berpeluang menambah pilihan sumber listrik terbarukan bagi Indonesia. Teknologi yang sesuai dengan kondisi geografis tertentu dapat membantu memasok listrik untuk kawasan pesisir, pulau-pulau terpencil, maupun wilayah yang membutuhkan sumber energi alternatif.

Dalam jangka panjang, penguasaan teknologi energi laut juga berpotensi membuka peluang industri baru, mulai dari pembuatan komponen turbin, sistem kendali, instalasi kelautan, hingga jasa pemeliharaan.

Namun, manfaat tersebut bergantung pada keberhasilan riset, pengembangan proyek percontohan, pembiayaan, serta kebijakan yang mendukung penerapan teknologi.

Pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi lokasi prioritas dan menentukan teknologi yang paling sesuai dengan kondisi setempat.

Pada akhirnya, kekuatan Indonesia sebagai negara maritim tidak hanya terletak pada luas wilayah lautnya. Tantangan berikutnya adalah mengubah sumber daya tersebut menjadi energi yang andal, terjangkau, dan berkelanjutan.

Energi gelombang, arus laut, pasang surut, dan panas laut menawarkan empat jalur pengembangan yang berbeda. Seberapa besar kontribusinya terhadap kebutuhan listrik nasional akan ditentukan oleh hasil riset, kelayakan proyek, dan kemampuan mengatasi tantangan teknis maupun ekonomi.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Indonesia Kaji Pembangkit Listrik Nuklir di Batam, Halmahera hingga Sumatera, Bahlil Tunggu Hasil Studi Kelayakan
Pisang Kepok Abu Asahan Hijau Surya Siap Didaftarkan Jadi Varietas Unggul Nasional
Aktivis FPBI Geruduk Rapat Paripurna DPRD Sumut, Sorot PHK dan Kejahatan Kemanusiaan Perusahaan Sawit di Asahan