Topikseru.com - Berjalan menyusuri pusat Kota Medan, masyarakat mungkin sudah tidak asing dengan deretan bangunan tua di kawasan Kesawan dan sekitarnya. Fasad bergaya kolonial, pintu dan jendela besar, hingga ornamen yang berbeda dari bangunan modern menjadi pemandangan yang masih bertahan di tengah perkembangan kota.
Namun, bangunan-bangunan tersebut bukan sekadar latar foto. Di balik dindingnya tersimpan cerita tentang perdagangan, perkebunan, pemerintahan, hingga tokoh-tokoh yang ikut membentuk perkembangan Medan.
Kawasan Kesawan-Lapangan Merdeka sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah penting di Kota Medan. Cagar Budaya Medan mencatat kawasan ini memiliki lebih dari 200 bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari warisan arsitektur kota.
Baca Juga:
Berikut beberapa bangunan yang menarik untuk dikenali lebih dekat.
Rumah ini merupakan bekas kediaman Tjong A Fie, seorang pengusaha dan tokoh masyarakat Tionghoa yang memiliki pengaruh besar di Medan pada awal abad ke-20. Bangunannya memadukan unsur arsitektur Tionghoa, Melayu dan Eropa.
Menurut Dinas Pariwisata Medan, mansion tersebut dibangun pada 1895 dan memiliki luas lahan sekitar 8.000 meter persegi. Sejumlah bagian interior dan perabot lama masih dipertahankan hingga kini. Bangunan tersebut kemudian dibuka untuk umum sebagai museum.
Kehadiran Tjong A Fie juga berkaitan dengan perkembangan Kota Medan pada masa pertumbuhan perkebunan di Sumatera Timur. Ia dikenal tidak hanya sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai tokoh yang berkontribusi dalam pembangunan berbagai fasilitas di kota.
Bangunan ini menjadi salah satu penanda kuat kawasan Kesawan. Sejarahnya berkaitan dengan perkembangan industri perkebunan di Sumatera Timur yang turut mendorong pertumbuhan Medan sebagai pusat perdagangan.
Gedung tersebut dahulu berkaitan dengan perusahaan Harrison & Crossfield dan kemudian dikenal sebagai London Sumatra. Pemko Medan mencatat bangunan ini telah berdiri sejak awal abad ke-20 dan menjadi salah satu bangunan yang masih mempertahankan karakter arsitektur lamanya.
Menariknya, bangunan bersejarah ini bukan sekadar peninggalan masa lalu. Aktivitas perkantoran juga masih berlangsung di kawasan tersebut, sehingga sejarah dan kehidupan kota modern bertemu dalam satu tempat.
Namanya Warenhuis.
Bangunan yang berada di Jalan Hindu, kawasan Kesawan, ini dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan pertama di Medan. Dinas Pariwisata Medan mencatat pembangunan gedung dimulai pada 1916 dan diresmikan pada 1919.
Pada masa lalu, Warenhuis menjadi tempat masyarakat mendapatkan berbagai kebutuhan. Setelah melewati perjalanan panjang, bangunan tersebut direvitalisasi dan kembali digunakan sebagai ruang untuk kegiatan seni, budaya, kuliner dan ekonomi kreatif.
Kini, Warenhuis menjadi contoh bagaimana bangunan lama dapat diberi fungsi baru tanpa menghilangkan karakter sejarahnya.
Bangunan ini dahulu dikenal sebagai Gemeentehuis, atau kantor pemerintahan kota pada masa Hindia Belanda. Pemko Medan mencatat bangunan tersebut dibangun pada 1908 oleh biro arsitek Hulswit.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1913, bangunan ini mengalami renovasi dan ditambahkan jam besar di bagian atasnya. Jam tersebut merupakan sumbangan Tjong A Fie dan dahulu berbunyi setiap jam.
Keberadaan Balai Kota Lama menunjukkan bagaimana kawasan sekitar Lapangan Merdeka sejak dahulu telah menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan kehidupan perkotaan Medan.
Bangunan ini mulai dibangun pada 1909 dan selesai pada 1911. Letaknya yang berhadapan dengan Lapangan Merdeka membuatnya menjadi salah satu bagian penting dari wajah kawasan pusat kota lama.
Kantor pos pada masa itu bukan hanya tempat mengirim surat. Kehadirannya menjadi bagian dari perkembangan sistem komunikasi dan administrasi yang mengikuti pertumbuhan Medan sebagai kota perdagangan.
Dalam perkembangannya, bangunan Kantor Pos Medan juga pernah dimanfaatkan sebagai ruang kreatif dan UMKM melalui konsep Pos Bloc. Pemko Medan memperkenalkan bangunan tersebut sebagai salah satu bangunan bersejarah yang masih memiliki nilai penting bagi kawasan kota lama.
Deretan bangunan tua di Medan sebenarnya menceritakan lebih dari sekadar sejarah arsitektur. Keberadaannya berkaitan dengan perubahan Medan dari kawasan yang berkembang di sekitar perdagangan dan perkebunan menjadi kota besar seperti sekarang.
Kawasan Kesawan dan Lapangan Merdeka menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai perjalanan tersebut. Di sana, bangunan pemerintahan, pusat perdagangan, perbankan, rumah tokoh masyarakat hingga fasilitas publik tumbuh berdampingan.
Karena itu, ketika melewati bangunan-bangunan tua tersebut, masyarakat sebenarnya sedang melihat bagian dari perjalanan panjang Kota Medan.
Bangunan boleh berusia puluhan bahkan lebih dari seratus tahun, tetapi ceritanya masih dapat dibaca hingga hari ini.
Mungkin selama ini hanya terlihat sebagai gedung lama. Padahal, di balik temboknya ada cerita tentang bagaimana Medan tumbuh dan berubah dari masa ke masa.