Topikseru.com,
Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan awal pekan di zona negatif. Pelemahan indeks terjadi ketika pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang sejumlah agenda ekonomi penting, mulai dari keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) hingga transisi kepemimpinan di Bank Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Senin (27/7), IHSG terkoreksi 10,65 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,78. Sementara itu, indeks LQ45, yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid, turun 2,23 poin atau 0,36 persen menjadi 612,56.
Perdagangan berlangsung dengan tekanan sejak sesi pembukaan. IHSG sempat bergerak di bawah level penutupan sebelumnya dan tidak mampu keluar dari zona merah hingga akhir perdagangan.
Ketegangan Timur Tengah Mereda, Harga Minyak Ikut Turun
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan sentimen global sebenarnya mendapat dorongan positif setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Menurutnya, keputusan Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran, yang kemudian diikuti penghentian serangan balasan dari pihak Iran terhadap sekutu AS di kawasan, menjadi faktor yang menenangkan pasar energi global.
Meredanya konflik tersebut turut menekan harga minyak mentah dunia sehingga mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global.
Fokus Investor Beralih ke Keputusan The Fed
Meski sentimen geopolitik mulai membaik, perhatian investor kini beralih pada agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli 2026.
Hasil pertemuan tersebut akan menjadi acuan penting mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, yang diperkirakan memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain keputusan The Fed, pasar juga menunggu arah kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE), serta sejumlah data ekonomi penting seperti inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026, data durable goods orders, rapat Politbiro China, hingga indeks aktivitas manufaktur (PMI) Negeri Tirai Bambu.
Transisi Gubernur BI Jadi Sorotan Investor
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati dinamika di Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI.
Pemerintah telah menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI hingga gubernur definitif ditetapkan.
Menurut Nico, meski langkah tersebut bertujuan menjaga kesinambungan kebijakan moneter dan stabilitas pasar keuangan, sebagian investor masih menunggu kepastian mengenai arah kebijakan BI ke depan, termasuk aspek independensi bank sentral dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Mayoritas Sektor Masih Tertekan
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, hanya dua sektor yang berhasil ditutup di zona hijau.
Sektor industri menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 0,72 persen, disusul sektor teknologi yang naik 0,33 persen.
Sebaliknya, delapan sektor lainnya berakhir melemah. Penurunan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur yang turun 1,29 persen, diikuti sektor properti sebesar 0,75 persen dan sektor energi sebesar 0,66 persen.
Di jajaran saham, DMMX, BAJA, ZONE, TAMA, dan MCAS menjadi emiten dengan kenaikan terbesar. Sementara itu, KDTN, ARKO, MLPT, OMRE, dan OILS mencatat pelemahan paling dalam pada perdagangan hari ini.
Aktivitas Perdagangan Tetap Tinggi
Meski IHSG melemah, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap cukup ramai.
Total frekuensi perdagangan mencapai sekitar 1,79 juta transaksi dengan volume 26 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp12,12 triliun.
Secara keseluruhan, terdapat 318 saham menguat, 360 saham melemah, dan 287 saham ditutup stagnan.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa justru mengakhiri perdagangan dengan penguatan. Indeks Nikkei, Shanghai Composite, Hang Seng, Kospi, dan Straits Times sama-sama ditutup di zona hijau, mencerminkan optimisme investor terhadap perkembangan ekonomi global meski pasar Indonesia masih bergerak lebih hati-hati.
Berita Terkait