Topikseru.com,
Sidoarjo - Kondisi ratusan santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengalami dugaan keracunan makanan mulai membaik.
Dari total 566 santri yang sempat mengalami berbagai keluhan kesehatan, kini hanya 34 orang yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan seluruh santri yang masih dirawat berada dalam kondisi baik. Puluhan santri tersebut kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo.
"Tinggal 34 santri yang masih dirawat di RSI Siti Hajar. Semua sudah dalam keadaan membaik dan sehat," kata Subandi seusai mengunjungi para korban di RSI Siti Hajar, Rabu (2/9/2026).
Menurut Subandi, ke-34 santri tersebut diperkirakan sudah dapat meninggalkan rumah sakit pada Kamis pagi.
Lima Santri Terakhir di RSUD Notopuro Sudah Pulang
Perkembangan positif juga terjadi di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Subandi mengatakan seluruh santri yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut telah diperbolehkan pulang.
Lima santri yang keluar pada Rabu sore menjadi pasien terakhir dari kelompok korban dugaan keracunan MBG yang dirawat di RSUD Notopuro.
"Tersisa 34 santri yang sedang dirawat di RSI Siti Hajar saja. Selain itu semua sudah pulang," ujar Subandi.
Dengan demikian, dari ratusan santri yang sebelumnya memenuhi sejumlah fasilitas kesehatan, sebagian besar kini telah kembali ke rumah masing-masing.
Berawal dari Dugaan Keracunan Usai Santap MBG
Kasus tersebut terjadi setelah para santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam menyantap makanan yang didistribusikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026).
Para santri dilaporkan mengalami sejumlah gejala, mulai dari mual, sakit perut hingga tubuh terasa lemas.
Penanganan kemudian dilakukan dengan membawa para santri ke sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo.
Jumlah korban yang terdata kemudian mencapai 566 santri.
Namun, dugaan keracunan tersebut ternyata tidak hanya terjadi di Pondok Pesantren Manba'ul Hikam.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak sebelumnya menyebut kejadian serupa terjadi di 18 lembaga pendidikan di wilayah Sidoarjo.
Para penerima manfaat di sejumlah lembaga pendidikan tersebut diketahui mengonsumsi makanan yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanggulangin Kali Tengah pada hari yang sama.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Kasus dugaan keracunan massal tersebut kemudian membuat Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah terhadap SPPG yang memasok makanan.
Pada Rabu siang, BGN menerbitkan surat penghentian sementara atau suspend berat terhadap operasional SPPG Tanggulangin Kali Tengah.
Penghentian tersebut dilakukan sembari proses pemeriksaan untuk mencari penyebab munculnya gangguan kesehatan pada penerima manfaat MBG.
Dengan langkah itu, distribusi makanan dari SPPG terkait dihentikan sementara sampai proses evaluasi dan pemeriksaan selesai.
Hasil Laboratorium Jadi Penentu
Meski ratusan santri mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat disimpulkan.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat.
Menurut Teguh, hasil uji laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui paling cepat sekitar satu minggu.
Artinya, dugaan terhadap jenis makanan atau bahan tertentu yang menjadi penyebab gangguan kesehatan belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dalam mengungkap apakah gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi atau faktor lainnya.
Mayoritas Korban Sudah Pulih
Perkembangan kondisi para santri menunjukkan sebagian besar korban telah pulih setelah mendapatkan penanganan medis.
Dari 566 santri yang sebelumnya mengalami gejala, kini tinggal 34 orang yang masih menjalani perawatan di RSI Siti Hajar.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus memantau kondisi para santri sekaligus menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
Kasus ini juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, terutama terkait pengawasan proses pengolahan, distribusi, dan keamanan makanan sebelum sampai kepada penerima manfaat.
Hingga hasil laboratorium keluar, pemerintah masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab dugaan keracunan massal yang terjadi di sejumlah lembaga pendidikan di Sidoarjo.
Berita Terkait