Sabtu, 26 September 2026

Dari Hutan ke Pasar: Kelompok Tani Nipah di Langkat Ubah Tumbuhan Liar Jadi Sumber Ekonomi Baru

Administrator - Kamis, 09 Oktober 2025 15:54 WIB
Dari Hutan ke Pasar: Kelompok Tani Nipah di Langkat Ubah Tumbuhan Liar Jadi Sumber Ekonomi Baru
Kelompok Tani Nipah
Topikseru.com - Di tengah rimbunnya kawasan hutan Kuala Serapuh, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sekelompok warga desa diam-diam menumbuhkan harapan baru dari sebuah tumbuhan yang kerap terabaikan, yakni nipah. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani (KT) Nipah, kelompok dampingan Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial seluruh Indonesia (AP2SI) Sumatera Utara, yang kini mengelola kawasan hutan dalam skema Perhutanan Sosial. Melalui program ini, warga desa bukan hanya menjaga hutan dari kerusakan, tapi juga mengubah hasil hutan menjadi sumber ekonomi berkelanjutan.

Nipah, Tumbuhan Hutan yang Jadi Penopang Ekonomi

[caption id="attachment_24129" align="alignnone" width="1600"]Kelompok Tani Nipah Kawasan hutan Kuala Serapuh, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto: Dok.AP2SI[/caption] Tumbuhan nipah yang dulunya dianggap liar dan tak bernilai, kini justru menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Kuala Serapuh. Setiap hari, anggota KT Nipah memanen pucuk nipah basah yang kemudian dijual ke pengepul untuk diolah lebih lanjut. Tahun ini saja, kelompok tersebut telah memproduksi hingga 250 ton pucuk nipah basah, angka yang menunjukkan potensi besar dari hasil hutan bukan kayu ini. "Tumbuhan nipah punya banyak potensi ekonomi. Hanya saja, masyarakat belum sampai pada tahap pengolahan produk turunannya," ujar Hans Tarigan, Sekretaris AP2SI Sumut, saat ditemui di kantor AP2SI, Jalan Bunga Cempaka, Medan Selayang, Kamis (9/10/2025).

Potensi Produk Turunan Nipah

Hans menjelaskan bahwa sebenarnya tumbuhan nipah dapat diolah menjadi beragam produk bernilai tinggi, mulai dari daun, buah hingga lidi, antara lain:
  • Daun nipah: digunakan untuk pembungkus rokok tradisional,
  • Buah nipah: dapat diolah menjadi sirup atau bahan pangan fermentasi alami,
  • Lidi nipah: bisa dijadikan produk kerajinan tangan, seperti anyaman dan suvenir.
Namun, Hans mengakui bahwa kendala terbesar saat ini adalah penguatan kelompok dan akses permodalan. "Kami masih berupaya memperkuat kapasitas masyarakat agar bisa menjaga hutan sambil memproduksi nilai ekonomi. Tapi, tanpa dukungan modal, sulit untuk naik kelas ke produksi turunan," katanya.

Dorongan Dukungan dari Pemerintah dan Perusahaan

Untuk mengatasi hambatan tersebut, AP2SI Sumut kini aktif mencari dukungan dari pemerintah daerah dan sektor swasta agar dapat membantu kelompok tani melalui skema permodalan atau kemitraan berkelanjutan. Menurut Hans, kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan agar produk turunan nipah bisa dikembangkan menjadi komoditas unggulan lokal Sumatera Utara, terutama dalam konteks ekonomi hijau dan pemberdayaan masyarakat hutan. "Kami ingin agar masyarakat di sekitar kawasan hutan tidak hanya menjaga, tapi juga menikmati hasilnya secara adil dan berkelanjutan," ujarnya.

Tentang AP2SI: Jembatan Rakyat dan Hutan

Sebagai organisasi pendamping, AP2SI Sumut berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan perhutanan sosial, yakni program nasional yang memberi akses legal bagi warga untuk mengelola kawasan hutan secara lestari. Melalui program ini, kelompok seperti KT Nipah tidak lagi dipandang sebagai perambah, melainkan penjaga hutan sekaligus pelaku ekonomi hijau.

Sumber
:
Berita Terkait
Enam Daerah di Sumut Diterjang Banjir, Langkat Terdampak Paling Parah
Realisasi PAD Langkat Baru 22,14 Persen hingga Juli 2026, Pajak Daerah Jadi Penyumbang Terbesar
Banjir Bandang Terjang Desa Pekubuan Langkat, Warga Mengungsi di Aula Tanpa Dinding: “Kami Tidur Tanpa Alas”
Nelayan di Langkat Menjerit Tak Bisa Melaut: Harga LPG Subsidi Tembus Rp 50 Ribu dan Pertalite Rp 15 Ribu Per Liter
Dua Desa di Langkat Terisolasi Akibat Banjir Bandang, Warga Krisis Logistik dan Energi
Rutan Pangkalan Berandan Terendam Banjir, 433 Narapidana Direlokasi ke UPT Lain