Kamis, 24 September 2026

Subsidi Biaya Cari Jodoh, Warga Usia 20-39 Tahun di Prefektur Koch-Jepang Diberi 20.000 yen atau Rp2,1 Juta

Agus Supratman - Rabu, 29 April 2026 07:00 WIB
Subsidi Biaya Cari Jodoh, Warga Usia 20-39 Tahun di Prefektur Koch-Jepang Diberi 20.000 yen atau Rp2,1 Juta
Jepang
Topikseru.com, Jakarta - Warga berusia 20 hingga 39 tahun Wilayah Pemerintah di Prefektur Koch, Jepang berhak menerima bantuan hingga 20.000 yen atau sekitar Rp 2,1 juta pada tahun fiskal 2026. Dana itu dapat digunakan untuk aplikasi yang telah menerima sertifikasi layanan pencarian pasangan berbasis internet. Langkah Jepang terus mencari cara untuk mengatasi krisis kelahiran yang kian serius. Salah satu daerah di negara tersebut kini mencoba taktik baru. Pemerintah di Prefektur Koch menawarkan uang kepada warganya yang masih lajang agar mau menggunakan aplikasi kencan, demi meningkatkan peluang menikah dan punya anak. Hal ini diumumkan pada bulan April 2026. Pemerintah mengatakan akan memberi subsidi biaya aplikasi perjodohan pribadi bagi warga muda. [irp posts="21025" ] Salah satu aplikasi yang diyakini masuk daftar tersebut adalah Tapple, aplikasi kencan populer di Jepang. Pada Desember 2025, Kochi juga bekerja sama dengan Tapple untuk mempromosikan kencan online yang aman. Tarif keanggotaan tahunan biasanya sedikit di atas 20.000 yen, jadi kami menetapkan jumlah tersebut untuk menutupi sebagian besar biaya," kata seorang pejabat prefektur kepada media lokal, dikutip dari South China Morning Post. Peserta program nantinya akan disurvei setelah satu tahun. Ini bertujuan untuk mengukur efektivitas kebijakan tersebut dan menjadi bahan evaluasi ke depannya. Prefektur Kochi bukan satu-satunya daerah yang mengambil langkah serupa. Tahun lalu, Prefektur Miyazaki juga memberikan subsidi aplikasi kencan hingga 10.000 yen atau sekitar Rp 1 juta per orang. Kebijakan ini menuai beragam respons di media sosial. Sebagian memuji langkah kreatif pemerintah daerah, tapi tak sedikit yang menilai masalah utamanya bukan sekadar sulit mencari pasangan. Para kritikus menyoroti hambatan lain seperti tekanan ekonomi, jam kerja panjang, serta mahalnya biaya membesarkan anak. Tren mencari pasangan lewat aplikasi memang semakin umum di Jepang. Survei pada tahun 2024 oleh Badan Anak dan Keluarga Jepang menemukan satu dari empat orang yang menikah di bawah usia 39 tahun bertemu pasangannya melalui aplikasi kencan. Internet kini menjadi tempat bertemu pasangan yang lebih umum, dibanding jalur tradisional seperti sekolah atau tempat kerja. Jepang sendiri menghadapi salah satu persoalan demografi paling serius di dunia. Masalah ini terasa lebih berat di wilayah pedesaan seperti Kochi, yang populasinya sekitar 650 ribu jiwa terus menurun karena anak muda pindah ke kota besar untuk mencari kerja dan pendidikan. Tahun lalu, Jepang mencatat sedikit di atas 700 ribu kelahiran, angka terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899. Jumlah kelahiran pada 2025 tercatat 705.809, turun 2,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini menjadi penurunan selama 10 tahun berturut-turut. Meski begitu, angka pernikahan menunjukkan kenaikan untuk tahun kedua berturut-turut. Tercatat ada 505.656 pernikahan tahun lalu, naik sebanyak 5.657 dibanding 2024. Pemerintah Jepang mengatakan akan terus menekan penurunan angka kelahiran dengan meningkatkan pendapatan anak muda serta membantu mereka menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan anak.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Ketegangan Selat Hormuz: Iran Tuntut AS Patuhi MoU Islamabad, Jepang Desak Hentikan Serangan
Bursa Asia Memerah di Perdagangan Senin (31/8/2026): Topix Melemah 0,84% dan Nikkei 225 Ditutup Turun 1,97%
Gelombang Panas Jepang Makin Ekstrem, 261 Orang Dirawat di Tokyo dan Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
Sindikat Love Scamming Medan Spesifik Targetkan Pria WN Jepang
Tipu Pria-pria Jepang Modus Love Scamming, 7 WNA serta 31 WNI Diamankan Imigrasi Medan dan Poldasu
Daftar 4 Tim Negara Gugur di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026