Topikseru.com - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Indonesia masih menjadi perhatian pemerintah di tengah kondisi cuaca panas dan musim kemarau. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa perubahan lingkungan, penurunan kualitas udara, hingga peningkatan polusi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memperbesar risiko gangguan pernapasan.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan kenaikan kasus ISPA tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan kemarau panjang. Data terbaru justru menunjukkan jumlah kunjungan pasien ISPA ke rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir mengalami kecenderungan menurun.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan ISPA merupakan penyakit yang muncul sepanjang tahun dengan pola yang dapat dipengaruhi perubahan musim dan kondisi lingkungan.
"Kasus ISPA setiap tahunnya semakin meningkat dan terjadi sepanjang tahun, dimulai dari peralihan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya," ujar Aji dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).
Kasus ISPA 2026 Capai 15,6 Juta
Berdasarkan data Kemenkes, jumlah kasus ISPA yang tercatat hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 15,6 juta kasus.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 15,4 juta kasus.
Namun, Kemenkes meminta angka tersebut tidak langsung dimaknai sebagai dampak kemarau atau cuaca panas. Sebab, kasus ISPA dipengaruhi berbagai faktor dan memiliki pola tahunan.
"Namun kita perlu hati-hati, karena tidak semua kasus ISPA bisa langsung dikaitkan dengan kemarau panjang. Jadi kita terus pantau trennya dan distribusinya," kata Aji.
Menurut Kemenkes, provinsi di Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling banyak melaporkan kasus ISPA. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan tingginya kepadatan penduduk.
Dengan demikian, tingginya laporan ISPA tidak otomatis menunjukkan wilayah yang paling terdampak karhutla sebagai daerah dengan kasus terbanyak.
Polusi Udara Jadi Faktor yang Perlu Diwaspadai
Kaitan antara musim kemarau dan peningkatan kasus ISPA, menurut Kemenkes, lebih banyak terlihat melalui perubahan kualitas udara.
Saat kondisi kering berlangsung, potensi kebakaran hutan dan lahan dapat meningkat. Asap hasil pembakaran kemudian menghasilkan berbagai polutan yang dapat menurunkan kualitas udara.
Salah satu indikator penting kualitas udara yang menjadi perhatian adalah particulate matter (PM) 2,5.
Aji menjelaskan, ketika konsentrasi polutan meningkat dan kualitas udara memburuk, risiko gangguan saluran pernapasan juga dapat ikut meningkat.
"Apabila kualitas udara menurun maka angka kejadian ISPA meningkat," tuturnya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan informasi kualitas udara, terutama ketika terjadi kabut asap, peningkatan debu, maupun aktivitas pembakaran yang berpotensi meningkatkan paparan polutan.
Kunjungan Pasien ISPA di Rumah Sakit Justru Menurun
Di tengah perhatian terhadap kasus ISPA nasional, Kemenkes mencatat perkembangan berbeda pada data kunjungan rumah sakit.
Sepanjang Januari-Juli 2026, jumlah kunjungan pasien ISPA di rumah sakit tercatat mencapai 676.404 kunjungan.
Rata-rata perubahan kunjungan pasien ISPA pada periode tersebut justru mengalami penurunan sekitar 0,6 persen.
Aji mengatakan, apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya, tren kasus ISPA dalam tiga minggu terakhir juga cenderung menurun.
Data tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah menilai situasi ISPA masih mengikuti pola tahunan dan belum dapat disimpulkan sebagai lonjakan yang semata-mata disebabkan kondisi kemarau.
Anak-anak dan Lansia Diminta Lebih Waspada
Meski tren kunjungan rumah sakit cenderung menurun, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas dan kualitas udara buruk.
Kondisi panas dan kering tidak hanya meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Paparan suhu tinggi juga dapat menyebabkan dehidrasi hingga heat stroke.
Sementara itu, debu, asap rokok, polusi udara, dan asap karhutla berpotensi memperburuk kondisi orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan atau penyakit penyerta.
Kelompok yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta.
"Kita ingin pelayanan kesehatan tetap siap sebelum terjadi peningkatan kasus, bukan baru bertindak setelah rumah sakit penuh," ujar Aji.
Ini Langkah Kemenkes Hadapi Dampak Kemarau
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat cuaca panas dan musim kemarau, Kemenkes telah meminta fasilitas pelayanan kesehatan tetap dalam kondisi siap.
Rumah sakit, termasuk rumah sakit vertikal milik Kemenkes, disiapkan untuk menangani kondisi kegawatdaruratan seperti heat stroke, gangguan pernapasan, serta memburuknya penyakit kronis yang dapat dipicu cuaca panas dan kualitas udara.
Tenaga kesehatan serta fasilitas pendukung juga disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi kesiapsiagaan pemerintah menghadapi perubahan kondisi cuaca dan potensi penurunan kualitas udara.
Kemenkes Bagikan Cara Mencegah ISPA
Masyarakat juga dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko terkena ISPA, khususnya ketika kualitas udara sedang buruk.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
- Menggunakan masker ketika polusi udara meningkat.
- Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
- Menghindari asap rokok dan sumber polusi lainnya.
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk.
- Menutup ventilasi rumah, kantor, sekolah, atau tempat umum ketika polusi udara tinggi.
- Menggunakan penjernih udara di dalam ruangan jika diperlukan.
- Memantau informasi kualitas udara dan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas luar ruangan.
Kemenkes menekankan bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan ketika kasus ISPA meningkat. Kesiapsiagaan dan perubahan perilaku masyarakat diperlukan untuk mengurangi risiko paparan polusi dan gangguan kesehatan akibat kondisi cuaca ekstrem.
Dengan jumlah kasus ISPA yang mencapai 15,6 juta hingga Agustus 2026, pemerintah masih terus memantau perkembangan penyakit tersebut.
Namun, data kunjungan rumah sakit yang menurun menunjukkan bahwa kondisi saat ini belum dapat disimpulkan sebagai lonjakan ISPA akibat kemarau panjang.
Berita Terkait