Rabu, 07 Oktober 2026

Hari Kapas Sedunia, Mengenal Jejak Kapas hingga Industri Tekstil Indonesia

Rizky Aisyah - Rabu, 07 Oktober 2026 10:17 WIB
Hari Kapas Sedunia, Mengenal Jejak Kapas hingga Industri Tekstil Indonesia
pexels.com/karolina-grabowska
Hari Kapas Sedunia diperingati setiap 7 Oktober.

Topikseru.com -Setiap 7 Oktober diperingati sebagai Hari Kapas Sedunia atau World Cotton Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk melihat kembali pentingnya kapas, bukan hanya sebagai bahan dasar pakaian, tetapi juga sebagai komoditas yang berkaitan dengan pertanian, perdagangan, industri tekstil, hingga kehidupan jutaan orang di berbagai negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, Hari Kapas Sedunia secara resmi diperingati pada 7 Oktober. Gagasan peringatan ini bermula pada 2019 ketika empat negara produsen kapas di Afrika, yakni Benin, Burkina Faso, Chad dan Mali yang dikenal sebagai Cotton Four, mengusulkan peringatan tersebut kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

PBB kemudian mengakui Hari Kapas Sedunia melalui Resolusi A/RES/75/318. Peringatan ini bertujuan meningkatkan perhatian terhadap sektor kapas serta perannya dalam pembangunan ekonomi, perdagangan internasional, pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Baca Juga:

Kapas Sudah Lama Dikenal di Indonesia

Di Indonesia, perjalanan kapas memiliki sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan publikasi Kementerian Pertanian, Indonesia mulai mengenal tanaman kapas setelah tahun 1600-an. Pada masa kolonial, kapas kemudian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan serat dan industri tekstil.

Seiring perkembangannya, berbagai jenis kapas lokal pernah dikenal di Indonesia, antara lain kapas Jawa, kapas Demak, kapas Lowo, kapas Bayan, kapas Kretek dan kapas Jantuk.

Penelitian mengenai kapas di Indonesia juga sudah dilakukan sejak masa penjajahan. Kementerian Pertanian mencatat publikasi mengenai penelitian kapas di Indonesia dapat ditelusuri sejak dekade 1930-an.

Artinya, keberadaan kapas di Indonesia bukan sesuatu yang baru. Tanaman ini telah menjadi bagian dari perjalanan pertanian dan industri tekstil Indonesia selama berabad-abad.

Dari Serat Kapas hingga Menjadi Pakaian

Kapas memiliki peran penting karena seratnya dapat dipintal menjadi benang yang kemudian digunakan dalam industri tekstil.

Dalam prosesnya, serat kapas tidak langsung berubah menjadi pakaian. Bahan tersebut melewati sejumlah tahapan, mulai dari pengolahan serat, pemintalan menjadi benang, penenunan atau perajutan menjadi kain hingga akhirnya masuk ke industri pakaian jadi dan berbagai produk tekstil lainnya.

Kementerian Pertanian menyebut kapas sebagai salah satu sumber serat alam untuk bahan baku industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Industri tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari industri antara seperti pemintalan, tenun dan rajut hingga industri hilir seperti garmen dan produk tekstil lainnya.

Karena itu, sehelai pakaian berbahan katun sebenarnya memiliki perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai ke tangan konsumen.

Industri Tekstil Indonesia Punya Perjalanan Panjang

Perjalanan industri tekstil Indonesia sendiri telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa industri tekstil nasional telah berkembang dari masa kolonial hingga memasuki era digital.

Perkembangannya tidak hanya berkaitan dengan produksi kain, tetapi juga mencakup pemintalan, penenunan, perajutan, produksi pakaian jadi dan berbagai produk tekstil lainnya.

Dalam industri tersebut, kapas menjadi salah satu bahan baku serat alam yang penting. Namun, perkembangan industri tekstil di Indonesia juga menghadapi persoalan pada sisi hulu, terutama ketersediaan kapas dalam negeri.

Indonesia Masih Menghadapi Tantangan Produksi Kapas

Meskipun memiliki sejarah panjang dalam pengembangan kapas, produksi kapas domestik belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan industri tekstil nasional.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa pengembangan kapas rakyat tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai sentra kapas.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara kebutuhan industri tekstil dengan ketersediaan bahan baku kapas dari dalam negeri. Pemerintah pun pernah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan produksi kapas, termasuk penyediaan benih bermutu dan pengembangan kapas rakyat.

Tantangan tersebut menjadi penting karena industri tekstil membutuhkan pasokan bahan baku yang berkelanjutan agar rantai produksi dari serat hingga pakaian dapat berjalan dengan baik.

Hari Kapas Sedunia Bukan Sekadar Tentang Pakaian

Peringatan Hari Kapas Sedunia mengingatkan bahwa kapas tidak berhenti sebagai bahan pembuat pakaian.

Di balik sehelai kaus, kemeja atau celana berbahan katun, terdapat rantai panjang yang melibatkan petani, pekerja pengolahan serat, industri pemintalan, penenunan, perajutan, garmen hingga perdagangan.

PBB menyebut sektor kapas menopang kehidupan sekitar 32 juta petani dan memberi manfaat kepada lebih dari 100 juta keluarga di 80 negara. Karena itu, pengembangan sektor kapas juga berkaitan dengan penghidupan masyarakat dan perekonomian di berbagai negara.

Bagi Indonesia, Hari Kapas Sedunia dapat menjadi momentum untuk melihat kembali potensi kapas sebagai bahan baku industri sekaligus mengingat perjalanan panjang industri tekstil nasional.

Dari tanaman yang tumbuh di lahan pertanian, serat kapas kemudian dapat berubah menjadi benang, kain dan pakaian. Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa benda sederhana yang sehari-hari melekat di tubuh ternyata memiliki cerita ekonomi dan sejarah yang cukup panjang.

Editor
: Rizky Aisyah
Berita Terkait
Jangan Asal Lamar! Ini Perbedaan Freelance, Part Time dan Full Time
Ube Matcha Mendadak Viral, Ini Alasan Minuman Ungu-Hijau Bikin Penasaran
Harus Punya Ijazah atau Tidak? Ini Syarat Pendidikan Calon Presiden di Berbagai Negara
MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran, Ini 5 Fakta Menarik dalam Putusannya
Monza Sambu, Jejak Pakaian Bekas yang Jadi Bagian dari Wajah Kota Medan
Tulisan Sulit Dibaca Bukan Selalu Karena Malas, Bisa Jadi Ini Tanda Disgrafia