Topikseru.com,
Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin. Rupiah ditutup di level Rp17.810 per dolar AS, menguat 87 poin atau sekitar 0,49 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.897 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda tersebut terjadi ketika sejumlah indikator eksternal mulai memberikan ruang bagi aset negara berkembang, termasuk rupiah.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan salah satu faktor yang menopang rupiah adalah posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang masih relatif kuat.
"Rupiah masih mendapat dukungan dari kondisi cadangan devisa yang relatif kuat," ujar Amru kepada ANTARA di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Cadangan Devisa Indonesia Capai US$145,3 Miliar
Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di level US$145,3 miliar.
Angka tersebut memang sedikit menurun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai US$145,6 miliar. Namun, level cadangan devisa yang masih tinggi dinilai memberikan bantalan bagi stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut Amru, posisi cadev tersebut memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat di pasar valuta asing.
Intervensi tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar, terutama ketika terjadi perubahan sentimen investor terhadap dolar AS maupun aset pasar negara berkembang.
Meski demikian, penurunan cadangan devisa juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih perlu diperhatikan.
Dolar AS Melemah, Rupiah Mendapat Angin Segar
Dari pasar global, pergerakan rupiah turut mendapat dukungan dari melemahnya indeks dolar AS.
Indeks dolar AS tercatat berada di level 99,6, yang merupakan posisi terendah sejak awal Juni.
Pelemahan dolar tersebut terjadi setelah data pasar tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang lebih lemah. Perkembangan itu kemudian meningkatkan ekspektasi pelaku pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed).
Jika ekspektasi penurunan suku bunga AS semakin menguat, daya tarik dolar berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk mengalami apresiasi, termasuk rupiah.
Inflasi AS Jadi Penentu Arah Rupiah
Perhatian pasar kini beralih pada data inflasi AS yang akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan The Fed.
Data inflasi tersebut akan menjadi pertimbangan investor dalam memperkirakan keputusan bank sentral AS pada pertemuan September 2026.
Amru mengatakan terdapat dua skenario utama yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah.
"Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan mendorong penguatan dolar AS," jelasnya.
Dengan demikian, data inflasi AS menjadi katalis penting yang perlu dicermati pelaku pasar dalam jangka pendek.
Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas
Melihat kombinasi faktor domestik dan global tersebut, rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Namun, ruang apresiasi diperkirakan tidak terlalu besar karena pasar masih menghadapi sejumlah risiko eksternal.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Jika inflasi AS berada di bawah ekspektasi pasar, peluang penguatan rupiah dapat semakin terbuka. Pasalnya, data tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed dan menekan nilai dolar AS.
Sebaliknya, apabila inflasi AS kembali lebih tinggi dari perkiraan, investor berpotensi kembali memburu dolar sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Pergerakan rupiah ke depan karena itu akan sangat bergantung pada kombinasi kekuatan fundamental domestik, kebijakan Bank Indonesia, serta arah kebijakan moneter AS.
Berita Terkait