Rabu, 23 September 2026

Ketika MBG Sampai di Meja Anak, Negara Juga Harus Mendengar

Muchlis - Senin, 17 Agustus 2026 22:13 WIB
Ketika MBG Sampai di Meja Anak, Negara Juga Harus Mendengar
Siswa menerima makanan dalam program Makan Bergizi Gratis MBG di sekolah
Oleh : Gadis Anastasia Medan - Seporsi makanan yang diberikan kepada seorang anak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya tidak berhenti pada persoalan apakah makanan itu mengandung cukup nutrisi. Di balik satu kotak makanan, ada tanggung jawab negara, kepercayaan orang tua, serta harapan agar anak-anak Indonesia memperoleh asupan yang aman dan layak. Karena itu, dugaan gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, setelah menyantap makanan MBG perlu dilihat lebih luas. Bukan semata soal apa yang menyebabkan mereka sakit, yang saat ini masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: seberapa jauh sistem MBG mampu mendengar pengalaman anak-anak sebagai penerima manfaat? Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Berdasarkan data awal Cabang Dinas Pendidikan Sumatera Utara, sebanyak 202 siswa SMA Negeri 1 Berastagi terdampak. Jika ditambah siswa dari SMA Swasta Bersama dan SMK Swasta Bersama, jumlahnya mencapai 265 siswa. Dua sekolah tingkat SMP yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama juga dilaporkan mengalami kejadian serupa. Sejumlah siswa mengeluhkan gatal pada mulut, rasa getir, gatal pada kulit hingga sesak dan kemudian mendapatkan penanganan medis. Namun, satu hal harus ditegaskan: keluhan tersebut belum otomatis membuktikan bahwa makanan MBG menjadi penyebab keracunan. Penyebab pastinya tetap membutuhkan pemeriksaan medis dan laboratorium. Justru di tengah proses tersebut, ada persoalan yang layak mendapat perhatian: suara siswa.

Ketika Siswa Mengatakan Makanan Terasa Berbeda

Beredar kesaksian seorang siswa yang menyebut adanya pemberitahuan agar makanan tidak dikonsumsi apabila dirasakan tidak nyaman. Kalimat semacam itu sekilas terdengar sebagai bentuk kehati-hatian. Tetapi dalam perspektif keamanan pangan, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: setelah seorang siswa merasakan sesuatu yang tidak biasa pada makanan, apa yang dilakukan sistem? Bau yang berbeda, rasa getir, tekstur yang berubah atau sensasi tidak lazim memang tidak dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa makanan telah tercemar. Tetapi pengalaman inderawi penerima makanan tetap dapat menjadi sinyal awal yang patut diperiksa. Anak-anak merupakan pihak yang membuka kotak makanan, melihat tampilannya, mencium aromanya dan merasakan makanan tersebut. Mereka juga yang pertama kali dapat menyadari apabila sesuatu terasa berbeda. Karena itu, pengalaman mereka semestinya tidak ditempatkan di luar mekanisme pengawasan.

MBG Bukan Sekadar Program Membagikan Makanan

Persoalan ini menjadi semakin penting karena MBG merupakan program yang membawa kehadiran negara langsung ke ruang kehidupan masyarakat. Biasanya negara hadir melalui kantor pemerintahan, peraturan, anggaran dan birokrasi. Dalam program Makan Bergizi Gratis, kehadiran itu menjadi jauh lebih konkret. Negara hadir dalam bentuk makanan yang diletakkan di meja seorang anak. Di sana terbentuk rantai kepercayaan. Pemerintah menyediakan program. SPPG menyiapkan makanan. Sekolah menjadi tempat distribusi. Anak menerima dan mengonsumsi. Sementara orang tua memberikan kepercayaan kepada seluruh proses tersebut. Maka ketika muncul dugaan gangguan kesehatan, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi fisik siswa. Kepercayaan masyarakat terhadap program MBG juga ikut dipertaruhkan.

Makanan Bergizi Harus Sekaligus Aman

Program makanan bergizi tentu memiliki tujuan sosial yang penting. Namun, ukuran keberhasilan MBG tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak porsi makanan yang berhasil didistribusikan setiap hari. Ada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah makanan tersebut aman? Apakah proses pengolahannya memenuhi standar? Apakah bahan baku disimpan dengan benar? Apakah kualitas air dan kebersihan dapur terjamin? Apakah makanan dikemas dan didistribusikan dalam kondisi yang sesuai? Dan ketika muncul keluhan, apakah terdapat mekanisme yang memungkinkan laporan tersebut segera diperiksa? Sebab makanan bergizi tetapi tidak aman tidak dapat disebut sebagai keberhasilan program. Keamanan pangan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemenuhan gizi.

Jangan Menunggu Anak Sakit untuk Menemukan Masalah

Pelajaran penting dari kasus dugaan keracunan MBG di Berastagi adalah perlunya memperkuat sistem pencegahan. Jangan sampai tubuh anak menjadi semacam "sensor terakhir" keamanan pangan. Sistem seharusnya mampu menemukan potensi masalah sebelum makanan dikonsumsi. Pengawasan perlu dimulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, kebersihan dapur, kualitas air, pengemasan hingga distribusi ke sekolah. Namun apabila siswa tetap menemukan sesuatu yang dianggap tidak normal, laporan mereka juga harus memiliki jalur yang jelas. Misalnya, sekolah dapat memiliki mekanisme sederhana untuk mencatat keluhan siswa, menghentikan sementara distribusi makanan yang dicurigai bermasalah, serta segera meneruskan informasi kepada pihak terkait untuk pemeriksaan. Dengan demikian, siswa bukan hanya menjadi objek penerima manfaat, tetapi juga bagian dari sistem pengawasan.

Suara Anak Bisa Menjadi Informasi Awal

Dalam perspektif antropologi pangan, manusia tidak berhubungan dengan makanan hanya berdasarkan kandungan gizinya. Bau, rasa, warna, tekstur, kebiasaan makan dan pengalaman sebelumnya ikut membentuk cara seseorang mengenali makanan. Itu sebabnya pengalaman seorang siswa ketika menemukan makanan yang terasa berbeda tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti keracunan. Tetapi pengalaman tersebut juga tidak seharusnya diabaikan. Posisinya adalah informasi awal yang perlu diverifikasi. Di sinilah kebijakan publik dituntut tidak hanya bergerak dari atas ke bawah. Pemerintah memang memiliki regulasi dan standar. Pengelola SPPG menjalankan prosedur. Namun penerima manfaat memiliki pengalaman langsung yang tidak selalu tertangkap dalam laporan administratif. Jika pengalaman itu didengar dan ditindaklanjuti, sistem pengawasan dapat menjadi lebih responsif.

Kasus Berastagi Tak Boleh Jadi Alasan Menggeneralisasi MBG

Kasus di Berastagi juga tidak semestinya langsung dijadikan kesimpulan bahwa seluruh program MBG bermasalah. Program berskala nasional dengan jumlah penerima yang besar tentu menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya. Satu kejadian harus diperiksa secara objektif untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Tetapi justru karena MBG merupakan program besar, standar pertanggungjawabannya harus semakin tinggi. Evaluasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang melakukan kesalahan. Yang lebih penting adalah bagaimana sistem memastikan kesalahan serupa tidak terulang.

Lima Hal yang Perlu Diperkuat

Ada setidaknya lima hal yang menjadi pelajaran dari kasus dugaan keracunan MBG di Berastagi. Pertama, keamanan pangan harus sejajar dengan pemenuhan gizi. Label "bergizi" tidak boleh membuat aspek keamanan makanan terabaikan. Kedua, sekolah membutuhkan saluran pengaduan yang cepat dan sederhana. Siswa maupun guru harus mengetahui ke mana mereka melapor ketika menemukan makanan yang dianggap tidak normal. Ketiga, pengalaman penerima manfaat perlu masuk dalam evaluasi. Pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan laporan dari dapur penyedia. Pengalaman siswa, guru dan orang tua juga penting. Keempat, transparansi ketika terjadi insiden harus diperkuat. Masyarakat perlu mendapatkan informasi mengenai jumlah siswa terdampak, penanganan, hasil pemeriksaan serta langkah pencegahan berikutnya. Kelima, pengawasan harus lebih preventif. Jangan menunggu anak-anak mengalami gejala terlebih dahulu baru kemudian sistem keamanan pangan diperiksa.

Negara Hadir Bukan Hanya dengan Memberi

Pada akhirnya, kasus MBG di Berastagi bukan sekadar cerita mengenai nasi, lauk, sayur atau sebuah dapur penyedia makanan. Ini juga merupakan cerita mengenai hubungan negara dengan masyarakat. Ketika makanan atas nama negara sampai ke tangan seorang anak, yang ikut sampai sebenarnya adalah tanggung jawab. Ada harapan orang tua. Ada kepercayaan masyarakat. Ada janji mengenai kesehatan. Dan ada masa depan generasi yang sedang tumbuh. Karena itu, ketika seorang anak mengatakan makanan terasa janggal atau tubuhnya mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa, suara tersebut tidak semestinya tenggelam di tengah prosedur birokrasi. Penyebab pasti kasus Berastagi masih harus menunggu hasil pemeriksaan. Tidak tepat mengambil kesimpulan sebelum bukti ilmiah tersedia. Namun satu pelajaran dapat diambil sekarang: Kebijakan publik yang baik bukan hanya mampu memberi, tetapi juga mampu mendengar. MBG harus bergizi. MBG harus aman. Dan yang tidak kalah penting, MBG harus memiliki sistem yang mendengar suara anak-anak yang menjadi alasan utama program tersebut hadir. Gadis Anastasia, M.Si Dosen Pendidikan Antropologi Unimed
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
BGN Tutup Permanen Dapur SPPG Karo usai Keracunan 353 Siswa, Ini Alasannya
Dirujuk ke RSCM Jakarta, Dua Korban Keracunan MBG Karo Diberangkatkan Bobby Nasution
LBH Medan Desak MBG Dihentikan: Puluhan Ribu Anak Keracunan, Korban Alami Hilang Ingatan
BGN Larang Susu Kental Manis di Menu MBG
Korupsi Makan Bergizi Gratis: Kejagung Sita Rp 8,4 M, Dolar Tertimbun di Pikap
566 Santri Diduga Keracunan MBG di Sidoarjo, Kini Tinggal 34 yang Dirawat